
..."Seorang pria tidak akan pernah menangis kala dia benar-benar tidak berada dalam titik terendahnya."...
Atas persetujuan kedua pihak keluarga, akhirnya pernikahan Milo dan Tapasya digantikan oleh pasangan pengganti yaitu Toppoki dan Dairy, tanpa mengganti baju, Toppoki menggendong Dairy naik ke altar pernikahan.
Semua rencana jatuh lebur dan tidak sesuai rencana, semuanya sudah terlambat, hanya perlu memperbaiki nama yang sudah sangat tercoreng. Batas Atitude dan segala atensi sudah dipertaruhkan saat banyak pasang mata itu menatap Toppoki dan Dairy diatas altar.
"Jadi yang akan menikah adiknya? Astaga dia akan kesulitan mendapatkan jodoh, dia anak tertua namun dilangkahi oleh kedua adiknya,"
"Dengar-dengar, ini adalah pernikahan keduanya yang gagal, kasian Tuan Milo."
"Mungkin dia akan menjadi perjaka Tua?"
"Jangan bicara sembarangan nanti Tuan Milo dengar."
"Sudahlah itu kan Fakta, dan adiknya itu dia menikah dadakan, kurasa keluarga ini sudah dikutuk, semua pernikahan yang mereka selenggarakan tidak pernah berjalan dengan baik."
"Kalian! Apa tidak enak nanti kalau Tuan Mourt dan Nyonya Cimory mendengarnya?"
Suara ocehan dari beberapa tamu tersebut terdengar panas ditelinga keluarga Mourt. Dove dan Markisa ingin membalas perkataan mereka, namun Milo kakak tertua segera menahannya, karena sebentar lagi acara penukaran janji suci akan segera dilakukan.
__ADS_1
Semua mata menatap ke altar. Dimana Toppoki sudah bersiap menukar janji suci dengan Dairy. Dairy memejamkan matanya, dia akan melepas masa lajangnya dan bersedia menerima hidup baru.
"Aku bersedia menjadi istrimu."
Hening! Janji itu terucap, terurai kata dalam jiwa manakala suara lantang Toppoki yang bertanya kesediaan Dairy menjadi istrinya, akhirnya mereka berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Hiruk pikuk bahagia dan tidak sedikit nyinyiran terdengar manakala Toppoki mengecup kening Dairy sebagai tanda memulai hidup baru.
Tuan Mourt dan Nyonya Cimory meneteskan sedikit air mata manakala putri bungsu mereka sudah resmi menjadi milik pria lain.
Sedang Milo? Dia memilih kembali ke ruang tamu atas kejadian ini, dia benar-benar sudah di langkahi oleh ketiga adiknya, benar-benar sebuah aib keluarga, dia anak tertua namun hanya dia yang paling payah, dia seorang genius namun cinta tak selamanya mengandalkan kegeniusan.
"Aku hanya ingin bahagia! Kenapa itu sangat berat?" tanya Milo berusaha berbicara via hati ke hati dengan Tuhan.
Nada bicara yang meringis seolah menahan sakit atas sebuah tikaman takdir mana kala luka membatin tergores dalam di titik hatinya, membuat Milo benar-benar frustrasi dan berada dalam titik terendah sebenar dari hidupnya.
"Menangislah sobat, tidak apa-apa," ujar Zac datang dan merangkul Milo. "Terkadang apa yang ingin kita presentasikan tidak sesuai dengan yang kita ingin representasikan, itulah sebuah realitas kehidupan."
Milo mengangkat kepalanya, dia menatap Zac yang ternyata ada Tango juga disana, kedua adik iparnya itu tersenyum memberikan semangat.
__ADS_1
"Kegagalan bukan berarti semuanya tidak akan terjadi, percayalah itu hanya sebuah kenyataan yang ditahan takdir." jelas Tango. "Aku pernah sepertimu, merasa bahwa hidupku sudah sangat hancur, namun aku sadar hidup tidak seburuk itu."
"Ah aku gagal." keluh Milo menundukkan kepalanya. "Tuhan sudah membuatku menyerah,"
"Kau tidak gagal, Tuhan belum membuatmu menyerah. Ingat semua orang yang ada untukmu, Ayah, Ibu, Markisa, Dove, Dairy, Tango, Toppoki bahkan Aku," jelas Zac menolak pemikiran Milo.
"Angkat kepalamu kak. Kau orang yang hebat, kau pernah berjuang diantara hidup dan mati, dan ini baru awal dari segala perjuanganmu," timpal Tango yang membuat Milo mengangkat kepalanya.
"Dia hanya perlu kau perjuangkan, Tuhan masih ingin kau lebih berjuang lagi," lanjut Zac memberikan semangat.
Milo sendiri sedang bimbang, hatinya sudah dipenuhi rasa keputus-asaan, dia sudah merasa Tuhan pilih kasih kepadanya, Milo berdiri dan berjalan meninggalkan Zac dan Tango dengan langkah gontai.
"Maaf, aku menyerah."
•
•
•
__ADS_1
TBC