
Dicko sudah menyerah dengan usahanya untuk mengantar anak dan mertuanya pulang kampung. Namun secara tidak terduga, sebuah tangan kecil menyentuh pundaknya dari belakang. Dicko sempat kaget, saat menoleh betapa senangnya dia ketika melihat Gala tersenyum kepadanya.
"Ayah Dicko..."
Tanpa bertanya apapun, Dicko langsung memeluk Gala dengan erat. Mata Dicko masih berkaca-kaca karena tadi dia menangis.
"Ayah Dicko, kok ayah Dicko udah pulang?"
"Ayah lapar, pingin makan di rumah. Trus kenapa Gala belum pergi?" tanya Dicko sambil mengangkat Gala duduk dipangkuannya.
"Sepertinya tadi aku dengar dari nenek dan ibu kalau kehabisan tiket. Gala juga tidak tahu pasti."
"Gala, bilang sama nenek. Biar besok ayah Dicko yang akan mengantarkan kalian pulang kampung. Kan kemaren ayah juga yang bawa kalian dari kampung. Jadi ini semua tanggung jawab ayah."
"Hore, Gala seneng sekali bisa diantar ayah Dicko pulang. Ayah, nanti kita main pasir sebentar ya saat sampai. Gala kangen bisa bermain sama ayah."
"Tentu saja Gala, apa yang kamu mau akan ayah turuti. Asal Gala tidak membenci ayah," kata Dicko sambil tersenyum.
"Gala sayang ayah," kata Gala sambil mencium pipi ayahnya.
Dicko merasa sangat senang dengan jawaban Gala meski kini Gala tidak bisa bersamanya lagi.
"Adduh...perut ayah lapar sekali. Ayah akan minta bibi menyiapkan makanan dulu. Gala lapar tidak?!"
"Lapar juga ayah."
Dicko menggendong Gala di atas pundaknya yang kekar. Gala terlihat sangat senang sekali digendong ayah kandungnya.
Setelah meminta bibi menyiapkan makan siang, Dicko dan Gala menuju halaman samping untuk bermain ayunan.
"Ayah Dicko lebih tinggi lagi!" teriak Gala.
__ADS_1
Saat itulah bibi datang memberitahukan bahwa makanan sudah siap. Dicko kembali menggendong Gala masuk kedalam rumah.
Sampai di ruang makan, Dicko meminta kepada Gala untuk memanggil nenek. Gala berlari menuju kamar nenek. Dan sebentar saja Gala sudah kembali dengan nenek yang mengikuti di belakangnya.
Mereka bertiga duduk dia ruang makan lalu Dicko memimpin doa makan, baru setelah itu mereka makan siang. Selesai makan, Dicko mulai bicara tentang keinginannya.
"Ibu, kata Gala kalian kehabisan tiket. Bagaimana kalau besok biar Dicko yang mengantar kalian pulang?" kata Dicko pelan.
"Apa tidak merepotkan nak Dicko?" tanya bu Sri sungkan.
"Tidak bu. Saya malah senang bisa mengantar anak dan ibu mertua saya. Tadi saya sudah bicara dengan Gala, dan dia sangat senang sekali," kata Dicko sambil tersenyum.
"Baiklah jika tidak merepotkan nak Dicko. Jadi ibu bisa tenang dan malam ibu bisa tidur dengan nyenyak."
"Malam ini biarkan saya tidur dengan Gala bu, saya tidak tahu kapan bisa bersama Gala lagi."
"Tentu, Gala juga pasti akan senang mendengarnya."
Malam mulai menjelang dan Dicko mengajak Gala dan nenek untuk shalat magrib berjamaah. Bu Sri mulai simpatik pada Dicko karena sekarang Dicko sudah membuka hatinya untuk menjalankan shalat. Perubahan ini membuat Dicko memiliki nilai lebih dimata bu Sri.
Selesai shalat, Dicko mencoba mengajak Gala bicara tentang hubungan ayah dan anak sambil bermain.
"Gala, apakah kamu bahagia memiliki seorang ayah seperti Aya Dicko?" tanya Dicko pelan agar Gala tidak merasa terganggu.
"Ayah Dicko. Tentu saja aku senang memiliki ayah sepertimu. Sebenarnya aku ingin sekali pergi kekantor ayah seperti dulu. Aku ingin seperti ayah Dicko, bekerja dan mencari uang agar ibu tidak pergi meninggalkan aku untuk bekerja."
"Apa ibumu pernah merindukan Ayah Dicko?"
"Em, dulu setiap sore ibu akan selalu datang ke tepi pantai. Pasti itu karena menunggu ayah Dicko datang. Ayah, maukah ayah tidak menyerah untuk bersama ibu?!"
Sebuah permintaan dari anaknya yang membuat senyum Dicko kembali merekah.
__ADS_1
"Tentu, ayah tidak akan pernah menyerah. Kita adalah keluarga, ayah, ibu dan kamu Gala. Jadi kamu juga harus doakan ayah agar ayah bisa membawa ibu kerumah ini," kata Dicko penuh semangat.
Sementara di luar, ibu Sri mendengarkan dengan seksama ucapan Gala yang sederhana. Hanya ingin hidup bersama ayah dan ibunya. Bu Sri juga tidak memungkiri, Dicko adalah menantu ideal untuk dia juga suami yang baik untuk Mala. Sayangnya Mala tidak ingin kembali menikah terlebih dulu entah untuk berapa lama.
Mala tidak pernah menyesali statusnya sebagai janda, meski kemanapun dia melangkah pandangan mata orang-orang padanya tidaklah ramah. Bagi Mala, asalkan dia tidak merasa melakukan kesalahan dia akan tetap berdiri tegak dengan statusnya.
*****
Di rumah sakit, Andra mulai merasa bosan. Apalagi tidak ada Mala disisinya. Diapun mengeluh pada ibunya.
"Ibu, kenapa Mala tidak menjengukku lagi? Aku ini ayah dari anaknya, harusnya dia lebih perhatian padaku bukan mengabaikan aku seperti ini. Kalau nanti dia datang, aku juga akan mengabaikannya. Biar dia juga merasakan apa yang aku rasakan," ucap Andra kesal.
"Andra, Mala juga memiliki kesibukan lain. Kamu harus semangat, setelah sembuh melakukan terapi agar kamu bisa segera berjalan lagi," jawab ibunya.
"Andra tidak akan mau terapi jika bukan Mala yang menemaniku," kata Andra bertambah kesal.
Bu Bella tak bisa berkata apa-apa, memang hanya Mala yang bisa membujuk Andra untuk terapi. Tetapi Mala masih belum datang juga untuk menjenguk Andra. Memang tanggal kontrak berlaku esok hari. Dan Mala juga tidak mau berinisiatif untuk menjenguknya lebih awal. Apakah Mala akan berubah pikiran?
###########
Bersambung ya...
Sambil menunggu up selanjutnya, saya rekomendasikan karya teman saya bernama Lady Mermaid berjudul I Wanna You, My Cold Boy. yang pasti asyik...
Nabila Aurelia Jasmin adalah gadis populer di sekolah Bina Harapan Internasional, salah satu Sekolah elit di Jakarta. Dia idaman para laki – laki di sekolahnya. Hampir semua pria di sekolah menginginkan Nabila menjadi kekasihnya. Selain itu dia juga ketua cheerleader sekolah dan sekretaris Osis. Siapa yang tidak mengenal Nabila yang popular. Apa jadinya jika Nabila menyukai pria paling tidak dikenal di sekolah?
Nathan Fernando Lathif, laki – laki dingin yang pendiam, kutu buku, penyendiri dan misterius. Dia hanya menginginkan hidup yang tenang. namun dunianya berubah saat Nabila si gadis populer mengejar – ngejarnya. Tidak hanya jadi amukan para pria di sekolah, hidupnya yang tenang menjadi penuh drama. Dia kesal karena terus – terusan diikuti gadis berisik itu.
Bagaimana kisah mereka?
Bisakah Nabila menaklukan si pria es?
__ADS_1
Atau Nabila akan menyerah dan menerima cinta pria popular Sekolah yang memang menyukainya, karena berkali – kali diabaikan dan dianggap pengganggu?