Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Dicko kecewa


__ADS_3

Sampai di rumahnya, Dicko segera mencari Gala. Hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang.


"Gala, ayah pulang!" teriak Dicko sambil berjalan menuju kamar Gala.


Saat melewati ruang tamu, Dicko terkejut melihat Mala ada disana.


"Mala, kau ada disini?" tanya Dicko sambil mendekatinya.


"Iya, kangen sama Gala dan ibu," jawab Mala sambil tersenyum.


Dicko sangat kangen melihat senyum Mala. yang sebentar lagi entah kapan bisa melihatnya lagi. Dipangkuan sang ibu, Gala tengah tertidur lelap. Dicko mendekati Mala dan meletakkan tas kerjanya di samping Mala.


"Kenapa tidak dibawa masuk, kamu nanti kecapekan," tanya Dicko sambil membuka kancing lengannya.


"Takut dia terbangun," jawab Mala.


"Tidak akan. Gala kalau sudah tidur, susah ngebanguninnya. Sini biar aku bantu angkat dia ke kamarnya," kata Dicko sambil mengangkat tubuh anaknya tanpa menunggu jawaban Mala.


Mala hanya bisa terdiam dan membiarkan Dicko membawa Gala kekamarnya.


"Mala, mana Gala? Apa kamu membawanya tidur di kamarnya?" tanya bu Sri saat baru keluar dari dapur.


"Baru saja dibawa Dicko masuk bu," Jawa Mala pelan.

__ADS_1


"Dia benar-benar seorang ayah yang baik. Sayang..."


Bu Sri menarik nafas berat. Mala paham apa maksud ibunya, karena itu Mala tidak berani mengomentari omongan ibunya. Tak berapa lama Dicko datang untuk mengambil tas kerjanya yang masih ada didekat Mala.


Ada satu hal yang ingin Dicko tanyakan pada Mala, namun dia masih maju mundur untuk bertanya. Karena Dicko rasa hal itu sangat penting bagi dia, diapun langsung bertanya.


"Mala, ibu Sri. Tadi aku melihat ada tas yang sudah dikemas, sebenarnya ada apa?"


"Ibu dan Gala akan kembali ke kampung," jawab Mala sambil menatap ibunya.


"Maksudnya?" tanya Dicko panik.


"Sebenarnya, kami baru akan memberitahu nak Dicko. Besok kami akan pulang kembali ke kampung," kata bu Sri sambil melihat Dicko yang tampak kecewa mendengar pernyataan bu Sri.


"Dicko, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Memang aku yang meminta ibu dan Gala untuk kembali ke kampung. Aku tidak ingin mereka menjadi bebanmu," kata Mala merasa bersalah.


"Siapa yang merasa terbebani? Bahkan aku merasa senang. Aku selama ini hidup seorang diri sejak kedua orangtuaku meninggal beberapa waktu lalu. Dan bu Sri sudah aku anggap seperti ibu aku sendiri," Dicko berkata dengan penuh emosi.


"Dicko, mereka hanya akan menjadi penghalang kamu untuk bisa menemukan seorang wanita yang baik," jawab Mala.


"Kenapa kamu selalu saja merencanakan. untuk kelanjutan hidupku. Menemukan atau tidak, kau tidak perlu memikirkannya. Lakukan saja sesukamu, apa yang ingin kamu lakukan."


Setelah berkata seperti itu, Dicko langsung pergi tanpa menoleh lagi. Hatinya hancur dan kecewa. Mala seolah ingin membawa semuanya pergi dari hidup Dicko. Cinta Mala padanya ternyata sudah tidak tersisa lagi. Sedangkan cintanya masih bahkan bertambah terhadap Mala.

__ADS_1


Mungkin aku harus melepaskan orang yang paling tercinta dan semuanya. Dan memulai hidup baru tanpa dia. Akan tetapi apakah aku sanggup hidup tanpa cintaku karena kutahu buah cintaku yang menjadi bukti cinta ini adalah nyata dan bukan hanya angan-anganku saja.


Kenapa aku tidak boleh mencintainya lagi? Cinta ini bukan hanya cinta Gama tetapi juga cinta Dicko yang nyata untuk Mala.


Derita batin Dicko.


Bersambung


###############


Hai sambil menunggu up selanjutnya


aku rekomendasikan novel karya teman saya. Yuthika Sarah, Begitulah Takdir. Novel yang apik dan penuh romansa. Selamat membaca.


Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.


Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.


Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.


Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?


__ADS_1


__ADS_2