Penantian Di Ujung Senja

Penantian Di Ujung Senja
Melamar?


__ADS_3

"Apa benar wanita itu ibumu?" tanya pak Reno tidak percaya.


"Benar, tapi kami baru saja bertemu," jawab Mala sambil tersenyum.


"Ibu kandungmu?" tanya pak Reno lagi.


"Dia putri kita," kata bu Shella membuat orang-orang yang ada di ruangan itu kaget.


"Putri kita? Maksud ibu apa?" tanya Mala ingin memperjelas perkataan ibunya.


"Dia adalah ayah kandungmu," ucap bu Shella datar.


Mala dan pak Reno saling bertatapan. Perlahan namun pasti pak Reno mendekati Mala yang masih tidak bisa percaya jika hari ini dia telah bertemu dengan ibu dan ayah kandungnya.


Ternyata kecelakaan Mala kali ini bisa dianggap membawa berkah. Walaupun mereka bertemu di suasana yang sama-sama canggung.


"Mala, putriku?" kata pak Reno hendak memeluk Mala.


"Tunggu, Mala sedang hamil. Jadi jangan terlalu erat," ucap bu Shella menghentikan pak Reno.


"Oh Mala, kamu sedang hamil? Aku bakalan punya cucu?" ucap pak Reno senang.


"Sekarangpun sudah," jawab bu Shella dingin.


"Benarkah? Dimana cucuku?" tanya pak Reno penuh semangat.


Lilis dan Mala hanya diam melihat kedua orang tua itu terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang marahan. Tampak cuek tapi terlihat masih ada cinta diantara mereka.


"Aku juga belum pernah bertemu," jawab bu Shella.

__ADS_1


"Ayah, ibu. Nanti setelah Mala pulang, kalian bisa bertemu cucu kalian. Namanya Gala," kata Mala menengahi kecanggungan mereka.


"Asyik, nanti Dodi mau main sama kak Gala ya mam?" tanya Dodi sambil tersenyum.


"Iya, nanti kita main ketempat tante Mala. Tapi Dodi harus nurut nggak boleh nakal," kata Lilis sambil mencubit pipi chubby Dodi pelan.


"Oke mama," jawab Dodi senang.


"Mala, Ibu keluar dulu cari udara segar. Di sini rasanya sesak nafasku," kata bu Shella.


Mala mengangguk pelan sambil tersenyum. Bu Shella segera keluar dari ruangan karena merasa hatinya kacau. Pikirannya tidak karuan dan dia tidak ingin terlihat kacau di depan Reno.


Tidak lama setelah bu Shella pergi, pak Reno juga pamit pada Mala dan Lilis untuk keluar. Mala dan Lilis mengiyakan saja, pasti mereka butuh waktu dan tempat yang tenang untuk menjernihkan apa yang terjadi 25 tahun lalu.


Bu Shella duduk termenung di kursi tunggu rumah sakit. Matanya berkaca-kaca.


Bukankah seharusnya hatiku senang bisa bertemu lagi dengannya? Sekarang, aku tidak hanya menemukan putri kandungku, tetapi juga ayah dari anakku. Apakah karena dia tidak lagi peduli padaku? Mungkin dia sudah tidak mencintaiku lagi. Dia sudah menikah dan memiliki anak dan cucu. Tidak seperti aku yang tidak bisa melepaskan cintanya selama 25 tahun.


Suara Reno membuyarkan lamunan bu Shella. Shella menatap wajah Reno yang tidak banyak berubah. Reno masih tetap terlihat tampan meski sudah mulai menua.


"Reno..."


Reno duduk di samping Shella dibatasi satu kursi kosong. Reno tidak berani lebih dekat karena dia masih belum tahu kondisi Shella yang sebenarnya.


"Apa kabar?" tanya Reno pelan.


"Baik," jawab Shella datar.


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu. Lebih tidak menyangka lagi, akan bertemu putri dan cucuku. Ini sangat mengagetkan aku," kata Reno sambil menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Aku juga. Tapi, aku sangat senang bertemu putriku," kata Shella.


"Kalau bertemu aku? Apakah kau juga senang?" tanya Reno sambil menatap Shella dalam-dalam.


"Kamu sendiri, apakah kamu senang bertemu aku?" Shella balik bertanya.


"Tentu saja senang, bahagia tapi juga kesal."


"Kesal?!" wajah Shella berubah suram.


"Iya. Karena ternyata aku masih tetap mencintaimu meski sudah lebih dari 25 tahun tidak bertemu denganmu," kata Reno lega karena sudah mengutarakan isi hatinya pada Shella.


Shella tersenyum dalam hati, tetapi mulutnya masih saja terlihat manyun. Sebenarnya ingin sekali dia bilang kalau dia juga masih mencintai Reno setelah 25 tahun ini.


"Shella, maukah kamu menjalani sisa hidup ini bersamaku?"


Shella terkejut mendengar ucapan Reno yang tiba-tiba melamarnya.


"Kamu melamarku?!" tanya Reno.


"Iya, meski di tempat seperti ini. Aku tidak ingin terlambat lagi dan menyesal lagi seperti dulu," ucap Reno jelas.


Shella seolah berpikir, padahal dia ingin segera berkata iya aku mau.


"Iya. Aku bersedia."


Jawaban Shella bagai angin segar di musim kemarau. Tanpa berpikir lagi, Reno langsung mendekati Shella dan memeluknya erat-erat. Seolah tidak ingin melepaskan Shella lagi.


"Bagaimana dengan anak-anak kita? Apa mereka akan setuju?" tanya Shella sedikit bergetar.

__ADS_1


"Kita lihat saja dulu kondisinya. Nanti kita baru meminta izin pada mereka," jawab Reno.


Mereka berpelukan kembali dan melepaskan kerinduan 25 tahun ini.


__ADS_2