
Ki bajo yang saat ini sedang berada di gunung Kelud bersama dengan Datuk Warso yang umurnya sudah sangat rentah.
bahkan Ki bajo bisa di katakan cucunya,tetapi parasnya saat ini sama.
mungkin karena Datuk Warso memiliki ajian panca Sona yang dapat hidup hingga ratusan tahun.
Datuk Warso adalah pendekar yang sangat kejam pada masa jayanya ratusan tahun yang lalu.
saat ini dia tinggal di gunung Merapi, menyesali apa yang dahulu di perbuatnya.
karena walau tubuhnya sudah sakit sakitan tetapi dia belum juga mati.
hidupnya tersiksa,hanya terbaring di dipan kayu repot,dan tubuhnya kurus kering.
" Datuk maung bumi,saya Ki bajo ingin meminta bantuan pada Datuk."
" he he he..apa yang bisa saya bantu,untuk berjalan saja saya sudah tidak mampu bodoh..."
Datuk Warso melotot melihat Ki bajo yang mengemis pertolongan.
" hanya datuklah yang mampu menolong golongan hitam,karena saat ini golongan hitam terancam bahaya."
" apakah kau tidak mendengar?apa yang bisa saya bantu dengan kondisi saya seperti ini?"
uhuk uhuk...
Datuk Warso terbatuk batuk,tubuhnya gemetar menahan rasa sakit yang ada di tubuhnya.
Ki bajo masih terus berusaha merayu datuk Warso,dia pernah mendengar pemilik ajian panca Sona dapat saja pulih,andai dia memiliki keinginan kuat untuk hidup.
saat ini Datuk Warso sedang mengalami depresi hidup,dia ingin sekali mati tetapi ajian panca Sona membuatnya tidak bisa mati walau tubuhnya telah menjadi mayat hidup saat ini.
" Datuk..andai kamu tidak ingin membantu saya,bagaimana kalau ajian panca Sona Datuk ajarkan pada saya?"
__ADS_1
datuk Warso memandang tajam Ki bajo,seumur hidupnya dirinya tidak pernah sekalipun mengangkat seorang murid,karena dirinya pernah bersumpah tidak akan mengangkat murid sekalipun.
" apakah kau serius ingin mempelajari ilmu iblis itu?yang telah menyiksaku selama puluhan tahun ini."
" apapun resikonya, andai Datuk ingin mengajari ajian pancasona,saya akan menanggung resikonya."
" baiklah...walau aku sudah bersumpah tidak akan mengangkat murid seorangpun,tetapi karena ajian ini telah menyiksaku,aku akan turunkan ilmu itu padamu."
" benarkah Datuk?"
Ki bajo hampir saja melompat kegirangan,mendengar perkataan Datuk Warso.
ilmu yang sangat di cari oleh para pendekar dunia persilatan,dengan mudah akan dia dapatkan sehingga saat ini Ki bajo bagaikan mendapat durian runtuh.
sungguh tidak sia sia dia datang jauh jauh ke gunung Kelud,dan akan mendapatkan ilmu yang sangat di inginkan bagi para pendekar di dunia persilatan.
" besok kita akan mengadakan upacara,usahakan dirimu bersih agar ajian laknat ini dengan mudah masuk kedalam tubuhmu."
" apa bila kamu sudah berhasil mendapatkan ilmu laknat itu, bakar lah tubuhku,dengan api abadi,jangan tinggalkan sebelum diriku hangus menjadi debu,apakah kamu sanggup?"
" sanggup datuk"
" satu lagi,jangan pernah panggil diriku guru,walau kamu saya ajarkan satu ilmu dariku,tetapi jangan sekalipun kamu panggil saya guru."
" saya akan ingat itu Datuk."
Ki bajo harus memenuhi syarat dari Datuk Warso,karena ilmu ini sangat berharga dan di berikan secara cuma cuma tanpa harus mengorbankan nyawa seorangpun.
sejak itu Ki bajo,di ajarkan ilmu laknat yaitu ajian pancasona,ilmu yang dapat dirinya hidup walau telah di bunuh atau di cincang sekalipun.
**
" Jaka....Jaka...Jaka...."
__ADS_1
suara misteri yang memanggil jaka,membuat Jaka sendiri heran.
dia mendengarkan suara itu,semakin lama suara itu sangat lembut membuat hatinya sejuk.
" Bu Ki...apakah kamu mendengar suara itu."
" suara apa tuan,sejak tadi saya tidak mendengar suara apapun."
tetapi suara wanita itu semakin jelas,terdengar di telinga Jaka,membuat dirinya tidak menghiraukan cia Bu Ki yang sedang kebingungan.
suara itu telah masuk kedalam pikiran Jaka, membuat kini dirinya tidak sadar,itulah ajian pelet yang di keluarkan oleh seorang wanita yang berusaha membuat Jaka tidak sadar.
Jaka terus berjalan,mengikuti arah suara itu.
" tuan..tuan Jaka,mau kemanakah dirimu.''
tetapi Jaka tidak menghiraukan Cia Bu Ki yang terus memanggil Jaka.
dia terus berjalan hanya mengikuti bisikan dari suara wanita.
Cia Bu Ki yang merasa ada hal yang ganjil terhadap temannya itu,berusaha mengejar Jaka.
tetapi Jaka semakin tidak sadar bahkan Cia Bu Ki menghadang perjalananya.
" tuan sadarlah,apa yang sebenarnya terjadi?"
Jaka hanya menatap cia Bu Ki dengan tatapan kosong,sepertinya kini Jaka sudah tidak mengenal Cia Bu Ki.
" minggirlah..jangan halangi jalanku."
" tuan..sadarlah aku Bu Ki..apa yang terjadi denganmu."
tetapi bukan jawaban yang di dapati oleh Cia Bu Ki,Jaka malah menyerangnya yang membuat Cia Bu Ki sangat terkejut dengan perubahan Jaka.
__ADS_1