
"Tadi setelah mendapat telepon entah dari siapa ... Bunda juga gak tau. Ayahmu pamit sama Bunda kalau dia pergi keluar sebentar. Mungkin sebentar lagi akan kembali," jawab Rose yang tersenyum kemudian.
Haris melihat waktu di layar ponselnya. Sita pun sempat melirik sejenak, langit memang telah gelap sejak mereka sampai. Di layar itupun jelas terlihat telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam waktu Mulhouse, Swiss.
"Emangnya ayah naik apa Bun? udah malam loh ini," tanya Sita yang berdecak kemudian. Ada rasa khawatir di dalam hatinya. Sebab, yang tadi ia lihat di sekeliling kompleks rumah inipun sangat sepi.
"Bunda juga gak tau. Waktu ayah pergi, kebetulan pas banget Bunda mau buang air. Terus setelah itu gak lihat lagi ayah kemana dan naik apa." Rose *******-***** jemarinya. Sejujurnya ia juga sedang cemas sedari tadi. Ditambah rasa lelah yang menguasainya membuat wajahnya pun kian menjadi pucat.
Sita menghela napas panjang lalu menoleh ke suaminya dan mengerjapkan mata sesaat.
"Ya udah, sekarang lebih baik Bunda istirahat ya. Ayok Sita bantu ke kamar," ujar Sita seraya berdiri dan menghampiri Rose.
"Iya Nak." Rose yang benar-benar merasa lelah pun menurut. Ia kemudian berdiri dan memberitahu Sita yang menuntunnya untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Setibanya di kamar, Rose dibantu untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur oleh Sita.
"Nak, kamar kalian di lantai dua ya. Soalnya, di lantai satu ini cuma ada satu kamar," ucap Rose dengan suara lirihnya.
"Iya Bunda, yang penting sekarang Bunda istirahat ya." Sita mengelus lembut tangan Rose lalu menciumnya. Sesaat kemudian, perempuan paruh baya itu memejamkan matanya dan tak lama dengkuran halus pun terdengar di telinga Sita.
Ditariknya selimut yang tidak terlalu tebal hingga ke dada perempuan paruh baya itu. Sita pun keluar dari kamar Rose kemudian. Ia mencari keberadaan suaminya di sekeliling ruangan di lantai itu, dan tidak ada.
Sita pun keluar dari rumah itu, ternyata Haris baru saja masuk ke dalam gerbang rumah.
"Udah. Kamu darimana Mas?" Sita mengernyit sambil bersilang tangan di dadanya.
"Oh, tadi nyari angin sebentar sambil nunggu ayahmu," jawab Haris dengan nada santainya.
__ADS_1
"Ya udah yuk masuk ke dalam. Kata bunda, kamar kita di lantai dua." Sita mengalungkan tangannya di lengan Haris dan masuk ke dalam. Tak lupa, Haris pun menutup pintunya kembali.
******
Setibanya di lantai dua, ternyata memang hanya ada satu kamar yang berukuran cukup luas dan sebuah tangga yang menuju lantai tiga, tapi di depan tangga itu di buatkan sebuah pagar yang di gembok. Lampu menuju lantai tiga pun mati dan sangat gelap.
Pandangan Sita ke arah anak tangga dan rasa penasaran pun mulai tumbuh di hatinya. Namun, Haris segera menarik tangan istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar. Sita terkesiap.
Saat lampu di nyalakan, ternyata kamar itu sangatlah rapi, wangi dan juga bersih. Walau designnya tampak zaman dulu, dengan sprei motif bunga dan furniture kayu jati yang khas, tapi tidak sedikitpun mengurangi keindahan yang memanjakan mata.
Haris berdiri di depan cermin, lalu berkata, "Sebaiknya kamu mandi, setelah itu kita .... " tapi ia tidak meneruskan perkataannya. Sita pun mengernyit dan melihat suaminya lewat pantulan cermin tersebut.
"Kita apa ?"
__ADS_1
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...