Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 74 | Sisi Lain Dokter Tan


__ADS_3

"Terkadang kau itu Bodoh, Dairy," ujar Markisa mengikat tangan Dairy dengan seutas tali yang dia bawa.


Dairy mencoba memberontak namun kedua tangannya ditahan oleh Dove sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.


Setelah selesai mengikat Dairy. Markisa dan Dove kembali ke posisi semula mereka dengan tangan yang dilipat.


"Sekarang kau ingin mengaku sendiri atau-" ujar Dove yang langsung dipotong oleh Dairy.


"Atau mencarinya sendiri? Cari saja!" potong Dairy pada Dove.


Dove tersenyum miring, dia kemudian berjalan ke arah Dairy kembali, mengambil dagu adiknya itu dan mengangkatnya agar Dairy bisa menatapnya.


"Bukan itu maksudku, Kau ingin mengaku atau kau akan kami kurun dikamar mandi dan meledak sendiri disana, lagipula jika kami mengurungmu dikamar mandi, ledakannya tidak cukup untuk menghancurkan seisi rumah, benar-benar bom bunuh diri kan?" bisik Dove dengan netra yang menusuk tajam.


Dairy menelan ludah, dia tidak akan pernah menyangka bahwa Markisa dan Dove satu langkah didepannya. Dairy berpikir sejenak saat Dove dan Markisa menatapnya dengan tangan yang terlipat.


"Kau punya lima menit untuk berpikir sejenak," ujar Dove yang membuat Dairy semakin tersudutkan.


Dairy masih berpikir, apakah dirinya harus menyerah kalah begitu saja. Namun dia tidak sadar diri bahkan posisi bahwa dirinya berada di deretan paling bawah dalam perlawanan ini.


"Tidak akan!" ujar Dairy tegas yang membuat Markisa dan Dove kembali saling melempar tatapan untuk kesekian kalinya.


"Kau yang meminta yah," jawab Dove berjalan ke arah Dairy.


Dove kemudian menyingkap baju Dairy dan melihat bom yang terpasang pada punggung Dairy, sebenarnya Dove bisa mematikan bom itu sendiri, namun ia hanya ingin bermain-main sejenak dengan mental Dairy.


"Selamat menikmati perjalanan ke neraka," bisik Dove mendorong kursi roda Dairy masuk kedalam kamar mandi yang ada di kamar nya

__ADS_1


Dairy hanya bisa pasrah, saat Dove menaruhnya dikamar mandi dan mengunci kamar mandi tersebut dari luar.


"Masalah selesai," ujar Dairy mengibaskan kedua tangannya pada Markisa. "Jangan takut, aku tidak setega itu, aku sudah mematikan bom-nya, namun aku hanya ingin dia menderita sedikit di kamar mandi seolah-olah ajal sudah siap menjemputnya, dia tidak akan tahu kalau bom tersebut sudah mati."


Markisa mengangguk dan tersenyum senang atas apa yang Dove lakukan, memang Dove adalah partner terbaik bagi Markisa dalam menyelesaikan masalah.


"Kita pulang?" tanya Markisa pada Dove.


"Jelas, memangnya mau kemana lagi kita," jawab Dove melangkahkan kakinya keluar dari kamar Dairy.


Markisa menyusul Dove keluar, setidaknya Dove dan Markisa sudah bisa bernapas lega mengetahui bahwa tidak akan terjadi apa-apa malam ini, karena penganggu utamanya sudah mereka lumpuhkan.



Dove memarkirkan mobilnya didepan rumahnya, sebelumnya dia sudah membawa Markisa pulang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanannya sendiri untuk pulang.


Buk!


Suara pintu mobil yang tertutup, membuat Tango yang ada didalam rumah segera berjalan keluar dan benar saja sesuai dugaannya, Dove yang pulang.


"Kau kemana saja?" tanya Tango saat Dove baru saja menginjakkan kakinya di teras.


"Sedang ada keperluan, kan aku sudah bilang sebelum pergi," jawab Dove menatap Tango yang berdiri dihadapannya.


Dove duduk di kursi melepas sepatunya, dan sedikit merenggangkan badannya, Dove kemudian berjalan masuk kedalam rumah tanpa alas kaki meninggalkan Tango yang masih belum mengeluarkan sepatah katapun setelah jawaban dari Dove.


"Pakai alas kaki," ujar Tango membawakan sandal rumah untuk Dove.

__ADS_1


Dove yang baru separuh langkah untuk masuk kedalam rumah membalikkan badannya dan mendapati Tango sudah berjongkok dihadapannya.


"Angkat kakimu," lanjut Tango yang membuat Dove mengangkat kakinya sehingga Tango bisa memakaikan alas kaki tersebut. "Kalau dirumah kau harus pakai sandal yah, nanti kau sakit perut kalau kebanyakan beraktivitas didalam rumah tanpa alas kaki,"


Dove terdiam, sejak kapan Tango se perhatian ini kepadanya, Tango kemudian berjalan masuk duluan kedalam rumah yang merubah posisi, dan kini Tango yang meninggalkan Dove diluar.


Dove yang masih tidak habis pikir kemudian melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah, tujuannya adalah kamar, dia ingin beristirahat sejenak sebelum memulai malam yang panjang di pernikahan Milo.


"Jangan tidur terlentang," ujar Tango masuk kedalam kamar membawa segelas susu ibu hamil dan juga segelas air.


Dove bangkit dan merubah posisi nya menjadi duduk, saat Tango datang dan meletakkan gelas susu tersebut di nakas.


Tango kemudian membuka laci nakas dan mengambil vitamin ibu hamil milik Dove. "Kau kalau tidak kuingatkan tidak mau melakukannya, kau sangat keras kepala."


Tango mengambil tiga pil vitamin berbeda jenis tersebut dan mengode Dove untuk membuka mulutnya, Dove membuka mulutnya perlahan yang membuat Tango segera memasukkan pil tersebut ke mulut Dove, kemudian mengambil air dari nakas.


Dove meminum air yang diberikan Tango sembari menelan pil vitamin ibu hamil tersebut.


"Jangan lupa susunya diminum, kau ingin anak didalam kandunganmu itu sehat kan? Aku tidak marah kalau kau pergi keluar tapi ingat kau tengah mengandung, setidaknya dengar aku sekali saja," ujar Tango yang membuat Dove mengangguk perlahan.


Tango mengusap rambut Dove kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Dove untuk beristirahat di kamar.



TBC


Ah Tango aku meleyot.

__ADS_1


__ADS_2