
Pak Reno dan Shella sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka pada anak-anak mereka untuk sementara. Bahkan mereka berhasil membuat Mala dan Lilis berpikir bahwa mereka berdua masih belum akur.
Mala dan Lilis berencana membuat pak Reno dan bu Shella baikan kembali dan lebih baik jika mereka menikmati cinta dihari tua mereka dengan menikah. Toh keduanya masih sama-sama sendiri.
Mala akhirnya diizinkan pulang oleh dokter dengan catatan tidak boleh bekerja keras. Karena itu Dicko memutuskan Mala tetap di rumah saja seperti sebelumnya untuk menjaga kondisi bayinya baik-baik saja.
Mau tidak mau, Mala harus mau menerima permintaan suaminya demi anak yang di kandungnya. Dicko semakin memanjakan Mala, hingga Mala merasa seperti anak kecil.
Sudah hampir seminggu sejak Mala pulang dari rumah sakit, Dicko terlihat enggan menyentuhnya. Pikiran Mala mulai tidak tenang. Mala takut suaminya mencari kepuasan di luar saat dia tidak bisa memberikan apa yang suaminya mau.
Bagaimana aku tahu saat mas Dicko menginginkan itu jika dia tidak mengatakannya? Jika aku yang bertanya, apa itu pantas bagi seorang istri?
Mala teringat saat dia mendengarkan sebuah ceramah dari seorang ustadzah, bahwa meminta duluan atau setidaknya bertanya, akan mendapatkan pahala. Mungkin perlu dipraktekkan dalam rumahtangganya saat ini.
Mala tersenyum malu memikirkan hal itu, terlebih jika nanti suaminya menertawakannya. Tapi Mala ingin mencobanya demi keutuhan rumahtangganya.
Saat Dicko masuk kamar dan merebahkan diri di sampingnya, Mala berusaha memberanikan diri mengawali pembicaraan.
"Mas, apa kamu lelah? Aku bisa memijitmu," ucap Mala pelan.
"Tidak lelah. Tak perlu kau pijit. Bagaimana kalau kamu saja yang aku pijit. Supaya kamu bisa rileks dan bayi kita sehat," jawab Dicko sambil bersiap akan memijit Mala.
"Tidak perlu mas. Mas Dicko, apakah menurutmu aku masih terlihat menarik?"
"Tentu. Kamu adalah wanita yang paling cantik dan menarik bagiku meski kamu sedang hamil. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Mas nggak pernah minta?" tanya Mala malu.
"Bukannya mas nggak pingin, mas tahan aja karena takut kamu lagi nggak pingin," kata Dicko setengah berbisik ditelinga Mala.
Dicko mulai menyadari jika sang istri merasa terabaikan karena dia tidak menyentuhnya hampir seminggu ini. Biasanya dia minta jatah 2 kali seminggu atau bahkan bisa lebih.
"Jangan pernah berpikir aku mengabaikan kamu. Mala istriku tersayang, aku mencintaimu," ucap Dicko lalu mencium bibir merah Mala yang tadinya ingin membalas ucapan cinta darinya.
__ADS_1
Mereka mulai menciptakan malam penuh cinta dan gairah. Mereka menikmati lembutnya sentuhan masing-masing di area yang tak tersentuh orang lain selain mereka. Sentuhan yang menciptakan sensasi nikmat dan membuat mereka berdua larut dalam buaian cinta hingga mereka terkulai lemah setelah mencapai puncaknya.
Mala berbaring manja dipelukan suaminya.
"Mulai sekarang, jangan pernah merasa aku mengabaikanmu. Karena aku akan selalu mencintaimu, dan menciptakan kehangatan diantara kita. Tapi kamu juga berhak menolak," kata Dimas lirih ditelinga Mala.
"Aku tidak akan pernah menolak keinginanmu mas Dimas. Aku mencintaimu. Dan aku sangat bahagia jika kamu menginginkanku," ucap Mala sambil mencium pipi Dicko.
Dicko tersenyum dan mempererat pelukannya dan mereka tertidur hingga pagi menjelang.
***
Esoknya, Mala dan Lilis mulai mulai merencanakan pertemuan antara pak Reno dan bu Shella dan menciptakan suasana agar mereka bisa kembali bersama.
Hari itu sengaja Lilis mengajak Pak Reno datang ke rumah Mala. Sedangkan Mala sengaja menelepon ibunya untuk datang menjenguknya hari ini.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..." jawab Mala yang segera membukakan pintu untuk mereka.
"Masuk-masuk. Dodi, pergilah ke kamar kak Gala. Dia sudah menyiapkan banyak mainan ketika tahu kamu akan datang," kata Mala sambil menunjuk ke arah kamar Gala.
"Hore, Dodi ada teman bermain," teriak Dodi sambil berlari menuju kamar Gala.
"Mbak Lilis dan pak Reno mau minum apa?" tanya Mala.
"Bagaimana kalau kita buat minuman bersama. Aku jarang di rumah, jadi mau belajar membuat minuman sama kamu," kata Lilis.
"Boleh. Mala ke dapur dulu ayah. Ayo," ajak Mala.
"Lilis pergi ke dapur sebentar ayah. Belajar membuat kopi untuk ayah," kata Lilis sambil tersenyum.
"Baiklah, ayah akan ikut main bersama Gala dan Dodi saja," kata pak Reno sambil berdiri
__ADS_1
"Tidak boleh. Nanti kalau ibu datang, siapa yang bukakan pintu. Jadi ayah disini saja," ucap Mala sambil mendudukkan ayahnya kembali.
Pak Reno setuju saja atas perlakuan mereka. Pak Reno tersenyum ketika dia mulai menyadari jika kedua putrinya memiliki niat terselubung.
Jika mereka ingin menjodohkan aku dan Shella, mereka sudah berhasil sebelum mereka berusaha. Karena Shella sudah menerima lamaranku.
Tidak berapa lama, terdengar suara pintu diketuk. Pak Reno bergegas membuka pintu dan dia tersenyum ketika melihat Shella yang datang.
"Kenapa mas Reno tersenyum saat melihatku? Apakah ada yang lucu dengan penampilanku?" tanya Shella panik.
"Cantik, Kamu masih sama cantiknya dengan Shella yang dulu. Tidak ada yang berubah," ucap Reno mengumbar rayuan.
"Aish, haruskah aku bilang wow gitu. Kamu juga tidak berubah, masih suka ngegombal kayak dulu," ucap Shella membalas ucapan Reno.
"Tapi kamu suka kan, sayang?" ucap Reno sambil menarik Shella kedalam pelukannya.
Mereka tersenyum penuh kebahagiaan setelah 25 tahun hal itu hanya menjadi sebuah mimpi bagi mereka. Perasaan yang tidak pernah mereka rasakan saat mereka berpisah.
Braak...
Terdengar suara benda jatuh dari arah ruang sebelah dan membuat pak Reno dan bu Shella melepaskan pelukan mereka. Rupanya Lilis dan Mala sedang mengintip dan menguping dari balik pintu ruang sebelah dan mereka menjatuhkan sebuah vas bunga.
Mala meminta bibi membersihkan vas bunga yang jatuh agar tidak mengenai kaki. Setelah itu, dia duduk bersama ayah, ibu dan Lilis di ruang keluarga.
"Ayah, ibu. Kenapa tidak bilang pada kami jika kalian sudah memutuskan untuk bersama lagi?" tanya Mala mendikte.
"Kami ingin menunggu waktu yang tepat baru mengatakannya pada kalian. Tetapi ternyata kalian tahu lebih cepat dari perkiraan kami," jawab pak Reno.
"Ini adalah kabar baik, jadi kalian tidak perlu menyembunyikannya dari kami," ucap Lilis.
"Jadi bagaimana, apakah ayah dan ibu akan segera menikah?" tanya Mala to the point.
Pak Reno dan bu Shella saling berpandangan. Mereka belum pernah membicarakan tentang pernikahan.
__ADS_1