
Ki Ageng Tirtayasa muncul di saat para pendekar resah,karena sudah bertahun tahun hidup dalam bayang bayang golongan hitam.
" Ki Ageng Tirtayasa selamat datang."
Ki Ageng Permana memberi hormat pada Ki Ageng Tirtayasa.
" Ki Ageng Permana, sudah lama kita tidak bertemu,dirimu akhirnya telah menjadi tua."
para pendekar yang hadir juga memberi hormat pada Ki Ageng Tirtayasa,harapan mereka untuk merebut kembali tahta dunia persilatan terbuka dengan kemunculan Ki Ageng Tirtayasa.
" Ki Ageng Tirtayasa...akhirnya kamu muncul juga,hanya kamulah satu satunya orang yang dapat menandingi kesaktian dari adik seperguruan mu Ki bajo."
salah seorang pendekar tanpa memberi hormat pada Ki Ageng Tirtayasa langsung nyeletuk,tanpa sungkan pada kewibawaan Ki Ageng Tirtayasa.
" Hem...bukannya saatnya untuk membahas tentang Pendekar naga putih,atau Ki bajo,saat ini hatiku tergerak hingga kembali ke dunia persilatan tentang kemunculan pendekar dari tanah sebrang yang akan mengguncang dunia persilatan."
para pendekar saling pandang,mereka masih bingung dengan apa yang di katakan Ki Ageng Tirtayasa,karena mereka belum pernah mendengar tentang kemunculan pendekar dari negri sebrang.
" maaf Ki Ageng Tirtayasa,apa yang ki Ageng katakan?jelaskan pada kami."
Ki amor maju kedepan,dia masih penasaran dengan ucapan Ki Ageng Tirtayasa.
" Ki amor,apakah sudah terlalu sibukah kamu mengurus pandepokan mu, sehingga kamu tidak mengetahui bahwa saat ini,para golongan hitam sibuk dan khawatir tentang pendekar satu ini?"
" maaf Ki Ageng,saya terlalu terlena hingga saya lupa punya kewajiban menjaga ketentraman dunia persilatan dari para golongan hitam."
" baiklah hari ini,kalian yang hadir di sini,akan bertemu dengan pendekar dari negri tirai bambu ini,dialah yang akan menaikan kembali tahta para golongan kita,dan akan membuat para golongan hitam kembali memperhitungkan golongan putih."
" dimana dia Ki Ageng,apakah dia sudah hadir di sini?"
" Ki Ageng Permana,dan nyai Ambar ulan,suruh anak muda itu keluar."
__ADS_1
Ki Ageng dan nyai darsih hanya saling pandang,darimana Ki Ageng Tirtayasa mengetahui kalau saat ini pemuda itu berada di pondok teratai.
" apa yang kalian tunggu?"
baik Ki saya akan memanggil pemuda itu.
nyai darsih pun memberi kode pada muridnya untuk memanggil cia Bu Ki keluar.
para pendekar yang penasaran,dada mereka berdegup kencang.
mereka ingin mengetahui siapa yang di maksud dengan Ki Ageng Tirtayasa,apakah benar dia memiliki kesaktian yang mampu mengalahkan Ki bajo atau Pendekar naga putih.
seorang pemuda muncul,bersama Jaka si Pendekar pedang langit.
mungkin para pendekar sebagian besar sangat mengenal Jaka,tetapi Cia Bu Ki satu orang pun tidak mengenalnya.
hampir saja mereka tertawa,karena pemuda yang di katakan oleh Ki Ageng Tirtayasa,adalah pemuda yang tampak sangat lemah,yang akan mengalahkan pendekar naga putih yang kesaktianya tidak di ragukan lagi.
" salam pada tuan tuan."
" Ki Ageng apakah pemuda itu yang Ki Ageng maksud?"
Ki suro merasa di permainkan oleh ki Ageng Tirtayasa tampak wajahnya tidak senang.
" betul..apakah Ki Ageng Tirtayasa sedang mempermainkan kami?"
kali ini,si bawok atau pendekar jari besi,juga ikut menimpali ucapan Ki suro.
" para pendekar harap sabar,apakah kalian tidak percaya dengan kemampuan pemuda ini?baiklah saya kasih kesempatan pada pendekar untuk menguji pemuda ini,hanya dengan sepuluh jurus saja andai kalian dapat mengalahkan pemuda ini,aku akan beri tongkat nagaku ini."
tawaran Ki Ageng Tirtayasa begitu menggiurkan sehingga para pendekar berebut ingin berhadapan dengan Cia Bu Ki akan mendapatkan hadiah dari Ki Ageng Tirtayasa.
__ADS_1
" baiklah saya maju."
Ki suro atau Pendekar Kampak emas yang sangat meragukan kemampuan cia Bu Ki pun maju.
awalnya dia ragu,andai dia menang,pun percuma karena berhadapan dengan pemuda yang di anggapnya lemah.
" baiklah Ki suro,ingat ini hanya uji kemampuan,tidak ada kata untuk melukai,Ki suro hanya di beri 10 jurus untuk mengalahkan pemuda ini,andai Ki suro sanggup tongkat saya akan menjadi milik Ki suro."
Ki suro mengangguk setuju,dalam hatinya dia menyayangkan kebodohan Ki Ageng Tirtayasa, dirinya akan kehilangan tongkat mustika naga yang terkenal sebagai mustika sakti yang mampu menyemburkan api dari kepala tongkat yang berbentuk kepala naga.
" bersiaplah kau pemuda,terlalu banyak sepuluh jurus hanya untuk mengalahkanmu.'
" silahkan tuan."
cia Bu Ki menerima tantangan Ki suro.
Ki suro yang memandang lemah cia Bu Ki,hanya menggunakan beberapa persen dari tenaga dalamnya.
dan yang terjadi,Ki suro harus terkejut karena kedua tanganya terasa sakit saat beradu dengan tangan pemuda itu.
sudah dua jurus terlewati,Ki suro masih belum mampu mengalahkan cia Bu ki,dia pun penasaran,pemuda itu dengan mudah menangkis bahkan beradu tangan kosong.
walau dia tidak ahli dalam bermain tangan kosong,tetapi setidaknya dalam pengalamanya dia akan dengan mudah mengalahkan pemuda itu yang tampak sangat lemah itu.
sudah lebih dari lima jurus,Ki suro telah menggunakan jurus jurusnya,tetapi jangankan mendesak pemuda itu,untuk menyentuh bagian tubuhnya yang pital saja dia belum mampu.
" Ki suro,kamu sudah menggunakan tujuh jurus,ingat masih ada tiga jurus lagi,sebaiknya kau gunakan kemampuanmu andai kau tidak ingin kehilangan tongkat naga ini.''
Ki Ageng Tirtayasa mulai memperingatkan kita suro.
membuat Ki suro semakin penasaran,lalu dia mundur tiga langkah,akal sehatnya seperti sudah hilang karena dia mencabut Kampak emasnya,dan mulai menyerang Cia Bu Ki.
__ADS_1
para pendekar yang hadir menarik nafas dalam dalam,mereka tidak menyangka Ki suro mencabut Kampak mustikanya hanya untuk mengalahkan cia Bu Ki.
Ki suro menyerang dengan gencar,tetapi saat memasuki jurus kesembilan,dirinya terlempar sangat jauh,karena dirinya terkena pukulan dari Cia Bu Ki yang menggunakan sembilan langkah ajaib,dan berhasil menampar wajah Ki suro sehinga tampak wajah Ki suro memerah dengan gambar lima jari di pipinya.