
Hari pernikahan Mala dan Dicko sebentar lagi tiba. Semua sudah selesai di persiapkan, mulai dari baju pengantin hingga catering untuk para tamu. Pernikahan yang kedua bagi Mala dan Dicko.
Namun hati Mala sangatlah galau, terlebih karena sampai saat ini Dicko belum juga datang. Tidak hanya Mala yang tampak panik, tetapi juga ayah dan ibu Mala.
Hari ini hari pernikahan Mala dan Dicko. Untuk menghilangkan rasa galaunya, Mala pergi ke pantai setelah memakai kebaya pengantin. Matanya tertuju jauh ketengah lautan yang tidak bertepi. Sesekali dia melempar kerikil kearah air yang kadang pasang dan surut seperti hatinya saat ini.
Mala memejamkan matanya dan berharap keajaiban akan datang menghampirinya ketika matanya terbuka nanti. Namun sebelum matanya terbuka, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang dan membisikkan sesuatu yang ingin dia dengar saat ini.
"Mala, aku datang memenuhi janjiku. Dan menghentikan penantianmu yang melelahkan. Aku mencintaimu, Mala."
Mala seolah sedang bermimpi dan tidak ingin semua ini berakhir setelah dia membuka matanya nanti. Karena itu Mala belum ingin membuka matanya sampai dia merasa puas merasakan mimpi yang indah baginya ini.
Sampai akhirnya Dicko kembali berbisik ke telinga Mala dengan lebih manja.
"Kalau kamu terus disini, kapan kita nikahnya? Keburu pak penghulunya pergi."
Mala tersentak kaget lalu membuka matanya. Pelukan itu masih ada dan suara deru nafasnya berhembus disamping wajah Mala. Apalagi detak jantungnya yang cepat membuat tubuh Mala bergetar.
"Jadi bukan mimpi?!" gumam Mala sambil memegang tangan Dicko yang sejak tadi melingkar di perutnya.
Mala berputar badan dan Dicko tersenyum melihat Mala yang masih tidak bisa percaya jika Dicko benar-benar datang di hari pernikahannya. Sebuah kecupan di kening Mala membuat Mala sadar jika semua itu bukan mimpi.
Dicko dan Mala bergegas kembali ke rumah untuk menjalani prosesi pernikahan. Ucapan ijab Kabul Dicko membuat Mala terharu dan meneteskan airmata.
"Sah, sekarang kalian telah resmi menjadi suami istri," kata pak penghulu.
Doa dari semua orang mengiringi doa dari pak penghulu. Prosesi pernikahan telah selesai dan semua sesuai harapan. Acara makan-makan dan ucapan selamat dari para tamu sudah membuat Mala dan Dicko lelah.
__ADS_1
Malamnya, tentu adalah prosesi malam pertama. Malam pertama pernikahan kedua dengan orang yang sama. Tapi kelihatannya tidak bakal terjadi karena Gala dengan senangnya mengikuti ayah dan ibunya dan tidak mau pergi.
Mala dan Dicko hanya bisa tersenyum melihat tingkah Gala yang seolah ingin selalu ada diantara mereka. Mereka akhirnya menunda malam pertama mereka hingga mereka kembali ke kota besok.
Meski tidak bisa melakukan malam pertama, Dicko masih bisa menikmati memandangi wajah cantik Mala tanpa takut lagi Mala akan marah.
"Kenapa melihatku seperti itu mas, apa ada yang salah denganku?" tanya Mala.
"Nggak kok. Hanya saja akhirnya wajah cantik ini menjadi milikku. Aku ingat perjuanganku juga begitu berat untuk bisa memilikimu kembali. Menunggu dan maju ketika saatnya tiba," kata Dicko.
Mala tersenyum manja mendengar ucapan Dicko. Mala mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Dicko. Hal itu membuat Dicko gugup dan bingung karena baru kali ini wajah Mala begitu dekat setelah dia menjadi Dicko.
Malam ini meski tidak bisa menjalani malam pertamanya, setidaknya dia bisa melampiaskan debaran hatinya dengan memeluk dan menciumi istrinya sepanjang malam dan Mala hanya bisa membiarkan Dicko berbuat semaunya.
Esoknya Mala, Dicko dan Gala akan pergi ke kota. Mulanya mau mengajak ayah dan ibunya, tetapi mereka tidak mau dan memilih tetap berada di kampung. Meski Mala dan Gala sedih, Mala menghormati keputusan mereka.
Biasanya perjalanan jauh begitu sangat membosankan, tetapi kali ini berbeda. Senyuman manis tidak pernah pudar dari wajah Mala dan Dicko. Sedangkan Gala tertidur karena kelelahan.
Menjelang sore mereka baru sampai di rumah Dicko. Mala turun dan membuka pintu belakang mobil memberi kesempatan Dicko untuk menggendong Gala yang masih tidur. Senyum Dicko terlihat mesum ketika dia melihat Mala terlihat juga mengantuk hingga membuat Mala ingin tertawa.
Mala mengikuti langkah Dicko menuju kamar Gala yang sudah dipersiapkan sejak awal. Sebelum keluar, Dicko melirik ke arah Mala sambil berbisik mesra.
"Jangan lupa nanti malam," bisik Dicko membuat Mala tertawa pelan mendengar bisikan suaminya.
Setelah menyelimuti Gala, Mala melangkah keluar untuk membersihkan diri. Mala masih berdiri di depan kamar Gala. Entah kenapa, dia ragu untuk melangkah menuju kamar Dicko yang sekarang adalah suaminya.
Hal itu diketahui Dicko ketika dia hendak keluar untuk memanggilnya. Dicko mendekatinya dan kembali menggodanya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu tampak ragu? Kamarku juga bukan tempat yang menakutkan kok. Aku akan membawamu ke kamar, jadi kamu bisa mandi dan aku sudah menyiapkan pakaian ganti untuk kamu."
"Iya, maaf mas."
Mala mengikuti langkah Dicko menuju kamar mereka. Dicko pun membukakan pintu kamar dan menunjukan baju ganti pada Mala. Mala tersenyum dan dia segera masuk ke kamar untuk segera mandi.
Pakaian ganti yang disiapkan Dicko ternyata adalah kemeja putih milik Dicko. Mala tidak tahu apakah harus memakainya atau dia mencari pakaian lagi. Sedangkan semua pakaiannya kotor dan belum dicuci.
Dengan terpaksa Mala menggunakan pakaian itu tanpa mengeluh.
Malam pertama Mala dan Dicko akankah berhasil atau gagal lagi karena Gala?
#######
Sambil menunggu up selanjutnya , otor rekomendasikan satu novel apik karya teman otor bernama Eet Wahyuni Sahndi berjudul Legenda giok kembar. Selamat membaca.
Blurb :
Pada 16 tahun yang lalu, Keluarga Shen dan Keluarga Yu mengadakan suatu perjanjian pernikahan aliansi antara kedua keluarga. Dan mereka sepakat, bahwa anak kedualah yang akan menjadi pengikat tali aliansi kedua keluarga tersebut.
Namun siapa yang menyangka, jika ternyata anak kedua dari Keluarga Shen adalah seorang gadis dengan fisik tak serupa dengan Shen Xu saudara kembarnya yang cantik jelita.
Yu Zhen yang merupakan tuan muda kedua Keluarga Yu, menolak pernikahan aliansi tersebut dengan suatu alasan. Yu Zhen masih ingin mempelajari ilmu yang mengharuskan dirinya untuk tetap menjaga keperjakaannya.
Shen Ji yang merasa ditolak oleh Yu Zhen dan terus ditindas oleh Shen Xu, akhirnya melarikan diri dari keluarganya hingga dia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah takdirnya.
__ADS_1