Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Sarapan Penuh Cinta


__ADS_3

Cukup lama keduanya berpelukan, saling memberi kehangatan di tengah dinginnya angin malam di balkon itu. Tetapi keduanya masih terhanyut dalam suasana yang syahdu ini.


"Mas, apa gak sebaiknya kita ke dalam? Tubuhmu mulai terasa dingin," ujar Sita yang merasa kasihan kepada Haris yang tanpa memakai baju.


"Oke deh, yuk kita ke dalam!" ajak Haris sambil merangkul istrinya masuk ke dalam kamar kembali.


"Mas mandi dulu aja, biar aku yang menutup pintu dan gordennya. Sekalian, aku juga mau pakai baju tidur." Sita mulai merasa risih dengan bathrobe yang masih melekat di tubuhnya.


Haris mengangkat sebelah alisnya, lalu memajukan wajahnya supaya lebih dekat dengan Sita. Namun, wajah Sita seketika mundur ke belakang.


"Jangan menatapku seperti itu ... aku .... " Sita tidak menyelesaikan kalimatnya, ia justru menggigit bibir bawahnya sendiri dengan wajah yang sedikit menunduk dan pandangan mata ke manik mata Haris yang di atasnya.


Senyum jenaka hingga tawa renyah pun pecah seketika. Haris menjauhkan wajahnya dengan tangan kiri di pinggang serta tangan kanannya menutupi mulutnya.


"Okey, okey ... aku mandi. Kamu segera ganti baju dan tunggu aku di tempat tidur," ucapnya lalu mengerlingkan matanya sambil beranjak pergi dari hadapan Sita kemudian.


Dengkusan kesal pun dikeluarkan oleh Sita. Namun ia tidak benar-benar kesal, hanya saja merasa malu.


Saat telah Haris masuk ke dalam kamar mandi, Sita membuka lemari itu. Ia mencari letak pakaian yang akan ia pakai untuk tidur. Tetapi, yang ada di dalam lemari itu masih sama seperti yang ia lihat tadi siang. Hanya ada lingerie dan juga dress midi.


Sita menghela napas panjang, ia pun menutup pintu lemari itu kembali tanpa mengambil satupun pakaian dari sana. Ia justru membuka pintu lemari lain tempat pakaian Haris. Matanya seketika berbinar saat melihat tumpukkan kaus berwarna monokrom di sana. Pilihan Sita tertuju pada kaus warna putih. Ia segera memakainya, kemudian mencari celana di sana. Tetapi sayangnya, tidak ada. Sita melihat ke kaus yang ia pakai, panjangnya hingga melebihi lutut.


Gapapa deh gini aja, lebih mirip pakai daster.


Sita akhirnya menutup pintu itu kembali, kemudian berjalan menuju tempat tidur. Ia naik ke atasnya dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut tebal. Waktu yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam, membuat Sita mulai dikuasai rasa kantuk. Apalagi setelah aktivitas seharian ini yang menguras banyak emosi dan juga tenaga. Tak butuh waktu lama, ia terlelap dan mulai berlayar ke alam mimpinya.


Sepuluh menit setelahnya, pintu kamar mandi terbuka. Haris hanya melilitkan handuk berwarna putih itu di pinggangnya. Bagian dada yang tampak liat itu ter-ekspose menggoda. Sayangnya, Sita sudah tertidur dan dinding penyekat itu pun menutupinya.


Haris segera memakai pakaiannya dan menaruh handuk itu kembali ke dalam hanger yang ada di kamar mandi. Setelah itu ia menghampiri Sita yang sudah berdengkur halus di atas tempat tidur. Ia duduk di tepinya, posisi Sita saat ini sedang miring ke arahnya. Kemudian, ia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya dan menyematkannya ke belakang telinga. Sang empunya tidak bergerak sedikitpun, mungkin karena rasa lelah ia sampai tidak sadar.


Baru beberapa hari jadi suami kamu ... ternyata aku semakin nyaman. Selama ini, aku gak pernah ngerasain senyaman bersamamu. Walau memang dirimu yang tampak sederhana, tapi kamu punya keistimewaan tersendiri untuk itu.

__ADS_1


Haris menghela napas panjang.


Semoga, setelah kamu benar-benar tau tentang keseharian ku di Australi ... kamu masih bisa bertahan di sampingku. Meski aku tau pasti berat banget.


Haris pun beranjak dari sana, kemudian mengambil ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di atas sofa. Ia meraihnya lalu keluar dari kamar dan menghubungi seseorang dan beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar dan berbaring di sebelah istrinya. Dengan tangan yang ia lingkarkan di pinggang ramping Sita, tak lama juga ikut tertidur.


*******


Pukul 05.00


Sita bangun lebih dulu, tangan kekar itu telah beranjak dari pinggang rampingnya. Ia tersenyum saat melihat wajah tampan Haris masih terbaring tenang di sebelahnya. Baru kali ini ia merasakan bangun pagi sebagai seorang istri yang sesungguhnya.


Sita turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Ia menutup pintu perlahan, lalu melepas seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Kemudian, ia pun berdiri di bawah shower dan menyalakan kerannya. Air dingin yang membasahi tubuhnya saat ini, benar-benar membuatnya lebih segar.


Kurang lebih tiga puluh menit Sita mandi, akhirnya ia pun mengakhirinya. Di keringkannya tubuh molek itu dengan handuk, kemudian ia balut dengan bathrobe sutra dengan lapisan silk satin yang semalam sempat ia pakai. Tak lupa ia melilitkan handuk kecil di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya yang basah, lalu membuka pintunya.


"Astaga!" Sita terlonjak kaget saat melihat Haris sudah berdiri di depan pintu dengan tangan kiri di pinggang, sedangkan tangan kanannya di rentangkan ke daun pintu. "Sejak kapan Mas di sini?" tanyanya merasa gugup sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Sejak aku denger ada suara pancuran air dari dalam kamar mandi." Haris menurunkan tangan kanannya, lalu menyilangkan keduanya di dada dan punggungnya bersandar di daun pintu.


"Kenapa kamu mencarinya di sana? baju-baju kamu kan ada di barisan sebelah sini!" ujar Haris dengan tangannya yang menunjuk ke pintu di sebelahnya.


"Baju-baju di sana sangat minim sekali." Sita menunduk dan salah tingkah. Sementara Haris mendengkus kesal dan membuka lemari pakaian itu.


"Biar aku yang memilihkannya untukmu!"


Sita bersusah payah menelan salivanya sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.


Semoga pakaian yang dia pilihkan nyaman untuk aku pakai.


Sesaat kemudian, Haris berhasil menjatuhkan pilihannya kepada dress berbahan kaus dengan bagian bahu yang terbuka.

__ADS_1


"Pakai ini, dan tunggu aku di ruang makan. Kita harus berangkat satu jam lagi!" perintah Haris membuat Sita terperangah.


"Baiklah," pasrah Sita sambil mengambil dress itu dari tangan Haris.


Setelah Haris masuk ke dalam kamar mandi, Sita segera memakainya dan pergi keluar kamar.


Koper sama ranselku kemana ya? Apa Mas Haris gak bawa ke sini? Aduh, malah ponselku masih menyala lagi. Lowbatt gak ya?


Sita merumat-rumat kedua jemari tangannya. Setibanya di ruang makan, kondisi dapur itu masih rapi dan belum tersentuh sama sekali. Tiba-tiba, ia merasa perutnya keroncongan. Akhirnya Sita memutuskan untuk memasak bahan seadanya yang ada di dalam kulkas.


Roti, mayonaise, sosis, selada, tomat dan keju. Semua bahan itu ia satukan menjadi dua porsi sandwich yang kemudian ia masukkan ke dalam mesin toast di sudut meja dapur itu.


Bertepatan dengan siapnya sandwich yang telah tersusun cantik di atas kedua piring, serta jus jeruk yang segar, Haris pun muncul di dapur itu.


"Waw, kelihatannya lezat sekali!" seru Haris yang seketika mengecup kening Sita, membuat sang empunya terpaku sejenak lalu tersenyum kikuk.


"Yuk, sarapan Mas!" ajak Sita dan keduanya duduk di kursi mini bar yang ada di sana.


*****


Setelah selesai menyantap sarapan pagi dengan penuh cinta itu, keduanya pun bergegas pergi ke bandara untuk bertolak ke Swiss. Haris mengendarai mobilnya sendiri. Sebelum ia melajukannya, tak sengaja melihat rona sendu di wajah istrinya.


"Kenapa Sayang?" tanya Haris dengan wajah polosnya. Ia belum mengerti maksud tatapan Sita itu.


"Aku mau foto berdua sama kamu, Mas!" pinta Sita dengan sedikit malu-malu.


"Oh." Haris mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. "Nih pakai ponselku."


"Kamu aja ya yang fotoin, kita selfie." Sita tersenyum lebar dengan tingkahnya yang sedikit manja. Haris hanya mengangguk patuh.


__ADS_1


Hasil jepretan selfie Haris.


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2