Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Kontrak kerja


__ADS_3

Mala menemui bu Bella di rumahnya untuk menandatangani kontrak kerja. Bu Bella melakukan itu tanpa sepengetahuan Andra. Dikontrak itu tertulis beberapa hal yang harus Mala lakukan juga yang tidak boleh Mala lakukan.


Diantaranya, Mala harus bisa menjaga kerahasiaan surat kontrak. Merawat Andra hingga sembuh. Tidak boleh jatuh cinta dengan Andra. Melakukan hal yang bisa menunjang kesembuhan Andra. Bahkan jika harus melibatkan anaknya, Gala.


Sedangkan kewajiban orangtua Andra adalah membiayai kuliah Mala hingga lulus. Karena setelah merawat Andra, Mala tidak akan ada waktu lagi untuk bekerja yang uangnya untuk biaya kuliahnya.


Semua hal itu masih dalam batas kemampuan Mala. Mala hanya berharap bahwa semua akan baik-baik saja. Rasa bersalahnya terhadap Andra, membuatnya menyetujui menandatangani surat kontrak tersebut.


"Aku harap, kamu akan mematuhi apa yang tertulis disitu. Kamu ambil satu untuk kamu pelajari dan sebagai pengingat juga. Jangan keluar dari isi kontrak," tegas bu Bella.


"Baik, Mala mengerti. Mala tidak akan pernah melupakan isi surat kontrak ini," jawab Mala sambil mengangguk pelan.


"Kontrak ini berlaku mulai besok. Kamu buat saja jadwal kuliah kamu, jadi jika kamu tidak bisa datang, kami bisa menjaganya."


"Baik. Besok saya akan membuatnya dan jika ada hal penting lainnya, saya juga ingin diberi waktu. Mungkin itu bisa dimasukkan ke dalam surat kontrak ini."


"Oke, setuju. Silahkan tambahkan itu kedalam surat kontrak. Sekarang juga nggak papa. Ini pulpennya," kata bu Bella sambil menyerahkan pulpen pada Mala.


Mala menulis apa yang tadi dia katakan dengan jelas di surat kontrak miliknya. Demikian juga dia menulis di surat kontrak bu Bella. Semua selesai dengan cepat dan Mala pamit untuk pulang.


Bu Bella menatap kepergian Mala dengan senyum getir. 'Jika Andra tidak sembuh maka selamanya kamu juga akan terus terikat dengan kontrak ini, Mala'. Gumamnya dalam hati.


***


Mala teringat belum memberi tahu tentang hubungannya dengan Dicko yang tidak bisa bersama lagi. Hari ini dia menemui Gala di rumah Dicko. Gala menyambut kedatangan ibunya dengan gembira.


"Ibu..."


Teriakan Gala memecah keheningan rumah Dicko yang tenang. Ibu Sri juga tidak nampak menyambut Mala. Bu Sri rupanya masih marah dengan keputusan Mala yang mengabaikan kebahagiaannya sendiri demi rasa bersalahnya terhadap Andra.

__ADS_1


"Gala sayang."


Ibu dan anak itu saling berpelukan dan saling berciuman. Mala juga merasa bersalah pada Gala karena membuat Gala dalam kesulitan dan tidak bisa tinggal di tempatnya yang hanya sebuah kontrakan kecil.


"Ibu, kenapa baru datang. Ibu jarang temeni aku bermain," kata Gala manja.


"Maafkan ibu sayang, ibu sedang banyak pekerjaan. Kenapa kamu tidak kembali saja ke kampung. Disana ada banyak teman bermain dan tempat yang bagus untuk bermain," kata Mala berusaha meyakinkan Gala.


"Tapi Gala ingin bersama ayah dan ibu," ucap Gala sedih.


Mala memeluk erat Gala sambil meneteskan airmata. Isak tangisnya tidak bisa dia sembunyikan lagi dari Gala.


"Ibu jangan menangis. Jika ibu ingin Gala pulang, Gala akan pulang. Jadi jangan menangis lagi ibu?!" kata Gala yang malah membuat Mala makin sedih.


Gala masih terlalu kecil untuk bisa memahami kesulitan orang dewasa. Dia hanya berpikir sederhana sesuai dunia anak-anak. Hidup bersama ayah dan ibu adalah harapan setiap anak. Mala akan pelan-pelan membuat Gala mengerti bahwa kenyataan tidak bisa selalu sesuai dengan keinginan kita.


"Kenapa bu, apakah karena itu ibu menangis?" tanya Gala sambil mengusap airmata yang menetes di pipi ibunya.


"Benar Gala, ibu tidak mampu memberikan apa yang Gala inginkan. Karena itu ibu sangat sedih," jawab Mala sambil menatap Gala yang juga ikut sedih.


"Jangan sedih ibu, Gala tidak akan minta itu lagi. Gala janji, Gala akan menurut kata ibu. Bukankah ibu ingin Gala pulang ke kampung? Gala akan pulang bu? Gala tidak akan meminta ibu bersama ayah lagi. Gala tidak ingin ayah, Gala hanya punya ibu."


"Gala, kenapa kamu begitu pengertian? kamu memang anak ibu yang palin pinter," kata Mala sambil tersenyum.


Saat itulah, bu Sri datang dan memegang bahu Mala.


"Ibu malu pada Kalian. Ternyata Gala lebih bersikap dewasa daripada ibu. Dia bisa menerima keputusanmu dan memahami kamu," kata bu Sri sambil meneteskan airmata.


Mala berdiri dan segera memeluk ibunya, Gala juga tidak mau ketinggalan. Gala mendekati dua orang wanita yang sangat dia sayangi, lalu dia memeluk mereka dan mereka bertiga menangis bersama.

__ADS_1


Setelah mereka puas menangis, bu Sri mengajak Mala untuk membereskan barang-barangnya dan Gala. Mereka sudah memutuskan untuk kembali ke kampung.


"Sebaiknya ibu menunggu Dicko pulang, takutnya dia sakit hati dengan perginya kalian," kata Mala.


"Tentu, kita akan pamit secara baik-baik dengan nak Dicko. Selama ini dia sudah sangat baik pada ibu dan Gala tanpa pamrih. Dia orang yang baik," kata sang ibu menunjukan rasa kagumnya pada Dicko.


"Benar ibu, Mala juga ingin berterima kasih padanya karena sudah menerima kalian di rumahnya. Memberikan kebahagiaan untuk Gala."


Mereka menunggu kedatangan Dicko yang saat ini masih dalam perjalanan pulang. Entah kenapa hari ini dia merasa ingin cepat-cepat pulang.


Bersambung...


Hai para readers,


aku bawa rekomendasi novel yang apik untuk kalian baca. Karya sahabatku Sisca Nasty Unperfect Wife. Silahkan mampir... terimakasih



"Perjuangan yang sungguh-sungguh akan membuatmu berhasil mencapai apa yang kau inginkan. Berjuanglah dan tanamkan satu target dihadapanmu!"


~Lara Alessandra


Sebagai wanita dengan berat badan 107 kilogram, Lara kerap kali merasa berkecil hati. Kedatangan keluarga Alex untuk melamar dirinya sudah seperti anugerah terindah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Sayangnya, pernikahan sempurna yang dibayangkan Lara tidak sama dengan kenyataan. Alex ternyata mau menikah dengannya karena sebuah paksaan. Bukan karena cinta apa lagi mau menerima Lara apa adanya.


Namun, Lara tidak pernah menyerah. Dia terus berjuang agar Alex mau mencintainya dan menerima dia apa adanya. Ketika perjuangan Lara masih setengah jalan. Dia justru memergoki sang suami sedang bersenang-senang dengan wanita lain.


Apakah Lara akan berhasil membuat Alex jatuh cinta padanya atau justru dia akan menyerah dan memilih untuk meninggalkan Alex?

__ADS_1


__ADS_2