Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 71 | Istrimu? Kusebut istri Kita


__ADS_3

"Ada agenda apa kau hari ini?" tanya Tango mengancing kemejanya saat ia melihat Dove tengah terduduk di sofa ruang tamu mereka.


Dove menatap Tango, tidak biasanya pria yang selalu bersikap dingin padanya itu bertanya yang membuat Dove merasakan suatu kehangatan baru dalam biduk rumah tangganya yang sebenarnya diambang kehancuran.


"Tidak ada, hanya memeriksakan kandunganku," jawab Dove menutup buku yang sedang dia baca.


"Kalau begitu Ayo," ajak Tango yang membuat Dove menatapnya serius sekaligus bingung.


"Kemana?" tanya Dove yang membuat Tango menatapnya malas.


Tango kemudian duduk disamping Dove dan menatap istrinya itu dalam, Dove tidak pernah mendapat tatapan yang sangat dalam penuh kehangatan dari suaminya karena selama ini hanya sikap dingin dan makian.


"Jangan membuatku menyerah saat aku belajar mencintaimu, Ayo kita kerumah sakit dan mengecek kondisi anak kita," jawab Tango beralih mengelus perut Dove.


Dove terdiam. "Cinta? Anak kita?"


Dove seketika kelu, dia kehilangan kemampuannya untuk berbicara mendengar ucapan dari Tango, menurutnya itu adalah ucapan termanis yang pernah Tango ucapkan padanya.


"Kau ingin berjalan sendiri atau aku gendong?" tanya Tango pada Dove.


Hening.


Dan masih hening.


Dove benar-benar kehilangan fungsi dari mulutnya, ia hanya menatap kaku seolah bertemu dengan sesuatu yang membuatnya tercengang, melihat hal itu benar-benar membuat Tango tidak sabar menunggu.


Akhirnya Tango segera menggendong tubuh Dove dan membawanya keluar dari rumah, Dove yang mendapati perlakuan seperti itu hanya bisa pasrah, manakala wajah Tango yang dia nilai berwajah iblis tersenyum manis kepadanya.


Hari masih pagi dan tampaknya Dove sudah terkena serangan jantung, diabetes karena sikap manis Tango kepadanya, Tango membuka pintu mobil dan mendudukkan Dove di kursi penumpang setelahnya dia masuk ke kursi pengemudi.

__ADS_1


"Jangan menatapku begitu," ujar Tango yang membuat Dove mendapatkan kesadarannya seutuhnya.


"Siapa yang menatapmu," jawab Dove memalingkan wajahnya yang membuat Tango terkekeh.


Tango kemudian menyalakan mesin mobilnya, tangannya memijat setir berbalut kulit itu dan mulai mengendarai mobil nya meninggalkan area rumahnya dan menuju rumah sakit.


Hari ini Dove memang ada janjian dengan Markisa masalah konsultasi.


Karena malam ini adalah pernikahan Milo dan Tapasya. Markisa sebenarnya tidak mengambil sesi kerja, namun atas permintaan Dove, akhirnya Markisa mau memeriksakan kandungan Dove.


Tango masih mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, tidak ada sesuatu yang terjadi diantara mereka bahkan obrolanpun tidak, hanya ada hening dengan tatapan yang saling curi pandangan, terlihat menggelikan, namun hati orang siapa yang tahu, pasangan suami istri ini tengah dilanda sindrom jatuh cinta.


Drrt!


Tango memarkirkan mobilnya dirumah sakit, yah hari ini Tango tidak masuk bekerja karena sama dengan alasan malam ini adalah pernikahan Milo, jadi dirinya mengambil cuti hari ini, Tango berjalan keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Dove.


Dove yang sudah di bukakan pintu segera keluar dari mobil dan berdiri dihadapan Tango.


Suara pintu mobil yang ditutup oleh Tango membuat keduanya saling bertatapan terutama Dove yang salah tingkah dihadapan Tango.


"Mau kugendong atau jalan sendiri?" tanya Tango yang membuat Dove membuang muka dan berjalan meninggalkan Tango.


Ia memilih tidak menjawab daripada dia mati karena salah tingkah, lebih baik Dove sendiri yang mengambil alternatif dan berjalan mendahului Dove.


"Istriku yang pemalu," batin Tango.


Tango berjalan menyusul Dove, dirinya mempercepat langkah sehingga kini dirinya sudah beriringan bersama Dove menuju ruangan Markisa melewati koridor rumah sakit setelah sebelumnya melewati pintu masuk.


Setelah tiba didepan ruangan Markisa. Dove membalikkan badannya dan menatap Tango yang jauh lebih tinggi darinya sehingga dia harus mendongakkan wajah menatap wajah maskulin suaminya.

__ADS_1


"Mau ikut masuk?"


Tango menggeleng, Dove membalikkan badannya hendak masuk namun Tango segera menarik tangan Dove dan mendekatkan pinggang mereka sehingga saling bersentuhan.


Seketika atmosfer disekitar Dove berubah drastis, hening koridor rumah sakit itu menjadi saksi bisu klentingan perdebatan batin saat atensi dari netra dan pikirannya menatap wajah pria yang sedang tersenyum padanya itu.


Dan ... Cup!


Tango melayangkan sebuah ciuman dipuncak kepala Dove yang benar-benar diluar ekspestasi dari segala.tebakan brilian yang tidak masuk akal.


Deg! Benar-benar membuat Dove ingin menghilang dari muka bumi sekarang juga.


"Aku menunggumu disini, sayang?" bisik Tango menekan diorasi di kata Sayang dengan nada pertanyaan yang membuat Dove ambigu seketika.


Tango mengusap wajah Dove dari pipi, hidung dan sampai ke bibirnya. Dove menelan ludah, ia kemudian melepaskan diri dan masuk ke ruangan Markisa sebelum dirinya benar-benar jatuh pingsan karena perlakuan suaminya.


"Sedang apa Dokter Tan?" tanya Toppoki yang melihat Tango berdiri dihadapan ruangan Markisa.


"Hai Dokter Oki, aku sedang mengantar istriku memeriksakan kandungannya," jawab Tango yang kini siap melawan Toppoki.


"Istrimu? Aku rasa itu istri kita, aku kan akan merebutnya darimu," jelas Toppoki.


Tango tersenyum kemudian berjalan ke arah Toppoki, ia menggenggam bahu Toppoki dan berbisik pelan ditelinganya.


"Jangan bermimpi Dokter, Kalau kau jatuh kemungkinannya hanya dua, mati atau cacat dan jika itu terjadi tidak akan ada yang bisa mengobatimu,"



TBC

__ADS_1


Masih Tim Toppoki?


__ADS_2