
Sulthan berdecak sambil masukkan kedua tangan ke dalam saku celananya lalu menarik napasnya dalam-dalam, dan kemudian menggaruk keningnya yang terasa tidak gatal.
"Ya udah terserah kamu! ini penawaran terakhirku. Kalau gak ingin hidupmu terjamin, siap-siap aja menjalani kehidupan yang sesungguhnya." Sulthan membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Sita yang masih membatu dengan segenap amarahnya yang masih menggebu-gebu. Ia memasangkan kembali kacamata hitamnya, lalu masuk ke dalam mobil tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sita.
Orang-orang yang memakai pakaian dengan stelan jas hitam dan kemeja putih itupun satu per satu meninggalkan halaman rumah itu. Sita masih berusaha menormalkan deru napasnya. Perlahan, ia membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah teras untuk mengambil koper dan tas ransel miliknya.
Baiklah, sekarang aku harus pergi mencari tempat kos. Mungkin, aku mencarinya dekat kampus. Semangat Sita! Setelah ini, aku harus mencari keberadaan kedua orang tuaku dengan segera!
Sita mengeluarkan ponsel kesayangannya untuk memesan taksi online. Karena ponsel pemberian Haris sengaja ia tinggal di dalam kotak bersamaan dengan barang yang lainnya.
******
Siang hampir kehabisan masa. Sebentar lagi sore akan tiba dengan rona jingganya yang khas. Kini Sita telah berada di kompleks kos-kosan dekat dengan kampusnya.
"Pak, tunggu sebentar ya. Saya mau masuk ke dalam dulu." Sita meminta sopir taksi itu untuk tetap menunggu. Karena ia harus memastikan kalau di kompleks itu masih ada kamar kos yang kosong.
Setelah mendapat jawaban yang diiringi oleh anggukkan kepala, Sita keluar dari mobil dengan hanya membawa dompet dan juga ponsel. Ia berjalan dari satu rumah ke rumah yang lainnya.
Hampir satu jam Sita berkeliling kompleks itu, semua kamar kos di tiap-tiap rumah tersebut telah terisi penuh. Kini tinggal rumah terakhir, Sita mulai mengetuknya.
Tak lama pintu pun terbuka. Tampak seorang perempuan memakai daster lengan pendek dengan panjang hingga lutut, serta rambut yang penuh dengan roll berwarna pink dan juga kipas yang berkibas di tangan kanannya.
"Ada perlu ape?" tanya perempuan itu dengan ketus, bukan hanya ucapannya tapi juga raut wajah ya.
"Maaf Bu, saya mau tanya ... apa masih ada kamar kos yang kosong?" tanya Sita dengan hati-hati. Perempuan itu memutar malas bola matanya.
__ADS_1
"Gak ade! udeh penuh semuanye!" Perempuan itu kemudian masuk ke dalam lalu menutup pintunya kembali dengan cukup keras. Sita terlonjak kaget dengan sikap perempuan itu.
Sita berdecak kesal lalu menyalakan layar ponselnya. Akan tetapi, tak sengaja jempolnya ke aplikasi taksi online yang sejak tadi ia pesan. Tak disangka, taksi itu berjalan menjauh dari tempat yang tadi sempat ia suruh untuk menunggu.
Tanpa babibu, Sita langsung berlari keluar gerbang kompleks tersebut. Namun, setibanya di gerbang ternyata taksi itu sudah benar-benar tidak ada di sana.
Sita membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu di lutut. Ia berusaha mengatur napasnya kembali.
"Sial! kenapa pergi sih itu taksi!" Sita menggerutu kesal. Pasalnya tas ransel serta dua buah kopernya ada di sana. Sementara waktu telah menunjukkan pukul empat sore.
Sita mulai menoleh ke kanan dan kiri, lalu menelepon sopir taksi yang ia dapat dari aplikasi itu. Namun, saat ia hendak menaruh ponselnya ke telinga ... seseorang menyekap hidungnya dari belakang. Sita yang panik pun menghirup aroma di kain itu dan akhirnya tak sadarkan diri.
Sebuah mobil Pajero berwarna hitam menghampiri mereka. Sita pun dibawa masuk ke dalam mobil itu. Sita kemudian di tempatkan di kursi paling belakang dengan posisi rebahan.
Tidak sampai setengah jam, mobil yang membawa Sita telah masuk ke halaman apartment. Tampak seorang laki-laki bertubuh kekar dengan wajah maskulinnya berdiri di depan lobby. Saat mobil berhenti, laki-laki itu berjalan menghampiri mobil itu lalu mengeluarkan Sita dari sana dan membawanya masuk ke dalam. Sita yang masih dipengaruhi obat bius itu, benar-benar tidak sadarkan diri.
Sita dibawa ke salah satu unit yang ada di apartment itu. Namun saat laki-laki itu hendak keluar dari lift itu, ia merasa Sita mulai sadarkan diri. Tangan kekarnya dengan cepat menahan Sita supaya tidak melihat wajahnya.
Sementara Sita, perlahan membuka kedua matanya. Ia berulang kali mengerjapkan kelopak matanya agar penglihatannya jelas kembali. Walau Sita tidak bisa melihat wajah laki-laki itu, ada hal lain yang tidak dapat mengelabuinya. Parfum.
Sita tahu betul wangi parfum yang ada di tubuh laki-laki yang mengangkat tubuhnya itu. Laki-laki yang ingin ia mintai kejelasan. Setelah kejadian beberapa jam yang lalu, dirinya masih benar-benar marah.
Diam, dia masih tetap diam dan tidak banyak bergerak saat berada di pundak laki-laki itu. Hingga keduanya telah masuk ke dalam unit apartment itu, tapi lampu yang ada didalamnya seperti sengaja tidak dinyalakan.
Lagi-lagi Sita masih diam, ia mengumpulkan segenap kekuatannya supaya tidak bisa dilemahkan begitu saja. Laki-laki itu membuka sebuah pintu, semua ruangan di sana tampak gelap gulita. Entah terbuat dari apa matanya, seolah ia tahu betul letak dimana saja ruangan yang ada di unit apartment itu.
__ADS_1
Kemudian Sita diturunkan di sebuah benda empuk yang berukuran cukup luas.
Kasur.
Sita tersentak dan bersusah payah menelan salivanya.
"Aku tau itu kamu!" sergah Sita yang merasakan hembusan napas yang keluar dari hidung laki-laki itu. Sangat dekat bahkan hangat.
Laki-laki itu tidak menyahut perkataan Sita, melainkan turun dari sana dan berjalan menuju sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Kedua tangan Sita pun meremas kain yang ia yakini itu adalah sprei.
Dalam satu petikan jemari, lampu di ruangan itu perlahan menyala tapi hanya temaram dan tampak hitam putih. Sita meneliti ke ruangan itu, bibirnya terasa kaku. Apalagi saat melihat laki-laki itu duduk di sofa.
"Mas!" panggil Sita yang sudah tidak tahan ingin meluapkan emosinya.
Laki-laki itu menoleh dengan tatapan biasa saja dan tampak sendu seketika. Sita pun turun dari tempat tidur itu dan berjalan mendekatinya, yang tiada lain adalah Haris, suaminya.
Ruangan ini, adalah ruangan yang tadi sempat ia sambangi. Ada rasa takut di dalam hati Sita saat ia mengingat benda-benda yang ada di dalam salah satu lemari yang ada di sana.
Saat Sita berdiri tepat di samping Haris, tangan kekar laki-laki itu dengan cepat menarik lengannya. Sehingga dirinya pun terjatuh di atas pangkuan Haris. Mata keduanya pun saling terkunci, sejenak semua kata-kata yang akan Sita lontarkan itu tersimpan di bibirnya yang mengatup rapat-rapat.
Secepat mungkin, Sita tersadar dan mulai memberontak.
"Turunkan aku!"
__ADS_1
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...