
" Anjing siapa lagi ini yang datang?apakah kamu sudah bosan hidup?"
" pergilah hari ini aku tidak ingin membunuh."
wajah Danur tampak sangat serius.
" kurang ajar,kau memandang rendah diriku?apakah kau sudah gila?"
Ki jakung yang sangat emosi,karena keinginan untuk menikmati tubuh Winda harus gagal,di tambah lagi kini tanganya sangat sakit akibat sebuah lemparan dari Danur.
" cepat pergi,sebelum kalian menyesal."
Danur kembali memperingatkan Ki jakung dan anak buahnya.
" serang dia"
anak buah Ki jakung langsung mengepung Danur.
" mundurlah Winda."
Danur memerintahkan Winda untuk menjahui dirinya,agar dia lebih leluasa bergerak menyerang anak buah Ki jakung.
" serang...."
salah satu dari anak buah Ki jakung langsung memerintahkan untuk segera menyerang Danur.
tetapi serangan mereka hanya mendapatkan tempat yang kosong,ketika golok mereka akan menyentuh tubuh Danur,dan dari arah lain Danur berhasil membuat beberapa orang berteriak dengan tulang tangan patah sampai berbunyi krakkk..
dan pedang Mereka terlepas dan jatuh ke tanah.danur mengamuk,dia tidak memberi kesempatan pada anak buah Ki jakung untuk berkembang dalam menyerang.
satu persatu anak buah Ki jakung berteriak dengan tulang patah akibat pukulan dan tendangan Danur yang sulit mereka hindari.
hanya beberapa menit saja anak buah Ki jakung sudah tidak berdaya dan tergeletak di tanah.
sungguh membuat ki jakung terpukul,anak buahnya hanya hitungan menit sudah tidak berdaya.
Ki jakung baru membuka matanya bahwa di hadapanya adalah seorang pendekar.
tetapi sifat egoisnya mengalahkan keraguannya,karena tidak mungkin dia kabur di hadapan anak buahnya yang sudah tidak berdaya,dengan sombongnya di pun masih membentak.
" Hem...hanya memiliki ilmu secuil saja kamu sudah sombong,rasakan golok ku ini."
Ki jakung menyerang Danur dengan jurus yang di milikinya.
walau serangannya lebih berbahaya dari pada anak buahnya,Danur bukanlah pendekar kacangan,dengan sangat mudah di patahkan. serangan Ki jakung.
sehingga golok yang di tangan Ki jakung di tangkap dengan tangan Danur.
Ki jakung terkejut,tidak terjadi luka sedikitpun pada telapak tangan Danur,diapun menarik goloknya,tetapi semakin dia gunakan tenaganya golok itu tidak bisa bergerak, seperti lengket di telapak tangan Danur.
wajah Ki jakung pucat,karena kali ini dirinya kena batunya,ternyata lawanya adalah pendekar sungguhan.
__ADS_1
tapi penyesalan telah terlambat.
sebuah tamparan menyadarkannya.
beberapa giginya tanggal,akibat Danur menempeleng wajah Danur dan cukup membuat Danur merasa sangat pusing hingga dirinya terbanting ke tanah dengan darah memenuhi mulutnya.
" pergilah...hari ini aku lagi tidak ingin membunuh,bawa semua anak buahmu dan jangan pernah bertemu denganku lagi."
" baik pendekar"
Ki jakung langsung kabur dan di ikuti oleh para anak buahnya yang masih meringis kesakitan.
**
" terima kasih pendekar,kau telah menyelamatkan hidupku dan istriku."
juragan bayan sampai bersujud dengan wajah munafiknya.
" juragan bayan,sikap pengecutmu membuatku kecewa padamu,kamu tidak pantas menjadi suami dari wanita itu."
" maafkan saya pendekar,saya khilaf saya lebih mementingkan nyawaku dari pada kehormatan istriku."
" apapun alasanmu,tidak membuatku simpati, pergilah jangan kau tampakan lagi wajahmu di hadapanku."
Danur yang sangat kecewa pada juragan bayan,membuatnya wajahnya memerah.
wanita yang sangat di cintainya,telah di sia siakan oleh juragan bayan membuat,hatinya terluka.
bagaimana pun juga,Winda adalah orang yang sangat di cintainya,walaupun dia sudah menjadi istri dari pria tua yang ada di hadapanya.
" itu hakmu,tetapi apakah istrimu masih mau ikut bersamamu?"
Danur yang serba salah tidak bisa memberi keputusan,hanya Winda lah yang bisa memberi keputusan apa dia akan ikut bersama bandot tua itu.
" istriku mari kita pulang!!"
" tidak...saya tidak ingin ikut bersamamu,kau telah rela para penjahat itu ingin memperkosaku."
" tapi istriku..maafkanlah aku,ingat hutang ayahmu masih banyak padaku."
" mintalah pada ayahku yang telah tiada,bukankah hutang itu telah kau anggap lunas saat aku bersedia menikah padamu."
juragan bayan menjadi serba bingung,karena dahulu dia pernah mengucapkan itu pada dirinya,dirinya pun melirik pada Danur.
mungkin andai Danur tidak ada di tempat itu,mungkin Winda sudah di hajar habis habisan olehnya.
" baiklah kalau itu maumu,kau akan menyesal."
juragan bayan yang emosi sampai mengancam Winda di hadpaan Danur.
juragan bayan pun berjalan ke kereta kudanya,tetapi Danur membentaknya.
__ADS_1
" kisanak..apa yang ingin kau lakukan pada kereta kuda itu?"
" saya ingin pulang pendekar."
dengan wajah yang masih memerah karena menahan amarah pada istrinya.
" kamu tidak akan pergi dengan kereta kuda itu kisanak."
" bukankah itu kereta kuda saya,mengapa saya tidak berhak."
" ingat kisanak,kau sudah memberikan sebagian hartamu pada para penjahat itu,dan termasuk kereta kudamu."
juragan bayan pucat,apa yang di katakan Danur memang benar,kali ini dia selamat dari Ki jakung,tetapi dia tidak selamat dari pendekar yang ada di hadapanya.
" jadi..apakah saya harus pulang jalan kaki pendekar."
Danur hanya mengangguk,baginya orang seperti juragan bayan harus di beri pelajaran agar dirinya tidak lagi memandang rendah wanita apa lagi saat ini Winda adalah istrinya.
dengan perasaan dongkol,juragan bayan pergi meninggalkan mereka,dan kembali ke kediaman Adipati Suwondo untuk meminta bantuan agar Danur di beri pelajaran dan kembali merebut istrinya.
setelah kepergian juragan bayan,Winda hanya bisa menangis,dia sangat malu pada Danur yang telah menghianati cintanya.
" Winda..apa yang kau tangiskan,saat ini kamu sudah bebas dari suamimu yang tidak bertanggung jawab padamu."
" saya malu pada mas Danur,saya telah mengecewakan mas Danur."
" tidak Winda,ini sudah kehendak sang dewa,sebaiknya kamu ikut saya,dan mari kita membuka lembaran baru."
" apakah mas Danur masih mau menerima saya?"
Danur hanya mengangguk dan tersenyum,dan itu membuat Winda sangat bahagia dan langsung memeluk Danur.
Bayu yang sejak tadi bersembunyi hanya bisa meneteskan air matanya,sungguh peristiwa itu membuat anak seusia dirinya yang sudah yatim piatu ikut terharu.
akhirnya mereka pun pergi dengan kereta kuda juragan bayan,menuju gunung Merapi tempat dimana Danur pernah menimba ilmu dengan gurunya.
**
ki Sono yang saat ini telah sampai di gunung Merapi,dan sebentar lagi dia akan sampai dimana Dewi dara sedang melatih para muridnya di padepokan miliknya.
hanya sekejab saja Ki Sono sudah sampai di depan gerbang pandepokan Dewi dara.
tampak beberapa wanita sedang berjaga jaga di depan gerbang pendepokan Dewi dara.
" siapa kisanak?mau apa kemari?"
" apakah kalian tidak mengenalku?"
" para penjaga itu saling pandang,di dunia persilatan hanya ada satu pendekar yang berwajah pucat,yaitu Ki sono.merekapun menaruh hormat pada Ki Sono."
" maaf Ki...kami tidak sopan dalam menyambut aki, sebaiknya aki segera tunggu di ruang tamu,kami akan melaporkan pada guru kami."
__ADS_1
Ki Sono pun mengangguk,dan dia di sambut dengan hormat oleh para murid dari pandepokan dewi dara.
Ki sono memperhatikan ruangan tamu itu,sungguh tempat itu berbau mistis,ternyata Dewi dara masih sering melakukan pemujaan pikirnya.