Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 101 | Tangisan Bernada Pilu


__ADS_3

Zac terdiam seketika menerima fakta yang dia dengar sekarang dengan pertimbangan yang matang dan dia sudah mediasi selama beberapa waktu terakhir akhirnya Zac dapat membuat sebuah keputusan.


"Selamatkan istri saya!" teriak Zac emosional dengan mata memerah menahan tangis.


Dokter Softexia tersenyum kecut. "Maaf Zac, Markisa sudah melakukan perjanjian hitam diatas putih, apapun yang terjadi kami akan menyelamatkan bayinya atas permintaan Maekia sendiri."


Deg!


Bagai disambar petir Zac merasa seluruh badannya linu, gelisah dan tidak karuan, fakta, kenyataan dan takdir menghantam dan memukul keras wajahnya dengan tak karuan, Zac hanya bisa terduduk lemas di lantai rumah sakit tersebut dengan pandangan kosong tanpa penerawangan.


Zac mencoba masuk kedalam ruangan rawat tersebut namun ditahan oleh beberapa pasukan Tim medis yang diperintahkan oleh Dokter Softexia.


"Tahan dia," ujar Dokter Softexia memerintahkan beberapa tenaga medis pria menahan Zac.


Zac mencoba memberontak namun tenaganya seorang diri tidak mampu melawan tiga orang tenaga medis pria yang menahannya sehingga Zac hanya bisa memberontak dalam diam dan tak bisa berkutip lagi.


Memang ini sudah sebuah kesepakatan hitam diatas putih yang dilakukan Markisa dan pihak rumah sakit lima bulan yang lalu, dimana Markisa meminta untuk menyelamatkan bayinya jika diagnosa tersebut menjadi kenyataan namun siapa sangka diagnosa tersebut benar-benar terjadi yang membuat Zac harus menelan pil pahit dari kejadian ini yang membuat hatinya semakin patah dan hancur.


Dokter Softexia kemudian masuk kedalam ruangan persalinan tersebut, dan menguncinya dari dalam dengan beberapa suster yang menahan pintunya.

__ADS_1


Petugas medis pria tersebut kemudian melepaskan Zac yang memberontak tak karuan yang membuat Zac segera berlari menggedor pintu ruangan itu, sehingga bunyi bising teriakan Zac terdengar pilu bagi siapapun yang mendengarnya.


"Dokter Soft! Jangan lakukan itu!" teriak Zac emosi dengan wajah berantakan dengan air mata yang membasuhnya.


Langit mendung bersaksi, ada satu orang lagi suami yang patah hatinya, hancur harapannya dan terjebak batinnya, Tuhan mungkin sudah menyerah menatap iba apa yang menimpa hambanya.


"Dok!!" teriak Zac menggedor dan berusaha mendobrak pintu tersebut.


Namun segala usaha Zac hanya berujung sia-sia orang yang menahan dan kunci yang kuat pada pintu tersebut membuat Zac hanya menghabiskan tenaganya secara sia-sia dalam situasi ini.


Zac memilih menyandarkan dirinya di pintu ruangan tersebut, menangis pilu membuat berapa orang disana, iba dan khawatir serta kasian kepada Zac.


Zac menunduk, sang pria yang kuat itu kini kehilangan pondasi hidupnya, ia merasa runtuh terjebak dalam situasi yang diciptakan oleh Tuhan, dia lelah dengan keadaan dan lelah dengan takdirnya, dia seperti sudah tidak pantas lagi untuk hidup.


"Zac! Dimana Markisa!" teriak Milo yang datang bersama Dove, Dairy, Tango dan Toppoki.


Zac mengangkat kepalanya. "Markisa memilih menyelamatkan bayinya, mungkin sekarang dia sudah tidak ada."


Keempat saudara Markisa itu membulatkan mata sempurna, terutama Dove dan Milo yang langsung mendobrak pintu tersebut.

__ADS_1


"Buka! Jangan lakukan itu!" teriak Milo.


"Markisa kau kuat! Bangun!" teriak Dove.


Kedua saudara itu saling menggedor dan mendobrak namun masih sama usaha mereka gagal juga, Dairy terdiam dikursi rodanya ia menangis pilu karena kondisi kakaknya.


"Kak Kisa," lirih Dairy turun dari kursi rodanya kemudian terjatuh kelantai.


Toppoki ingin membantu istrinya itu namun ditahan oleh Dairy yang memilih mengesot menuju pintu dengan air mata yang mengalir.


Kini Milo, Dove dan Dairy hanya bisa berpelukan menerima fakta dan keadaan, mereka kehilangan kesempatan dan kekuatan, Tango dan Toppoki segera berjalan ke arah Zac dan menguatkan ipar mereka itu.


Keenam orang ini kini dalam keadaan terguncang tanpa harapan sepeserpun, sebelum suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruangan itu.


Baby Z telah lahir, namun wajah Zac dan lainnya luntur berduka, apakah itu artinya Markisa sudah tiada, sementara tangisan bayi bernada pilu itu semakin menyayat hati.



__ADS_1



TBC


__ADS_2