Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Meylani Hampir Kelepasan!


__ADS_3

Pandangan Meylani pun beralih ke Sulthan yang sedang asik menyantap makanannya dengan tenang. Ia merasa aneh pada bosnya itu.


Kenapa pak Sulthan bersikap biasa aja? Ah, bodo amat deh! Aku harus lebih kerja keras buat dapetin lelaki matang macam dia!


"Tau kok, tenang aja. Dia selalu memahamiku." Sulthan sambil terus menyantap makanannya hingga habis.


Sementara Meylani masih terus berpikir keras. Ia menjadi bertanya-tanya sendiri.


Kenapa pak Sulthan tidak jujur tentang yang sebenarnya? apa aku yang kurang update?


"Oh, syukurlah." Sita menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Bersamaan dengan waiter yang membawakan pesanannya.


Setelah waiter itu menata dan pergi dari hadapan mereka. Sita pun dengan lahap menyantap makan siangnya, sedangkan Sulthan dan Meylani telah lebih dulu selesai.


"Kamu diantar sopir atau menyetir sendiri, Sita?" tanya Sulthan setelah membersihkan sisa makanan di sekitar bibir yang ditumbuhi kumis tipis dan jenggot yang tegas itu.


"Menyetir sendiri, Kak," jawab Sita dengan mulut yang di penuhi dengan makanan.


"Oh, ya udah. Selesaikan dulu makannya, baru setelah itu kita pulang bersama," ucap Sulthan sambil bersilang dada dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Sementara itu, Meylani melirik-lirik ke arah Sulthan terus menerus. Sita yang menyadari itu, hanya menghela napas panjang dan memberi kode lewat matanya kepada Sulthan.


Meylani kalang kabut saat Sulthan menoleh ke arahnya.


"Ngapain kamu lihat-lihat saya?" tanya Sulthan dengan nada bicara santai, tapi tatapan dinginnya yang menjurus langsung ke pupil mata Meylani yang membola.


"Eng-enggak apa-apa kok, Pak ... hehe ... " Meylani membuang muka ke arah lain sambil menghela napas panjang. Sedikit melegakan, tapi detak jantungnya masih tidak keruan.


****


Setelah makan siang bersama. Sita, Sulthan, dan Meylani pergi dari restoran itu.


"Terima kasih ya, Kak udah dibayarin." Sita sedikit canggung dengan kakak iparnya. Baginya, Sulthan memang baik. Tetapi, dia sudah menjadi milik orang lain. Terkadang ia merasa lucu, orang yang tadinya akan menjadi suaminya ... eh, malah jadi kakak iparnya. Pikir Sita demikian.


"Iya, sama-sama. Next, kalau kita ketemu lagi ... kita bisa makan bersama. Tapi lebih seru kalau ada Haris juga kali ya ... " guyon Sulthan dengan tawa renyahnya kemudian.


Sita pun ikut tertawa. Kecuali Meylani yang masih tidak habis pikir, karena Sulthan berkata yang tidak pernah ia sangka selama ini.

__ADS_1


"Kamu parkir di lantai berapa, Sita?" tanya Sulthan saat mereka telah hampir tiba di pintu keluar yang sebelumnya sempat menjadi pintu masuk Sita.


"Di lantai ini, Kakak juga?" Mata Sita seketika berbinar.


"Iya. Waah, ayok kalau begitu kita samaan ... aku jadi ingin lihat! kata Haris, dia belikan mobil untukmu ... tapi aku sendiri belum lihat mobilnya seperti apa." Sulthan berbicara dengan lebih santai kali ini. Tidak sekaku sebelum-sebelumnya, yang bahkan terdengar garing.


Sita pun tergelak lagi, kali ini tawanya semakin lepas.


Ternyata kalau lama-lama berbincang sama dia, asik juga ya!


Setelah hampir dekat, Sita menekan tombol buka kunci. Mobilnya pun otomatis menyala. Sulthan dan Meylani tampak takjub dengan mobil pemberian Haris itu.


"Gila si Haris! masa istrinya dibeliin mobil laki begini. Kamu suka, Sita? kalau gak suka, tukaran dengan mobilku aja di rumah yang lebih feminim." Sulthan mengguyon lagi. Kali ini Sita hanya tersenyum.


"Aku suka kok, Kak ... hem, omong-omong soal rumah, apa yang di samping rumahku itu ... " Sita menjeda kata-katanya. Sulthan pun langsung terhubung apa maksud dari perkataan Sita itu.


"Apa kamu gak tau kalau sejak kecil kita itu tetanggaan?" tanya Sulthan yang mecoba membuat ingatan Sita kembali. Namun, hasilnya nihil. Sita tetap tidak mengingatnya dan hanya menggeleng pelan.


Sulthan menghempaskan napasnya, "Aku sih gak heran kalau kamu gak tau. Toh kita juga sama-sama punya kesibukan satu sama lain, kan?"


"Iya." Sita tersenyum sampai kedua matanya menyipit. "Oh iya, kapan-kapan .. ajak istri Kakak dong ke sini. Aku juga pengen lihat tau!" serunya lalu terkekeh.


"Jangan!" sergah Meylani yang memotongnya lebih dulu. Seketika tatapan tajam mengarah langsung ke matanya. Meylani tidak bisa berkata-kata lagi. Ia pun bersusah payah menelan salivanya seraya menundukkan kepalanya.


"Jangan? jangan apa maksudnya?" Sita mulai pemasaran. Pandangannya mondar-mandir menatap Sulthan dan Meylani bergantian menuntut sebuah penjelasan.


"Jangan sekarang, Sita. Istriku masih sibuk dengan karirnya." Sulthan meluruskan perkataan Meylani yang sangat membuatnya hampir mati kutu.


"Iya ... itu maksudku." Meylani membenarkan ucapan Sulthan barusan sambil menghela napas dan mencoba menghirup oksigen yang sempat terasa sesak di dadanya. Ia begitu takut akan tatapan bak busur panah itu.


"Oh, ya udah kalau begitu. Aku duluan ya!" pamit Sita kemudian masuk ke dalam mobil. Memang dasarnya dia itu cuek dan tidak menghiraukan hal itu.


TINTIN. Sita memberi klakson kepada Sulthan dan Meylani. Setelah Sita pergi dan menghilang dari pandangan, mereka pun berjalan ke mobil Sulthan.


"Mey, please ... jangan bilang apapun kepada Sita, okey! atau kamu akan saya pecat saat ini juga!" Sulthan menegaskan suaranya dan juga penuh penekanan.


"Maaf, Pak. Saya gak tau kalau Sita itu .... "

__ADS_1


"Udah, jangan dibahas lagi. Lebih baik sekarang, kita kembali ke kantor!" Sulthan langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


****


Sepanjang perjalanan, kedua orang di dalam mobil Audy keluaran terbaru itu hanya terdiam.


"Pak, mau tanya boleh?" Meylani meminta izin dengan hati-hati, memecah keheningan. Sulthan hanya bergumam sebagai jawaban.


"Kenapa Pak Sulthan menyembunyikan rahasia besar itu dari semua orang? apa cuma saya yang tau tentang hal itu?" Meylani pun menahan napasnya sejenak setelah melontarkan pertanyaan itu kepada lelaki yang sedang mengendarai mobil itu. Ia menunggu jawaban Sulthan dan reaksinya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Empat detik.


Lalu di detik ke lima, Sulthan menarik napasnya dalam-dalam.


"Saya harap, kamu gak pernah membocorkannya kepada siapapun. Kalau sampai itu terjadi, saya gak segan-segan memecatmu saat itu juga." Tatapan Sulthan sangat fokus ke depan, tapi kedua tangannya menggenggam erat stir yang di hadapannya.


Meylani tersenyum getir dan wajahnya pun langsung pias seketika. Diam, ya. Itu lebih baik dan tidak banyak tanya lagi pada bosnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kantor. Sulthan langsung turun lebih dulu, diikuti Meylani kemudian.


***


Sementara di kediaman Sita, mobil yang ia kendarai baru saja tiba di halaman rumahnya. Kemudian memasukkannya ke dalam garasi.


Sita mematikan mesin mobilnya seraya bernapas lega. Ia pun turun sambil membawa shopping bag yang berisi buku-buku yang tadi dia beli.


Sambil bersenandung riang, Sita masuk ke dalam rumah dan memilih langsung pergi ke kamarnya. Suasana rumah sangat sepi, terlebih kedua orang tuanya yang sedang tidak di rumah.


Sesampai di depan kamar, Sita menghela napas seraya menekan kode access untuk membuka pintunya. Rasa lelah pun mulai terasa, ia masuk ke dalam dengan langkah gontai dan tidak lupa menutup pintunya kembali.


Sita pun menaruh shopping bag itu di atas meja belajarnya, lalu berjalan ke arah sofa menghempaskan tubuhnya di sana. Sesaat kemudian, tiba-tiba ...

__ADS_1


DRETDRET ... DRETDRET.


...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...


__ADS_2