Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Kesembuhan Andra


__ADS_3

Perlakuan istimewa Mala akhirnya membuat Mala harus bertanya pada Andra. Saat Mala selesai membantu Andra makan, Mala membawa Andra untuk berjalan-jalan di taman samping rumah Andra.


"Andra, apa tidak sebaiknya, aku pindah kamar saja. Aku rasa kamar itu terlalu luas untuk aku. Dan aku juga tidak terbiasa dengan kamar sebesar itu," kata Mala ketika mereka berhenti di tengah taman.


"Jika kamu belum terbiasa maka mulai sekarang biasakanlah untuk tinggal di kamar itu. Jika menurutmu itu terlalu besar, bukankah kamu akan lebih nyaman dan tidak sumpek kan?" jawab Andra.


"Tapi jika tinggal di kamar itu, saat kamu membutuhkan akan memerlukan waktu karena cukup jauh dari kamarmu. Bukankah seharusnya kamarku ada di lantai bawah saja biar lebih cepat jika kau butuhkan," kata Mala.


Andra menarik nafas panjang. Dipandanginya wajah ayu di hadapannya tanpa rasa sungkan.


"Aku hanya ingin kamu merasa nyaman tinggal di rumahku. Bukan hanya agar kamu bisa merawatku dengan baik, tapi aku juga ingin kamu senang tinggal di sini. Padahal aku sudah bersusah payah berusaha, tapi ternyata kamu masih tidak puas. Aduh, kepalaku agak sakit..."


"Andra, maaf jangan terlalu banyak berpikir. Baik, aku senang tinggal di kamar itu, dan aku merasa nyaman," ucap Mala saat melihat Andra mulai merasa sakit kepalanya kambuh.


Mala membawa Andra masuk kedalam rumah untuk segera minum obat.


"Mala, maafkan aku. Aku selalu merepotkan mu," gumam Andra pelan.


"Andra, jangan berkata seperti itu. Mulai sekarang jangan pernah merasa bahwa kamu merepotkan. Besok adalah hari pertama jadwal terapimu, fokuslah pada itu saja," kata Mala sambil membantu Andra berbaring.


Andra tersenyum senang melihat wanita yang dicintainya itu memberikan semangat padanya tanpa lelah. Pikirannya mulai tenang tanpa ada perasaan khawatir jika Mala akan pergi meninggalkannya karena sekarang Mala tinggal bersamanya.


Melihat Mala begitu perhatian padanya, Andra mulai merasa jika Mala sudah jatuh cinta padanya. Tapi bagaimana jika Mala tahu bahwa Andra sudah membohonginya tentang ingatannya. Ingatan bahwa Mala adalah calon istrinya dan Gala adalah anaknya.

__ADS_1


Semua ini Andra lakukan hanyalah agar Mala bisa menjadi miliknya. Andra tidak tahu entah sampai kapan dia akan berpura-pura didepan Mala. Namun selama belum ketahuan, itu akan tetap menjadi rahasia selamanya.


Jadwal terapi Andra menjadi hal wajib bagi Mala untuk selalu menemaninya. Mengikuti setiap detik perubahan kesembuhan Andra dan akhirnya menjadi hal yang biasa bagi Mala. Melihat Andra yang putus asa ketika pertama kali mencoba terapi hingga terlihat senyum bahagianya saat kedua kakinya mulai nampak perubahan. Berjalan selangkah demi selangkah, jatuh dan jatuh lagi lalu berdiri lagi.


"Andra, ayo pelan-pelan saja. Kamu tidak perlu takut terjatuh, aku akan memegangimu hingga akhir," kata Mala memberi semangat.


Andra tersenyum dan menahan rasa sakit di kakinya. Mala benar-benar menjadi obat bagi Andra. Itulah pertama kalinya Andra mengikuti terapi dan hari-hari berikutnya dijalaninya dengan penuh semangat.


Ada rasa terharu saat Mala mengingat bahwa apa yang dia lakukan tidaklah sia-sia. Mengorbankan waktu dan pikirannya untuk kesembuhan Andra.


Setahun kini sudah berlalu.


Dan Andra sudah bisa berjalan meski belum normal seperti dulu. Sudah tiba waktunya bagi Mala untuk pergi meninggalkan Andra dan keluarganya. Mala akhirnya akan bisa bernafas dengan lega dan bebas dari rasa bersalahnya selama ini.


"Bu Bella, karena Andra akhirnya sudah bisa berjalan lagi dan saya rasa saya sudah tidak dibutuhkan lagi disini. Maka hati ini saya ingin mengakhiri kontrak kerja saya yang sudah lebih dari satu tahun ini," ucap Mala tenang.


"Tapi menurutku, kamu belum bisa pergi sekarang. Masih ada yang harus kamu lakukan untuk Andra," kata bu Bella dingin.


"Maksud bu Bella apa? Perjanjian kita hanya sampai Andra sembuh dan itu sudah terwujud lalu apa lagi?!" kata Mala mulai kesal.


"Bukankah Andra masih ingin menikahi kamu karena ingatannya tentang kamu yang tidak masuk akal itu? Kembalikan ingatannya kembali seperti dulu, agar dia tidak terus ingin menikah denganmu."


Mala terdiam dan dia hanya bisa menyetujui keputusan bu Bella. Dan mungkin memang benar, Mala seharusnya tidak hanya fokus pada kesembuhan fisik Andra saja tetapi juga kesembuhan mentalnya.

__ADS_1


Sebenarnya hubungan Mala dan keluarga Andra terutama ibunya berjalan baik. Dulu ibunya mungkin sangat membencinya tetapi sekarang bu Bella tidak pernah sedikitpun menyinggungnya. Selama lebih dari setahun ini, Mala merasa sepeti hidup dengan keluarga sendiri.


Akan tetapi tentu saja lebih nyaman tinggal dengan keluarga sendiri. Apalagi rindu Mala pada keluarga sangatlah dalam dan dia ingin segera berkumpul dengan anak dan ibunya. Sejak merawat Andra, Mala hanya bisa pulang ke kampung beberapa kali saja dan itu rasanya belum cukup menyembuhkan sakit rindunya.


Sekarang tugas baru Mala sedang menunggunya. Mala mulai menyiapkan rencana untuk mengembalikan ingatan Andra. Semoga semua bisa berjalan sesuai rencana.


###########


Bersambung ya....


Sambil menunggu up selanjutnya, otor rekomendasikan satu novel apik karya temanku bernama Oktavia Hamda Zakhia berjudul Duda Casanova Terjerat Cinta Gadis Bar-bar Smoga suka



Blurb :


Apa jadinya seorang pria dengan julukan duda casanova terjerat cinta pada seorang gadis bar-bar dengan potongan rambut ala mulet mampu menggetarkan hatinya yang membeku.


Tak lupa Rolando sang putra yang selama ini begitu merindukan kasih sayang tiba-tiba tersenyum ketika di dekat gadis tersebut.


Banyak misteri yang mulai terungkap tentang jadi diri dari gadis bar-bar yang berhasil menjerat seorang duda casanova.


Dapatkah duda casanova itu mampu menaklukkan gadi itu? Misteri apa yang disembunyikan olehnya?

__ADS_1


Ikuti kisah perjalanan mereka ....


__ADS_2