
” Bu Ki...terima kasih berkat kalian kami terbebas dari malapetaka yang akan menimpa tanah Jawa ini.”
” Ki Ageng, nyai darsih ini adalah sudah kewajiban kami,dan sangat menyesal kami tidak dapat menolong tuan jaka.”
” jangan kamu sesali Bu Ki,ini sudah suratan takdir,karena Jaka sudah memilih jalan yang salah.”
” Ki saya dan ayah saya akan kembali ke pulau es,saya pamit Ki nyai.”
” secepat itukah kalian akan pergi Bu Ki?”
” benar Ki ada sesuatu yang harus saya dan ayah saya lakukan.”
Cia Bu Ki tidak menjelaskan kalau saat ini fia sedang mendapat tiga mencari adik lain ibu yang ada di tiga negri.
karena kabar dari seseorang kalau saat ini adiknya telah menghilang terbawa badai besar yang melanda tiga negri.
” baiklah,kami akan menantimu kembali kepulau Jawa.”
Cia Bu Ki tersenyum, dia pun berpamitan pada nyai Ageng Permana dan nyai darsih, sedangkan resi wetan telah raib, entah kemana.
Cia Bu Ki dan Cia tong lay pun pergi meninggalkan Ki Ageng Permana dan nyai darsih yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
keduanya menghilang di kejauhan.
mereka menarik nafas dalam dalam seakan ini adalah sebuah mimpi, mereka selama ini menganggap ilmu mereka sudah berada di kejayaan dan berhasil mendapat gelar dan mendirikan pandepokan dan memiliki murid yang begitu banyak tetapi mata mereka sekarang terbuka.
bahwa ilmu yang mereka miliki tiada apa apanya di bandingkan dua pendekar yang baru saja pergi meninggalkan mereka.
akhirnya mereka memutuskan kembali ke pandepokan masing masing masing untuk memperdalam ilmu mereka saat ini.
**
Cia Bu Ki berusaha mengimbangi kemapuan ayahnya dalam ilmu meringankan tubuh,walau sudah segenap kemampuan yang dia miliki tetapi dia belum mampu untuk mengejar ayahnya yang semakin jauh meninggalkan dirinya yang seperti anak kecil yang di tinggal ayahnya.
Cia tong lay sengaja mempertontonkan kemampuannya dalam hal ilmu meringankan tubuh,jurus meringankan tubuhnya memang sudah di katakan sempurna bahkan dia dapat melayang begitu lama di udara tanpa kesulitan sama sekali.
__ADS_1
mereka saling kejar kejaran sehingga kaki mereka tidak menyentuh tanah, hanya daun saja yang bergoyang ketika mereka melintasinya.
di persimpangan jalan ada tiga arah, Cia tong lay menghentika langkahnya.
dia memandang sekitar seperti nalurinya sedang mengatakan kalau saat ini mereka sedang di ikuti oleh orang yang tidak di kenal.
Cia tong lay mengagumi kelihaian orang yang menguntit mereka, kemampuannya juga sangat baik,karena mampu mengejar mereka dengan jarak yang sudah di atur.
” ayah...ada apa?mengapa ayah berhenti?"
” ada sesuatu yang aneh Bu Ki,apakah kamu tidak merasakannya?"
” sejak tadi saya merasakannya ayah,karena jarak saya dengan dirinya juga tidak terlalu jauh, tetapi saya tidak mempersulit ayah,karena dia juga tidak mengganggu kita.”
” ada yang aneh Bu Ki,ini kekuatan yang tidak wajar karena ini bukanlah manusia tetapi.”
” tetapi apa ayah?"
” ayah juga tidak tau Bu Ki,dan saat ini kekuatan itu melemah dan menghilang Bu Ki.”
” benar bu Ki,ayah sudah tau itu makluk apa mari kita kejar makluk itu nak."
Cia tong lay membalikan tubuhnya dan berusaha mengejar makluk yang menguntit mereka.
sungguh di luar dugaan Cia Bu Ki, ayahnya berusaha mengejar sebuah kekuatan yang mengikuti mereka.
kecepatan Cia tong lay sangat sukar di ikuti oleh mata,bahkan Cia Bu Ki sendiri tidak dapat mengikutinya dengan kekuatannya,bahkan di hanya melihat bayangannya saja.
sungguh Cia Bu Ki hanya melihat bayangannya saja.
Cia Bu Ki tidak dapat mengukur kekuatan ayahnya yang tanpa batas itu.
andai ayahnya menggunakan sepenuhnya kekuatannya dalam ilmu meringankan tubuh,mungkin saat ini dia tidak dapat mengejar ayahnya.
Cia Bu Ki pun mengejar ayahnya,dan dari jauh ayahnya sedang bertarung dengan makhluk yang lumayan besar, Cia Bu Ki segera mendekati ayahnya.
__ADS_1
ternyata ayahnya sedang menaklukan seekor burung besar,sungguh Cia Bu Ki tidak percaya,
ada makluk berupa burung besar bahkan seperti naga dengan paruh rmyang sangat mengerikan dan cakar yang sangat tajam.
Cia tong lay seperti mendapat mainan baru dia tertawa senang dan mencoba menaklukan burung besar itu.
” Bu Ki,kemarilah kita mendapat rezeki yang terduga.”
” apa maksud ayah?"
” lihatlah burung ini,dia dapat mengantarkan kita ke pulau es dengan mudah.”
Cia Bu Ki menyadari perkataan ayahnya,sungguh di luar perkiraannya, ayahnya mendapatkan ide gila,tetapi sungguh brilian.
Cia Bu Ki pun membantu ayahnya menaklukan burung itu,yang membuat burung besar itu semakin pusing,dia menyesal mengapa harus berhadapan dengan kedua manusia aneh itu.
burung itu mencoba lari untuk meninggalkan manusia aneh itu,tetapi ada satu hal yang dia tidak dapat meninggalkan kedua manusia aneh itu.
dia merasa kedua manusia aneh itu adalah cocok untuk di majikan baru,karena sudah Beratus tahun sejak meninggalkannya majikannya,dia harus hidup sendiri tanpa majikan di pulau pulau terpencil.
tetapi burung itu sangat cerdas, dia tidak ingin mendapat majikan begitu saja, dia juga harus menguji calon majikannya,apakah mereka pantas mendapatkan dirinya.
angin dahsyat yang sangat deras akibat kepakan sayapnya tidak membuat kedua manusia di hadapannya menyerah,mereka malah sangat senang dan tertawa seperti mendapat mainan baru.
sungguh membuat pikiran burung itu semakin kalut,dia salah memilih calon majikan, ternyata calonnya seperti orang yang kurang waras.
tetapi perkiraannya salah,manusia berambut putih itu dengan kecepatannya sudah berada di atas punggungnya,entah bagaimana manusia berambut putih itu melakukannya.
” wahai burung besar,berhentilah memberontak kami tidak akan menyakitimu,tetapi kalau engkau masih memberontak kami akan mencabuti bulu bulu yang ada di kepalamu.”
Cia tong lay membisikan sesuatu ketelinganya.
awalnya itu hanya sebuah ancaman pikiran burung besar itu,tetapi itu bukan hanya ancaman,saat dia masih memberontak, Cia tong lay mulai mencabuti bulu bulunya,membuat rasa sakit di bagian kepalanya.
dia berteriak sangat keras dan membuat getaran hebat di tempat itu,bahkan Cia Bu Ki harus menutup telinganya karena suara lengkingan burung itu yang sangat dahsyat.
__ADS_1