Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
membatalkan pernikahan


__ADS_3

Siska berusaha menahan buliran airmata yang mulai menetes pelan di ujung matanya. Pelan-pelan Siska menyeka airmatanya dengan saputangan miliknya. Bara menatap kejadian itu dengan hati kacau.


Bara bingung dan tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana menghadapi Siska yang mulai menangis meski hanya terdengar pelan. Selama ini, Bara belum pernah menghibur wanita lain selain Mala.


Jika itu Mala, Bara akan sangat senang menghiburnya. Memberinya sedikit hal konyol dan lucu, pasti Mala sudah bisa tertawa kembali. Tetapi Bara tidak mengerti mengapa saat Siska yang adalah calon istrinya sedih, dia hanya merasa bersalah dan tidak berdaya.


"Siska, jangan menangis di sini. Nanti mereka mengira aku sudah menggertak kamu," kata Bara yang semakin membuat Siska kesal.


Bukannya dihibur, malah dimarahi. Bara, apakah kamu sebodoh itu. Sama sekali tidak peka apa yang aku mau? batin Siska.


"Bara, aku capek. Aku lelah mencintaimu. Lelah mengejarmu, karena ketika aku berlari mendekat, kamu malah semakin jauh meninggalkan aku," ucap Siska sedih.


"Siska apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan," kata Bara.


"Kita batalkan saja pernikahan kita."


"Apa?! Siska, kamu jangan bercanda. Sebulan lagi kita akan menikah. Bukankah semua persiapan sudah kita rencanakan?" tanya Bara memelankan suaranya.


"Hanya aku yang merencanakan, kamu sama sekali tidak ada keinginan untuk itu."


"Siska, apa maksudmu? Bukankah kamu sudah setuju jika kamu yang memesan semuanya?" tanya Bara penuh harap.


"Apa yang sudah aku pesan? Surat undangan, tempat pesta, pakaian pengantin atau tempat berbulan madu?" Siska balik bertanya.


"Siska, kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku menyerah, aku tidak sanggup lagi bertahan denganmu mas. Sebelum itu, aku ingin tahu satu hal. Pernahkah kamu mencintaiku?" tanya Siska sambil menatap tajam Bara.


Bara tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia menjawab pernah, maka dia menjadi pembohong. Tapi jika dia menjawab tidak pernah, semua akan berantakan. Pernikahan ini terancam batal.


"Karena mas Bara tidak bisa menjawab, maka aku yang akan menjawab. Selama ini mas Bara tidak pernah mencintaiku. Benar begitu bukan?" tanya Siska penuh kekecewaan.


"Siska, maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Bara.


Siska semakin sakit hati karena Bara sama sekali tidak membantah ucapannya. Jadi selama ini hanya dialah yang jatuh cinta. Sedangkan Bara hanya memanfaatkannya saja.

__ADS_1


"Tapi Siska, aku akan bertanggungjawab atas apa yang aku lakukan padamu," kata Bara kemudian.


"Tidak perlu. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang hanya demi sebuah tanggung jawab menikahiku. Anggap saja semua itu tidak pernah terjadi."


Suasana menjadi canggung dan Siska segera pamit pergi meninggalkan Bara dengan penuh penyesalan. Namun sebelum pergi, Siska memberikan Bara sebuah nasehat.


"Bara, selama kamu tidak bisa jujur pada diri kamu sendiri dan menerima kenyataan. Maka kamu selamanya tidak akan pernah bisa benar-benar memiliki."


Bara hanya bisa menerka-nerka maksud ucapan Siska. Mungkin itu sebuah sindiran untuknya yang tidak pernah bisa jujur jika dia belum bisa melupakan Mala. Menerima kenyataan jika Mala sudah tidak bisa di gapai lagi.


"Maafkan aku Siska."


🌹🌹🌹🌹🌹


Pada akhirnya, Siska memutuskan untuk pergi dari hidup Bara selamanya. Siska mengundurkan diri dan pergi ke luar kota tanpa pamit pada Bara. Jadi pertemuan kemarin menjadi pertemuan terakhir Bara dan Siska.


Sejak saat itu, Bara menjadi agak pendiam dan tertutup. Dia lebih sering menghabiskan waktu pergi ke kafe sahabatnya, Bagas untuk menenangkan diri.


"Mas, kasihan Bara ya. Batal menikah dan dia terlihat sangat terpukul," kata Mei pada suaminya, Bagas.


Bagas mendekati Bara yang terlihat kusut sejak batal menikah. Ternyata dia merasa bersalah atas gagalnya pernikahan dia dan Siska.


"Bara, jangan terlalu menyiksa diri. Meski jika kamulah penyebab gagalnya pernikahan kalian, seharusnya Siska juga membicarakan terlebih dulu bukan langsung membatalkan pernikahan. Semua bisa di bicarakan baik-baik," kata Bagas memberi semangat Bara.


"Aku juga heran, kenapa dia begitu mudah membatalkan pernikahan ini sedangkan aku sudah berusaha bertanggungjawab. Tapi dia tidak mau. Sejahat itukah aku sehingga dia membenciku?" kata Bara.


"Atau mungkin dia tahu sesuatu tentang Mala?" tanya Bagas.


"Apa?!"


"Bara, matilah kau. Sudah membuat anak orang patah hati. Harusnya dari awal kau itu jujur sama Siska," kata Bagas sambil menggelengkan kepala.


Bara tertegun mendengar perkataan Bagas.


Aku benar-benar bodoh. Dan telah membuat Siska meninggalkanku dengan membawa sakit hati karena ketidakjujuranku, batin Bara.

__ADS_1


Tetapi sekarang semua sudah terlambat. Siska sudah pergi dan Bara tidak tahu kemana dia pergi. Hanya penyesalan yang kini tersisa dan sangat menyiksa hati Bara.


Sementara, Mei teringat Mala dan memberitahunya tentang batalnya pernikahan Bara dan Siska. Mala sangat kaget dan menyayangkan apa yang terjadi pada mereka berdua. Mala menjadi kesal sendiri sampai membuat Dicko penasaran.


"Sayang, kenapa kamu terlihat kesal? Kamu sedang hamil, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang membuat kamu tertekan," kata Dicko sambil duduk disebelahnya.


"Aku kesal dan sedih mas. Bara dan Siska batal menikah."


"Apa?!"


"Mas, jangan terlalu keras bicaranya. Aku sampai kaget," ucap Mala mengelus dadanya.


"Maaf sayang. Aku terlalu kaget. Aku penasaran, kenapa pernikahan mereka bisa batal secara tiba-tiba. Jangan-jangan..."


Dicko melihat ke arah Mala, seolah hendak berkata 'karena kamu'.


Mala terlihat kesal karena suaminya seolah menghakiminya sebagai penyebab batalnya pernikahan Bara dan Siska. Mala pergi meninggalkan suaminya yang terus meminta maaf padanya, namun dia abaikan.


"Sayang, maafkan aku."


Dicko menyesali ucapannya yang membuat Mala marah padanya. Hingga malam menjelang, Mala masih ngambek dan tidak mau bicara padanya. Meski sekarang mereka dalam satu kamar dan satu ranjang, namun tidak sepatah katapun terucap dari mulut istrinya.


"Sayang, jangan diamkan aku dong. Bicaralah sesuatu. Kamu mau makan apa? Atau kamu mau dipijit?" kata Dicko merayu Mala.


Dicko mulai memijit tangan Mala dan Dicko senang karena Mala diam saja ketika dia memijitnya walaupun tidak sepatah katapun keluar dari mulut Mala. Mala sebenarnya ingin memukul tubuh suaminya karena telah menuduhnya.


Lama kelamaan, pijitan suaminya membuat Mala mengantuk. Dan akhirnya Mala tertidur.


Dicko tersenyum melihat wajah manis didepannya yang sudah tidak tampak kesal. Mata Dicko tertuju pada bibir merah istrinya yang sedari tadi tidak digunakannya untuk bicara. Ada rasa ingin menghukumnya. Hukuman paling nikmat dan tidak menyakitkan untuk istrinya yang sedang hamil.


Hukuman apa yang terlintas dipikiran Dicko?


🌹🌹🌹🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2