Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Bagaikan Bayangan Semu


__ADS_3

Jakarta, atmosfir panas dan berdebu menjadi selaput khas kota metropolitan. Pemukiman padat tersembunyi di balik gedung-gedung jangkung penjangkau langit. Penduduk berjubel, penuh obsesi meraih mimpi. Saling sikut demi memanjakan jakun dan perut. Tidak perduli jika harus berdarah-darah sekalipun.


Sita ikut memikirkan nasib para pelayan yang selama ini bekerja di rumahnya untuk mendapat sesuap nasi dan menjadi tulang punggung keluarga. Sejak kecil, Sita sukar sekali dimanja oleh kedua orang tuanya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah dan tak jarang menyapa para pelayan di rumah yang bisa dibilang mewah itu.


Bukan hanya seorang ataupun dua orang yang bekerja di sana, melainkan puluhan. Sita hanya berharap, uang yang ia miliki saat ini bisa cukup untuk membayar semuanya yang seketika menjadi tanggungannya ini.


Mobil taksi yang ditumpangi Sita pun telah sampai di kediamannya. Tak lupa ia sodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan ke sopir itu. Dengan helaan napas berat, Sita turun dari mobil membawa segenap asa yang masih bisa ia jadikan semangat.


Sesaat setelah ia turun, mobil itu pun pergi dari sana. Sita melangkahkan kakinya masuk melewati gerbang yang menjulang tinggi itu. Terlihat, banyak para pelayan rumah yang telah membawa tas besar di tangannya.


Sedih, Sita melihat itu dari raut wajah mereka yang sedang menunggu kedatangannya sedari tadi. Sebuah senyuman tipis sambil ia tunjukkan kepada mereka meski hatinya ikut getir karena masalah yang terjadi saat ini.


"Maaf, telah membuat kalian menunggu lama." Sita berdiri ditengah-tengah mereka. Bagaimanapun nasibnya setelah ini, mau tidak mau ia harus tetap berdiri tegak.


"Iya gak apa-apa."


"Iya."


"Gak apa-apa."


Itulah yang Sita dengar sekilas pemakluman dari mereka semua. Ia tersenyum kembali.


"Sekarang, Bapak, Ibu sekalian berbaris ya. Nanti silahkan sebutkan nomor rekening kalian masing-masing, tapi sebelumnya saya mau masuk ke dalam dulu untuk mengambil barang-barang saya juga yang masih ada di sana," terang Sita mencoba menjelaskan kepada mereka. Setelah mendapat anggukkan kepala, Sita pun pergi dari sana.


*****

__ADS_1


Hampir setengah jam Sita berada di kamarnya berkutat dengan kedua koper besarnya. Ia hanya membawa beberapa pakaian saja yang sekiranya bisa dipakai untuk bekerja nanti.


Tuhan, aku tau ini sudah menjadi bagian dari takdirMu. Walau entah ini bukan permainanMu, sebab Engkau menghendakinya. Aku yakin, Engkau pasti akan memberiku kekuatan untuk menjalaninya.


Tak lupa, ia membawa laptop dan juga ponsel kesayangannya ke dalam tas ransel yang diisi juga dengan sebuah binder. Akan tetapi, ia sengaja meninggalkan setumpuk buku yang pernah ia beli dengan kartu yang diberikan oleh Haris kepadanya.


Bahkan sebuah kotak dengan isi yang lengkap pun ia taruh dengan rapi di atas meja belajarnya.


Aku rasa, kamu yang memulai semua ini Mas. Jangan harap aku akan terbawa arus permainanmu. Karena aku akan keluar dari jalur yang telah kamu susun rapi sejak awal.


Sita bermonolog dalam hatinya di depan kotak pemberian Haris seolah berbicara dengan sang pemilik kotak tersebut. Sejujurnya hati yang telah Sita tumbuhkan rasa terhadap suaminya itu, perlahan harus ia hapuskan kembali.


Percuma rasanya ia bertahan, tapi nyatanya Haris hanya sebuah bayangan semu bagi Sita. Helaan napas panjang berhembus begitu saja saat Sita perlahan keluar dari kamarnya.


Akan tetapi, baru saja ia memegang handle pintu ... ponselnya berdering. Kali ini, bukan berasal dari ponsel pemberian Haris, melainkan dari ponsel kesayangannya. Sebuah ponsel bermerk SuingSuing keluaran beberapa tahun silam itu segera ia keluarkan dari dalam ransel.


"Halo."


"Cepatlah keluar, aku sudah menunggumu di pos satpam!"


Suara baritone itu membuat Sita terperangah, ia melihat ke layar ponselnya. Sebab ia mengenali suara tersebut, kemudian mendekatkan kembali ke telinganya.


"Kak Sulthan?" tanya Sita memastikan dengan perasaannya yang mulai tak keruan.


"Iya. Aku tunggu lima menit!" Sambungan telepon pun terputus. Sita tersentak kaget lalu masukkan kembali ponsel itu ke dalam tas ranselnya.

__ADS_1


Tidak ingin Sulthan menunggu lama, Sita bergegas pergi keluar rumah dengan membawa dua koper besar di tangannya. Dengan berjalan sambil terseok, akhirnya ia pun tiba di teras rumah.


Sita bersusah payah menelan salivanya saat melihat banyak orang yang berpakaian setelan jas hitam dan juga kemeja putih di halaman rumahnya. Bahkan para pelayan yang tadi berkumpul pun, telah pergi entah kemana. Ia membiarkan kopernya tergeletak di teras rumah beserta ranselnya.


Dengan langkah hati-hati, Sita berjalan menghampiri Sulthan yang sedang duduk di atas sebuah kursi dengan kacamata hitamnya sambil bersilang kaki. Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis yang menghasilkan garis wajah di area pipinya.


Kini Sita telah berdiri di depan Sulthan. Tatapannya penuh dengan tanda tanya. Tentunya Sulthan mampu menebak dari tatapan yang diberikan oleh Sita.


"Semua pelayan rumah ini telah aku bayarkan gaji dan pesangonnya. Karena aku yakin, kamu pasti kebingungan untuk membayar mereka. Terlebih adikku, Haris ... sulit sekali dihubungi bukan?" Sulthan membenarkan posisi duduknya lalu berdiri beberapa langkah dari tempat Sita.


"Da-darimana Kak Sulthan tau?" tanya Sita yang mulai penasaran. Ia sendiri merasa aneh, "Kenapa Kak Sulthan tau kalau Mas Haris ...?" sambung Sita tanpa menyelesaikan kalimatnya itu.


"Tidak usah heran, segala sesuatu yang menyangkut tentang Haris itu udah jadi tanggung jawabku juga." Sulthan menundukkan wajahnya sambil membuka kacamata hitamnya itu. "Aku merasa bersalah atas sikap Haris, karena aku tau sejak awal kamu seharusnya menikah denganku, bukan dengan Haris," sambungnya sambil menghela napas panjang.


"Ta-tapi gak seharusnya Kak Sulthan seperti ini. Aku gak apa-apa kok, lagi pula aku punya uang cukup untuk membayar mereka. Maaf Kak, secepatnya akan aku ganti uang Kakak. Karena aku gak mau merepotkan siapapun!" tegas Sita dengan percaya dirinya. Sementara Sulthan tertawa renyah.


"Udah gak usah bahas itu, lebih baik kamu masuk ke mobil dan ikut denganku ke apartment. Bukankah Haris udah beliin kamu apartment?" Sulthan kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Sita yang masih membatu di sana.


"Enggak! sampai kapanpun, aku gak mau tinggal di apartment itu!" bentak Sita sambil berteriak cukup kencang. Kedua tangannya mulai mengepal. Otot-otot yang menjalar di sekujur tubuhnya menegang bersamaan. Amarahnya telah naik ke permukaan bersamaan dengan mata yang membola.


Sulthan menghentikan langkahnya, lalu mengangkat sebelah sudut bibirnya sebelum akhirnya menoleh ke belakang.


"Sita, turunkan lah egomu ... tapi kali ini ikutlah denganku. Aku akan jamin semua hidupmu. Biarlah ... biarlah ini ucapan permintaan maafku padamu. Untuk Haris, biar aku yang akan berbicara padanya." Seketika sorot mata Sulthan menjadi sendu. Ia terus berusaha meyakinkan Sita.


"Haram buatku untuk percaya begitu saja. Walau kamu kakak iparku sekalipun! Jelaskan ... jelaskan alasanmu menyuruhku untuk ikut bersamamu!" Tatapan Sita mengarah tajam ke manik mata milik laki-laki yang ada di hadapannya itu. Walau jarak diantara mereka cukup jauh kali ini, tapi pandangan Sita tidak beralih sedikitpun kepada Sulthan.

__ADS_1


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2