
Andra dan Bara berpamitan pulang setelah Mala berbicara agak kasar pada mereka. Setelah kepergian mereka, Dicko tampak tersenyum lega. Seperti terbebas dari jaring laba-laba. Hanya Mala yang menyadari kegembiraan hati suaminya.
"Mas, senangnya lihat mas Dicko tersenyum," kata Mala menggoda suaminya.
"Senanglah, dua pengganggu udah pergi. Pusing kepalaku melihat mereka. Mala, seandainya aku memukul mereka, aku tidak salah kan?" tanya Dicko.
"Pukul saja kalau itu bisa membuat hati mas Dicko puas. Mau aku bantuin?" tanya Mala sambil tersenyum.
"Tidak boleh, kamu nggak boleh ikut bantu pukul mereka. Yang ada mereka malah kesenangan kamu yang pukul. Rugi dong aku. Kamu itu bolehnya hanya pukul aku aja," kata Dicko sambil menyentuh pipi istrinya yang cubby.
"Bener, kamu mau aku pukul?" kata Mala sambil mengangkat tangannya hendak memukul Dicko.
"Boleh, tapi pukul pakai bibir ya," jawab Dicko.
"Ststst, jangan keras-keras mas. Ada ayah dan ibu di sini," kata Mala sambil memukul pelan bahu suaminya yang pura-pura meringis kesakitan.
"Mala, ayo kita pulang. Angin malam tidak baik untuk anak dalam kandungan kamu," ajak sang ibu.
"Gala sudah bangun ya? Baiklah aku pulang dulu mas. Besok pagi, aku kesini lagi. Mau aku bikinin sarapan apa?" tanya Mala pada suaminya.
"Bubur ayam saja. Kalau kamu capek, mending beli saja," kata Dicko.
"Iya. Gala, pamit sama ayah."
Gala berjalan mendekati ayahnya dengan wajah masih belum sadar benar dari tidurnya.
"Gala pulang dulu ayah," kata Gala sambil mencium tangan ayahnya.
__ADS_1
"Jaga ibu baik-baik ya," kata ayahnya sambil berbisik ditelinga Gala.
Gala hanya mengangguk pelan. Lalu bergegas mendekati sang nenek. Sementara Mala menatap suaminya seolah tidak ingin pergi.
"Kenapa?" tanya Dicko.
"Aku pergi dulu mas. Selamat malam," kata Mala sambil mencium tangan suaminya.
Malam ini mereka pulang diantar sopir pribadi Dicko, pak Sapto.
****
Keesokan harinya, Mala dan ibunya datang lagi ke rumah sakit. Hari ini hari terakhir suaminya dirawat. Nanti sore sudah bisa pulang. Mala berjalan duluan sementara sang ibu dibantu pak Sapto membawa makanan untuk Dicko dan Mala.
Saat Mala Samapi di depan ruang rawat inap suaminya, Mala melihat bu Bella sedang mondar-mandir dan terlihat ragu untuk masuk.
"Tidak. Aku ingin bertemu denganmu," jawab bu Bella gugup.
"Oh. Ada apa bu Bella mencari saya," tanya Mala mulai menduga-duga arah pembicaraan ibunya Andra itu.
"Duduklah dulu, aku tahu kamu sedang hamil dan pasti tidak nyaman jika terlalu lama berdiri," kata bu Bella sok perhatian.
Mala mengikuti bu Bella menuju kursi dekat ruang tunggu. Mereka duduk bersebelahan dan mereka berdua terdiam untuk sesaat.
"Mala, aku minta maaf. Apakah Andra sudah memberitahumu?" tanya bu Bella agak ragu dan suaranya bergetar.
"Tentang kecelakaan itu? Andra memang sudah mengatakannya. Saya sama sekali tidak menyangka jika anda sangat ingin kematian saya. Apakah anda senang sekarang? Apakah anda merasa puas sudah berusaha menyakiti saya?" kata Mala hampir menahan kesal dan sakit hatinya.
__ADS_1
"Memang aku sangat membencimu dan ingin kamu hilang dari muka bumi ini. Kenapa kamu harus hidup di dunia dan membuat anakku tergila-gila padamu," kata bu Bella dengan kesal pula.
"Anda selalu menyalahkan saya karena anak anda mencintai aku. Kenapa anda tidak menyalahkan anak anda karena sudah jatuh cinta dengan wanita sepertiku. Seharusnya, anak anda yang kau lenyapkan bukan aku."
"Kamu, mulut kamu memang dari dulu sangat tajam Mala. Kamu tidak pernah menghargai cinta Andra. Kamu wanita yang tidak punya perasaan. Dulu aku membencimu karena Andra mencintaimu, sekarang aku membencimu karena kamu telah menolak cintanya. Kamu pikir kamu siapa? Ratu?"
"Aku bukan ratu, tapi setidaknya ada orang-orang yang setia mencintaiku tanpa pamrih. Suamiku, anakku, ayah dan ibuku. Itu sudah cukup bagiku. Jadi bawa anakmu dan jaga, jangan Sampai masih menyimpan harapan padaku."
"Mala, kamu adalah harapan kami untuk bisa membuat Andra menerima permintaan ayahnya. Dengan penolakan kamu ini, kamu sudah menghancurkan seluruh harapan kami."
"Karena itu anda ingin menyakiti aku? Sayangnya, usaha anda dua-duanya harus gagal. Yang pertama, Andra menyelamatkan aku dan yang kedua, suamiku yang berkorban untukku. Ternyata, anda datang bukan untuk meminta maaf?"
"Laporkan saja pada polisi, aku tidak takut. Kamu tidak memiliki bukti apa-apa untuk bisa membawaku ke penjara."
"Aku akan meminta Andra menjadi saksi. Kita lihat, apakah Andra akan berpihak padaku atau pad ibunya yang pendosa."
"Kau sangat licik Mala. Wanita seperti apa yang sudah melahirkan anak seperti kamu."
"Jangan bawa-bawa nama ibuku," ucap Mala kesal.
Suasana tampak sangat tegang.
"Siapa wanita yang kamu maksud, apakah itu aku? kata Bu Sri.
Mata bu Bella terbelalak melihat wanita dihadapannya. Sri Hartini, mantan pembantu di rumah orangtuanya dulu. Sri ibunya Mala. Mana mungkin Mala anaknya Sri.
Bu Bella teringat masa lalu saat masih di rumah orangtuanya. Masa lalu seperti apakah itu?
__ADS_1