
Bu Shella datang bersama beberapa pegawainya. Dia datang sebagai pemilik Mall Raya yang akan bekerja sama dengan perusahaan Dicko.
"Selamat sore, pak Dicko," ucap bu Shella sambil mengulurkan tangan pada Dicko.
"Selamat sore. Kalian siapa?" tanya Dicko sambil menjabat tangan bu Shella.
"Saya Shella, pimpinan baru Mall Raya."
Dicko terkejut mendengar perkenalan wanita dihadapannya itu. Dicko melihat ke arah Mala yang tersenyum dan mengedipkan matanya.
"Oh... ibu. Ibu Shella?" kata Dicko sambil tersenyum.
"Bagaimana keadaan nyonya Dicko," tanya bu Shella.
Tapi dia kaget ketika melihat nyonya Dicko ternyata wanita yang pernah ditemuinya di mall kemarin.
"Oh hai, ini nyonya Dicko. Mala kan? Kemarin kita udah ketemu ya?" kata bu Shella.
"Benar," jawab Mala.
Tak berapa lama, dering telepon bu Shella berbunyi. Dia segera bergegas pamit untuk pergi mengangkat telepon. Sementara staf lain berbasa-basi berbincang dengan Dicko.
Ketika sedang asyik berbincang terdengar suara teriakan dari bu Shella. Semua mata menoleh ke arahnya. Salah seorang staf mendekati bu Shella. Terlihat mereka sedang berbincang serius. Lalu staf itu datang kembali dan mengajak seluruh staf lain untuk pergi.
Mereka berpamitan pada Dicko dan Mala sebelum mereka pergi. Mereka terkesan menghormati Dicko dan Mala lebih dari sebelumnya.
Bu Shella berjalan mendekati Mala yang masih terbaring lemah. Terlihat disudut matanya ada butiran air yang mengalir perlahan. Dia berdiri di samping ranjang dan menatap Mala dengan tatapan sedih.
Tiba-tiba, kaki bu Shella terasa lemas. Dia jatuh terduduk dilantai dan menangis pelan. Dicko dan Mala kaget melihat kejadian itu.
"Mas," kata Mala meminta suaminya membantu bu Shella.
"Ibu, ada apa. Aku bantu bangun ya?" kata Dicko sambil memegangi tangan bu Shella.
"Tidak, putriku," ucap bu Shella lirih.
"Maksud bu Shella apa?" tanya Dicko.
__ADS_1
"Meskipun dia sudah tahu bahwa aku adalah ibu kandungnya, kenapa dia tidak memberitahuku? Apakah istrimu sangat membenciku?" tanya bu Shella.
"Jadi Bu Shella sudah tahu?" tanya Dicko penasaran.
"Barusan, kakakku memberitahuku jika anak kandungku masih hidup. Dan dia memberiku sebuah foto. Dia menceritakan semuanya. Termasuk jika Mala sudah tahu aku ini kandungnya."
Dicko menoleh kearah Mala yang tertunduk lesu. Mala tidak tahu harus bagaimana menghadapi ibunya. Dia memang ibu kandungnya, akan tetapi Mala merasa dia seperti orang asing.
"Ibu, sejak awal perkenalan kita, aku sudah memanggilmu ibu. Meski ibu tidak menyadarinya, tetapi bagi Dicko ibu sudah aku anggap sebagai mertua," kata Dicko memberi semangat pada ibu mertuanya.
"Ibu sadar, Mala pasti sangat syok saat tahu bahwa orangtuanya yang sekarang bukanlah orangtua kandungnya."
"Ibu, Mala tidak pernah membenci ibu. Cobalah bicara padanya. Dia wanita yang sangat baik. Mala juga pasti sangat menyayangi ibu."
Dicko membantu ibu mertuanya berdiri dan berdiri di samping tempat tidur Mala. Matanya berkaca-kaca. Ingin sekali dia memeluk wanita yang ada di hadapannya.
Dicko mendekati Mala dan memegang tangannya menyalurkan energi untu Mala agar bisa menerima keberadaan ibu kandungnya. Mala menghela nafas panjang, sampai akhirnya dia berhasil menguasai kegalauan hatinya.
"Ibu..."
Bu Shella terkejut tetapi juga senang mendengar Mala memanggilnya ibu.
"Ibu..."
Bu Shella langsung memeluk tubuh Mala yang masih lemah. Dia menciumi wajah putrinya hingga Mala merasa geli. Dia bukan lagi anak kecil, tetapi dia sudah dewasa sekarang. Tetapi ibunya memperlakukannya seperti anak-anak.
"Ibu, Mala sedang hamil?" kata Dicko melihat ibu mertuanya terlalu bersemangat.
"Hampir lupa. Maafkan ibu. Ibu terlalu senang bertemu denganmu, putriku. Dicko kamu pulanglah, biar ibu yang menjaga Mala," pinta bu Shella.
Dicko tersenyum dan memahami apa yang di inginkan ibu mertuanya. Dia pasti ingin sekali melepaskan rasa rindunya dan juga keinginan seorang ibu untuk menjaga putrinya saat dibutuhkan.
"Baiklah ibu, saya akan serahkan Mala pada ibu. Mala, berilah kesempatan pada ibumu untuk menunjukkan perasaannya padamu. Biarkan semua mengalir apa adanya."
"Iya mas. Mala mengerti. Jika nanti Gala ingin bertemu aku, besok saja mas. Kamu pasti sudah lelah, jadi istirahatlah di rumah," kata Mala.
"Gala? siapa dia?" tanya bu Shella.
__ADS_1
"Itu cucu ibu. Kapan-kapan kita kumpul bersama. Biar ibu lebih mengenal dia," jawab Dicko.
"Ibu sangat senang sekali, ternyata ibu sudah memiliki cucu dan juga calon cucu kedua. Ibu ingin memberikan kasih sayang ibu yang selama ini tidak kamu dapatkan dariku Mala," kata sang ibu.
"Dicko pergi dulu ibu, Mala."
Dicko melangkah pergi meninggalkan ibu dan anak itu, untuk bisa mengenal lebih dekat. Sebenarnya mereka saling merindukan hanya mereka merasa sungkan dan enggan mengakui.
"Mala, maafkan ibu. Selama 25 tahun hidupmu pasti sangat menderita. Ibu yang salah, tidak bisa melindungi mu," ucap sang ibu sedih.
"Ibu tidak perlu minta maaf. Mala tahu ibu pasti sangat kesulitan kala itu. Lagipula ada ayah dan ibu Sri. Mereka merawatku dengan baik."
"Syukurlah. Mereka tidak menuruti keinginan mamaku untuk membuang atau menyerahkan kamu ke panti asuhan. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka dan mengucapkan terimakasih," kata bu Shella sambil menghela nafas.
"Kapan-kapan Mala akan membawa ibu ke kampung nelayan. Tempat tinggal Mala selama ini. Disana tempatnya sangat indah. Ibu pasti akan sangat suka ke sana," kata Mala sambil tersenyum.
"Ibu jadi pingin segera ke sana," ucap bu Shella.
Mereka berdua sudah semakin akrab dan dekat. Mereka berbincang-bincang sambil sesekali tertawa dan saling melemparkan senyum. Saat mereka sedang asyik berbincang, datanglah keluarga Lilis menjenguk Mala.
Ternyata mereka datang sekeluarga. Termasuk juga pak Reno. Semua segera mendekati Mala yang sedang terbaring dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum," ucap Lilis.
"Wa'alaikum salam," jawab Mala dan bu Shella hampir bersamaan.
"Mbak Mala, bagaimana keadaan mbak Mala dan bayinya. Baik-saja saja bukan?" tanya Lilis.
"Tante Mala..." teriak Dodi.
"Dodi..." kata Lilis melarang Dodi banyak bicara.
"Aku baik-baik saja. Dodi, Tante kangen sama Dodi," jawab Mala.
Namun diantara mereka tidak ada yang mengira jika pak Reno dan bu Shella yang tidak sengaja bertemu, mereka pura-pura tidak saling mengenal. Tatapan pak Reno penuh amarah karena selama hidupnya tidak bisa melihat anaknya.
Seandainya dulu, keluarga Shella membiarkan dia menikahi Shella tentu semua tidak akan jadi seperti ini.
__ADS_1
"Lilis, perkenalkan ini ibu kandung aku. Kami baru saja bertemu," kata Mala memperkenalkan bu Shella adalah ibunya agar ibunya tahu bahwa dia sudah bisa menerima keberadaan bu Shella.
"Apa, wanita itu ibumu Mala?" tanya pak Reno tidak percaya karena setahu dia putrinya sudah meninggal 25 tahun yang lalu.