
” ada apa to?mengapa kalian malam malam datang kemari?apakah ada masalah?”
” maaf pak Darto,kami mengganggu tengah malam begini.”
” masuklah,bentar saya cuci muka dahulu.”
pak Darto sebagai kepala desa gelugur pergi ke kamar mandi meninggalkan Paino dan Warto.
beberapa menit kemudian pak Darto kembali menemui Paino dan Warto.
” ceritakan ada apa,maaf istri saya sedang tidur jadi malam ini kalian tidak dapat kopi.”
” tidak apa apak Darto,kami hanya ingin menyampaikan sesuatu pada bapak.”
” Hem...apakah besok tidak bisa? sepertinya kalian ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.”
” benar pak.”
Warto pun menceritakan tentang nenek tua yang sangat berbahaya,da saat ini dia pendekar itu sedang istirahat di pos ronda.
” ini tidak bisa di biarkan,besok pagi pagi kita kumpulkan warga untuk berkumpul di aula desa.”
” baik pak.”
Warto dan Paino pun meinta izin pada pak Darto untuk kembali ke pos ronda.
” tunggu..kalian berdua harus tahan dua pendelar itu,saya akan tanya langsung pada mereka apakah cerita mereka memang benar,saya banyak mengenal para pendekar di dunia persilatan,apakah saya mengenal mereka atau sekedar tau gelar mereka.”
Warto dan Paino hanya mengangguk,setelah meminta izin mereka pun kembali ke pos ronda,dan kembali berkumpul dengan Jaka dan Cia Bu Ki.
**
ayam berkokok begitu nyaring,membuat Jaka dan Cia Bu Ki membuka mata mereka,walau mereka baru saja memejamkan mata,tetapi tampak wajah mereka kembali segar.
tidak dengan Paino dan Warto,mereka malah menarik sarung dan melungker untuk mengusir dinginnya pagi.
” Bu Ki, sebaiknya kita pergi mencari warung yang sudah buka,saya ingin sarapan…”
” baiklah tuan.”
sudah setahun ini Cia Bu Ki dan Jaka menggunakan uang hasil kerja Cia Bu Ki,dan kini uangnya semakin menipis membuat Cia Bu Ki memeriksa keuangan yang ada di sakunya.
sungguh dia terkejut karena kini hanya tinggal dua koin perak membuat dirinya hampir saja berteriak.
dengan dua koin perak mereka hanya dapat membeli dua piring nasi dan seguci arak membuat dirinya serba salah.
bila dia katakan sejujurnya pada Jaka,takut Jaka akan meraksan apa yang dia rasakan saat ini.
karena Cia Bu Ki tau Jaka orangnya sangat sensitif dan akan menolak makan di warung bila keuangan sudah menipis.
dengan persaan bingung Cia Bu Ki mengikuti Jaka,tetapi baru beberapa meter mereka berjalan sebuah panggilan dari Paino membuat langkah mereka terhenti.
” kisanak hendak kemana?”
__ADS_1
” oh..kalian sudah bangun,kami hanya ingin mencari warung untuk sarapan.”
” tunggu kisanak,disini warung buka pada siang hari,kalau pagi begini belum ada warung yang buka.”
” begitukah?baiklah kami akan menunggu sampai siang.”
dengan perasaan kecewa wajah Jaka terlihat,sudah sangat lama dia tidak merasakan nasi liwet yang sangat nikmat.
kini saat sedang singgah di desa dia ingin sekali merasakan nasi liwet yang gurih.
” kisanak lebih baik ikut kami,karena pak Darto sebagai kepala kampung mengundang kisanak untuk datang kerumahnya.”
” pak Darto? bagaimana pak Darto mengenal kami dan mengundang kerumahnya?”
” maaf kisanak,tadi malam saat kami ronda kami singgah kerumah pak Darto dan melaporkan kedatangan kisanak,lalu pak Darto menyuruh kami agar kisanak sudi singgah kerumahnya.”
” Hem baiklah,apakah kalian mau mengantar kami ke rumah pak Darto?”
” dengan senang hati kisanak.”
Paino dan Warto pun mengantar Cia Bu Ki dan Jaka kerumah kepala kampung.
di sebuah rumah yang lumayan besar,Paino dan Warto menghentikan langkahnya.
mereka agak ragu untuk masuk karena hari masih gelap,takut pak Darto mendamprat mereka seperti kejadian tadi malam.
” ada apa Kisanak?mengapa kita berhenz?”
” kalau begitu kita tunggu saja dahulu.”
” baiklah kisanak.”
akhirnya dengan berat hati Jaka terpaksa menunggu pak Darto sebagai kepala kampung desa gelugur.
walau mereka harus mengejar NYI kasih,tetapi mereka harus menghormati undangan dari pak Darto untuk bertemu.
memang nasib masih berpihak pada mereka ,baru saja mereka akan duduk di joglo tempat pak Darto,tampak suara pintu rumah berderit.
” warto..Paino..kamukah itu?”
sebuah panggilan dari pemilik rumah ynag baru saja keluar dari balik pintu menyebut nama Warto dan Paino.
” benar pak,kami datang bersama dua pendekar yang kami ceritakan kemarin.”
" oh...kemarilah suruh masuk.”
pak Darto pun memerintahkan paini dan Warto untuk menyuruh masuk cia Bu Ki dan Jaka.
” silahkan masuk pendekar,kedatangan kedua Pendekar sangat membuat desa kami tersanjung dengan kedatangan para pendekar.”
” terima kasih kisanak,kami hanyalah dua orang pengembara yang tidak sengaja melewati desa kisanak.”
" pendekar terlalu merendah,istri saya sudah menyiapkan makanan buat para pendekar.”
__ADS_1
Jaka dan Cia Bu Ki saling pandang,mereka ternyata di sambut begitu hangat oleh kepala kampung desa desa gelugur,membuat mereka sangat heran.
cia Bu Ki hanya mengikuti pak Darto saat mengajak mereka keruang makan.
tampak di meja telah lengkap makanan yang sangat lezat dan harum aroma jahe yang masih hangat membuat ingin sekali Jaka segera ingin menyantapnya.
” tuan...apakah kamu tidak curiga?”
” ya Bu Ki,aneh orang ini mengapa kita di sambut begitu hangat,sedangkan dia tidak mengenal kita.”
” hati hati tuan sepertinya ada hal buruk yang ingin di lakukan oleh orang tua itu.”
” baik Bu Ki, sebaiknya kita harus lebih berhati hati.”
mereka berbisik sangat halus sekali,walaupun pak Darto sangat dekat,tetapi pak Darto tidak mendengar suara bisikan Jaka dan Cia Bu Ki yang masih aneh dengan situasi seperti ini.
” silahkan pendekar mari kita makan,mungkin pendekar sedang lapar.”
" loh kemana mereka?mengapa mereka tidak masuk?”
” Paino dan Warto yang pendekar maksud?oh mereka mungki pulang karena sudah semalaman jaga di pos ronda.”
” silahkan duduk pendekar,makanlah sepuasnya.”
kembali pak Darto mempersilahkan cia Bu Ki dan Jaka untuk segera menyantap hidangan yang sangat lezat di atas meja.
” tuan..saya mencium bau racun di makanan itu,apa yang harus kita lakukan?”
” tenang Bu Ki,apakah kamu masih menyimpan penawar racun itu?”
” masih tuan.”
” sebaiknya kita gunakan Bu Ki,sayang makanan itu bila harus terbuang.”
Bu Ki hanya bisa menggelengkan kepalanya, bagaimana tidak di saat nyawa mereka sedang terancam,Jaka masih saja memiliki ide untuk segera menelan pil anti racun yang ada pada Cia Bu Ki.
dengan pil penawar racun,mereka akan bebas memakan hidangan yang tampak sangat lezat yang ada di atas meja.
Cia Bu Ki pun memberikan satu pil pada Jaka,dan satu lagi untuk dirinya.
pil penawar racun sudah ada di perut mereka,kini Jaka siap menyantap hidangan yang tampak sangat lezat itu.
” tuan jangan..”
tampak pak Darto yang wajahnya sangat cemas karena melihat Jaka sudah mengambil nasi dan ayam yang telah di bakat dan aromanya sangat lezat.
” kenapa kisanak?”
” anu anu...”
pak Darto tidak dapat menjelaskan,dia hanya kebingungan.
karena makanan itu memang telah di bumbui racun, olehnya karena dia harus menyelamatkan keluarganya yang telah di Sandra oleh nenek tua yang dia sendiri tidak mengenalnya.
__ADS_1