
"Apa kamu sungguh ingin tau?" Haris meraih kedua tangan istrinya, ditatapnya dalam-dalam walau sedikit menunduk— karena tubuhnya jauh lebih tinggi daripada Sita.
"Iya, aku sangat, sangat, dan saaaangat ingin tau." Kini Sita menatap balik suaminya dengan wajah lurus ke depan, tapi kedua matanya di naikkan ke atas sambil menggigit bibir bawahnya.
Haris mengangkat kedua alisnya dan mengalihkannya ke arah lain sambil menarik napasnya dalam-dalam. Tiba-tiba, ia memegang tangan Sita dan menariknya keluar dari kamar, seiring hembusan napas yang ia keluarkan.
"Kita mau kemana Mas?" tanya Sita yang mulai penasaran sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Kondisi rumah mewah itu tampak sepi.
Pada kemana orang rumah? bahkan pelayan pun sampe gak ada yang berlalu-lalang.
"Ikut aja, nanti juga kamu akan tau jawabannya." Haris menoleh sekilas lalu menatap kembali ke depan. Ia pun membawanya ke garasi rumah.
Sita bahkan tidak sadar, Haris telah memegang kunci mobil Ferrari-nya itu. Apa mungkin dia punya kunci cadangannya? pikir Sita demikian.
Pintu mobil pun sengaja Haris bukakan untuk istrinya. Tak lupa dengan gesture tubuh ala pangeran yang mempersilahkan sang permainsuri masuk ke dalam kereta kencananya.
Sita tersipu malu seraya berkata, "Terima kasih." Kemudian masuk ke dalam. Setelah itu, pintu pun ditutup kembali oleh Haris.
Sita memperhatikan Haris berjalan, hingga masuk ke dalam mobil. Pandangannya tidak terlepas sedikitpun dari pangeran yang sudah duduk di sebelahnya itu.
"Kenapa kamu lihatin aku segitunya?" tanya Haris sambil mulai menyalakan starter, lalu melepaskan rem tangannya. Sita terlonjak kaget dan salah tingkah.
"Ehem .... " Sita melonggarkan tenggorokannya saat mobil mulai melaju. "Aku ... cuma suka gaya berpakaian Mas kayak gini." Pandangannya beralih ke luar jendela lalu menunduk.
"Oh ya?" Haris spontan sambil menoleh. Sementara Sita hanya bergumam lalu mengangguk tanpa menoleh ke arahnya. Haris pun mengulum senyumannya.
"Mas kita mau kemana sih? bukannya ini udah waktunya makan siang ya?" cecar Sita sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.
"Ternyata kamu bawel juga ya," ledek Haris yang pandangannya masih fokus menyetir. Sita hanya menahan senyum sambil mendelik.
"Santai, Sayang. Tetap duduk dengan tenang dan nikmati perjalananmu," anjur Haris dan Sita hanya menghela napasnya.
*******
__ADS_1
Setelah hampir lima belas menit berkendara, mereka pun memasuki salah satu mall terbesar yang biasa Sita sambangi untuk ke toko buku. Haris memarkirkan mobilnya di parkiran paling atas mall ini.
Di bawah matahari yang terik, keduanya turun dari mobil sesaat setelah Haris mematikan mesin mobilnya.
DEP DEP.
Pintu mobil itu di tutup bersamaan. Haris mempercepat langkahnya, supaya bisa berjalan beriringan dengan istrinya itu.
"Sini tangannya!" pinta Haris yang mengulurkan tangannya, Sita menatap wajahnya lalu meraih uluran tangan suaminya itu.
Di lantai ini hanya ada head office yang terdapat di sudut parkiran. Haris menuntun Sita ke arah sana.
Hingga keduanya sampai di depan lobby, Sita seketika bisa menebaknya. Karena ia melihat ada seseorang yang tiada lain adalah Sulthan.
Haris membuka pintu itu membuat Sulthan menoleh lalu menyudahi panggilan teleponnya.
"Haris, sejak kapan ke sini? Bukannya kamu bilang banyak kerjaan di sana?" cecar Sulthan dengan berbagai pertanyaan. Haris pun tertawa, sedangkan Sita hanya tersenyum hingga kedua matanya menyipit.
"Ini kita gak disuruh masuk dulu gitu?" sindir Haris yang kini membuat Sulthan tertawa karena salah tingkah.
"Ternyata ruang kerja Kakak di sini nyaman juga ya!" ujar Haris seraya duduk di sofa berwarna hijau itu bersamaan dengan Sita dan juga Sulthan.
"Ya ... beginilah. Omong-omong ada apa kalian menemuiku di kantor?" tanya Sulthan seraya menggaruk dagunya yang tidak gatal.
"Jadi, kita .... " Haris menoleh ke Sita sebentar lalu ke Sulthan kembali. "Mau ngajak Kakak makam siang bareng, gimana? Sibuk gak?" tawarnya dan menanti jawaban Sulthan kemudian.
"Sebentar, biar aku hubungi sekretarisku dulu ya." Sulthan berdiri lalu berjalan menuju meja kerjanya dan melakukan sebuah panggilan pada telepon yang ada di atas meja.
Haris dan Sita pun bersedia menunggu bos besar itu. Tidak sampai lima menit, Sulthan menutup sambungan teleponnya.
Tidak lama pula, pintu ruangan Sulthan pun ada yang mengetuk.
"Masuk!" teriak Sulthan dari dalam dan pintu pun terbuka.
__ADS_1
"Permisi, Pak," ucap seorang perempuan memakai pakaian kantor yang sangat modis, tapi tidak menonjolkan lekuk tubuhnya. Sita yang melihat perempuan itu membuka pupil matanya lebar-lebar.
Apa benar itu Meylani? Perempuan yang kemarin sempat makan siang bersama? Kenapa penampilannya jauh lebih sopan di banding kemarin? Entah apa yang merasukinya.
"Ayok, Ris, Sita. Kita makan siang bersama!" perintah Sulthan dan keduanya pun berdiri lalu mengekor Sulthan di belakangnya.
"Kak, ini sekretarismu?" tanya Haris sambil melirik ke arah Meylani. Sulthan hanya mengangguk sebagai jawaban dengan pandangan yang lurus ke depan.
Sita yang melihat tatapan yang di berikan suaminya ke Meylani, hanya terdiam dengan hati yang berkecamuk. Apa Sita cemburu? Mungkin iya. Mereka masuk ke dalam lift bersamaan.
TING. Lift pun berhenti di lantai tempat khusus restauran. Sulthan dan Meylani keluar lebih dulu, kemudian Haris dan juga Sita. Namun saat Sita keluar, ia tidak sengaja menabrak bahu seseorang.
"Maaf .... " Sita menunduk lalu pergi tanpa melihat orang yang baru aja di tabraknya.
"Iya gak apa-apa, Mbak!" Suara laki-laki itu membuat Sita melirik sekilas dan berlalu darinya. Laki-laki itu hanya tersenyum menatap Sita yang berangsur menjauh darinya seiring pintu lift yang mulai tertutup.
******
Kini, keempat orang itu telah berada di sebuah restauran tempat Sita makan siang bersama juga dengan Sulthan dan Meylani kemarin. Seperti biasa, seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan buku menu kepada masing-masingnya.
Ketika Sita hendak memilih makanan, ia tidak sengaja menatap Meylani dan Haris saling mencuri pandang. Sontak ia membenarkan posisi duduknya seraya menyebutkan makanan yang telah ia pilih sembarangan—tanpa berpikir lebih dulu.
"Saya pesan spicy wings, milk shake strawberry ice cream, sama ... hot ramen!" Sita berkata dengan lantang dan penuh penekanan. Ia benar-benar mulai terbakar api cemburu.
Sulthan yang melihat sikap Sita hanya terdiam dengan tatapan yang tidak lepas dari perempuan itu. Ia pun kemudian menyebutkan pesanannya kepada pelayan restauran, dilanjutkan oleh Haris dan juga Meylani.
Setelah pelayan itu pergi, Sita berdiri dari tempat duduknya. "Permisi, saya mau ke toilet," pamitnya kemudian pergi dari hadapan mereka.
"Haris, kamu gak lihat kalau istrimu sedang cemburu?" sindir Sulthan dengan wajah datarnya.
Dengan santainya Haris menjawab, "Mungkin dia mau datang bulan, Kak ... jadi sensitif."
Sulthan menghela napas panjang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Meylani, hanya tetap tidak bergeming di tempatnya.
__ADS_1
Begitulah hati, kalau ia merasa telah memiliki seseorang. Walau hanya sebuah lirikan, pasti pikirannya juga terkontaminasi virus cemburu buta. Lantas, bagaimana Sita menyikapinya setelah ini? Apa dia akan marah atau bersikap biasa saja?
...🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹...