
Karena keadaan Dicko yang sudah membaik, dokter akhirnya mengizinkan Dicko pulang. Mala dan Gala sangat bahagia bisa berkumpul lagi di rumah. Mala ingin merawat Dicko dengan baik selama Dicko belum sembuh benar.
Sementara, bu Sri berusaha mencari waktu untuk memberitahukan siapa sebenarnya orangtua Mala. Ketika Dicko dan Gala sudah tidur dan sang ayah juga beranjak tidur. Bu Sri meminta Mala untuk menemaninya berbincang.
"Mala, ada yang ingin ibu beritahukan padamu. Sebuah rahasia yang ibu simpan selama hampir 25 tahun," kata bu Sri yang masih ragu-ragu.
"Ibu bicara apa? Ada rahasia apa Bu, sampai ibu tampak cemas begitu," kata Mala sambil memandang ibunya.
"Mala janji sama ibu, jangan pernah tinggalkan kan kami ya nak?!" kata bu Sri tampak sedih.
Mala tidak mengerti mengapa ibunya terlihat berubah sejak bertemu dengan bu Bella.
"Kenapa bicara seperti itu ibu, Mala tidak akan pernah meninggalkan ibu."
"Mala, sebenarnya ibu dan ayahmu bukan orangtua kandungmu."
Mala terkejut dan hampir berteriak kaget mendengar pengakuan dari ibunya. Kejutan apa ini yang bisa membuat jantung Mala berdetak cepat.
"Apa Bu?! aku bukan anak kandung kalian?! Lalu aku anak siapa Bu?" tanya Mala kaget.
"Begini ceritanya Mala," kata bu Sri.
Bu Sri menceritakan dari awal hingga akhirnya Mala menjadi anak angkat mereka di kampung. Mala mendengarkan cerita ibunya dengan hati sedih dan kecewa. Jika benar cerita ibunya, berarti dia adalah anak yang tidak pernah diinginkan oleh keluarganya.
"Benarkah itu ibu, lalu siapa dan dimana orangtua Mala?" tanya Mala penasaran.
"Ibumu bernama Shella, dia adik kandung bu Bella," jawab bu Sri.
"Apa, ibuku adik kandung bu Bella?" ucap Mala kaget.
"Benar, tapi sekarang ibumu ada di luar negeri. Sedangkan ayahmu, tidak ada seorangpun yang tahu keberadaannya hingga kini."
Mala menangis, entah menangis sedih atau bahagia. Karena perasaan itu bercampur aduk dalam hatinya. Mala tidak tahu harus bahagia atau tidak ketika tiba-tiba mendapati kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
"Mala, maafkan ibu karena selama ini menyembunyikan semua darimu. Ibu tidak ingin kehilangan kamu dan Gala."
"Mala tidak pernah menyalahkan ayah dan ibu, bahkan Mala sangat berterimakasih karena kalianlah aku bisa merasakan hidup seperti anak-anak yang lain. Tidak kekurangan kasih sayang orangtua."
"Mala, jangan terlalu berpikir keras. Saat ini kamu sedang hamil, jangan sampai mempengaruhi bayi dalam kandungan kamu," kata bu Sri cemas.
"Mala ngerti bu. Makanya Mala berharap semua itu hanya mimpi. Mala ingin semua seperti semula saja dan tidak akan ada yang berubah," kata Mala sambil menghela nafas.
"Maksud kamu apa Mala?" tanya bu Sri heran.
"Harusnya, ibu tidak usah beritahu aku tentang itu. Biarkan semua menjadi rahasia seumur hidup ibu. Kenapa aku harus menjadi anak yang tidak diharapkan?" teriak Mala.
Ibu Sri kaget melihat reaksi Mala yang seolah menahan amarah. Padahal baru saja dia tenang seolah tak ada beban dan menerima semua itu. Bu Sri memeluk Mala berusaha menenangkan hati Mala yang tengah galau.
Suara Mala sempat membuat Dicko kaget. Dia segera mencari keberadaan Mala. Dan didapatinya Mala sedang menangis dalam pelukan sang ibu.
"Ada apa bu. Apa yang terjadi dengan Mala?" tanya Dicko khawatir.
"Bawa istrimu untuk istirahat," pinta sang ibu.
Mala terbaring dengan pikiran kacau, matanya masih basah oleh airmata. Dicko semakin tidak tahan berdiam diri melihat kondisi istrinya seperti itu. Dicko mendekati istrinya dan ikut berbaring sambil memeluknya dari belakang.
"Sayang, jika kamu ada kesulitan, berbagilah denganku. Aku bisa menjadi pagar besi yang akan menopangmu agar kamu tidak terjatuh. Aku bisa menjadi pendengarmu yang setia," kata Dicko sambil berbisik ditelinga istrinya.
"Aku, belum bisa bercerita mas. Tunggu sampai aku sudah tidak menangis lagi," jawab Mala terbata-bata.
"Baiklah, aku akan memelukmu saja hingga kamu bisa tidur dan tidak menangis lagi. Ingat baby kita sayang," kata Dicko mengingatkan Mala.
Mala hanya mengangguk pelan. Pelukan suaminya memang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman. Tangisannya pun sudah mulai berhenti dan rasa kantuk menyerangnya dengan cepat.
Dicko menarik nafas panjang melihat kondisi istrinya sudah mulai membaik. Dia juga tidak melepaskan pelukannya hingga dia sendiri tertidur.
Fajar sudah mulai meninggalkan malam. Mala terbangun dan mendapati dirinya masih dalam pelukan suaminya. Mala tersenyum dan berusaha melepas pelukan suaminya pelan-pelan agar dia tidak terbangun.
__ADS_1
Akan tetapi tetap saja suaminya menggeliat dan membuka matanya. Dicko tersenyum melihat Mala sudah bisa tersenyum kembali.
"Jam berapa? kenapa sudah bangun?" tanya Dicko sambil kembali memeluk Mala.
"Jam 4 pagi mas. Bentar lagi masuk waktu sholat subuh," jawab Mala pasrah saja kembali dipeluk suaminya.
"Bentar lagi sayang, aku kangen senyuman kamu yang manis ini."
Mala membalikkan badannya hingga tepat berhadapan dengan wajah suaminya. Hatinya terasa sejuk pagi ini.
"Kita bangun sekarang mas, sekalian mau mandi. Aku mandi duluan entar kamu setelah aku ya. Kita sholat berjamaah ya," kata Mala sambil melepas pelukan suaminya.
"Sayang, mandi bareng yok."
"Ya sudah, aku bantu mandikan kamu dulu ya mas. Setelah itu, baru aku mandi."
"Siap bos," ucap Dicko senang.
Setelah beberapa hari di rumah sakit hanya cuci muka dan badan saja, kini dia bisa setiap hari minta istrinya untuk membantunya mandi. Mungkin Dicko memanfaatkan kesempatan yang ada dan itu lebih baik untuk lebih mempererat hubungan mereka.
Mala melakukan kewajibannya dengan senang hati meski agak sedikit malu. Tetapi itu bukan masalah ketika melihat suaminya telanjang. Karena ini bukan yang pertama kalinya Mala melihat bagian-bagian tubuh suaminya yang hanya dia yang bisa melihatnya.
Dicko hanya tersenyum melihat istrinya begitu terpesona melihat tubuhnya. Sesekali dia menggoda Mala untuk melihat tingkah malu Mala yang menurut Dicko sangat imut.
Selesai mandi, Mala membantu Dicko berganti pakaian dan bersiap sholat. Dan sebelum Mala mandi, Mala meminta Dicko untuk membangunkan Gala agar bisa sholat bersama.
Dicko menuju kamar Gala dan mencoba membangunkan pria kecil itu yang masih tertidur lelap.
"Gala, bangun sayang," kata Dicko pelan sambil mengguncang tubuh Gala pelan.
Aiaaaa.
Gala hanya menggeliat perlahan lalu kembali tidur lagi. Dicko mengulanginya hingga beberapa kali sampai Gala mau membuka mata.
__ADS_1
"Ayah, Gala masih ngantuk," kata Gala yang matanya masih terpejam.
"Kita sholat subuh berjamaah sayang? Ditunggu ibumu lho," kata Dicko sambil menggendong Gala yang masih enggan bangun.