Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 27 | Memulai Kembali


__ADS_3

Markisa terdiam menatap Zac yang kembali melepas pagutannya, Zac menatap Markisa dalam dan membuat Markisa menundukkan kepalanya.


"Jangan tinggalkan aku, Istriku," bisik Zac menghirup aroma dari wajah Markisa.


Markisa mengangkat kepalanya dan menatap kedua bola mata Zac yang sedang menatapnya dalam, Markisa tidak bisa berkata-kata lagi dsn bagaimana harus menjawab pertanyaan Zac.


"Kau bilang, kau tidak akan melepaskanku, kenapa sekarang kau menyerah? Takkan kubiarkan kau pergi setelah kau berkata bahwa kau mencintaiku di ruangan waktu itu," lanjut Zac memeluk erat tubuh Markisa.


Markisa perlahan menangis terisak, dan membenamkan kepalanya di bahu Zac, Zac melepaskan pelukannya dan memegang kedua baju Markisa.


"Kenapa kau menangis?" tanya Zac mengusap kedua pelupuk mata Markisa dan menatapnya dalam. "Apakah aku membuat kesalahan?"


Markisa memukul-mukul dada Zac pelan membuat Zac pasrah dan membiarkan Markisa menangis terisak. "Kau bersalah! Kenapa kau membuatku sulit meninggalkanmu disaat kau sendiri yang menghancurkanku, kenapa kau meletakkanku pada pilihan yang sulit, Tuan!"


Zac tersenyum pada Markisa, kedua Manik mata mereka kini saling bertemu pandang, Markisa menundukkan kepalanya yang membuat Zac meraih dagu nya dan membuat Markisa menatapnya.


"Karena aku mencintaimu, bisakah kita memulai dari awal?" jawab Zac mendekatkan kepalanya sehingga kening mereka berdua kini saling bersentuhan.


Markisa menutup matanya perlahan, dia tidak menjawab pertanyaan Zac, hatinya bimbang sedang dia terikat perjanjian dengan Milo, pesawat yang akan membawa Markisa sudah berangkat, namun Markisa dan Zac masih dalam posisi yang sama, terdiam dalam mata bertemu pandang.

__ADS_1


"Jangan ragu Markisa, terimalah dia," ujar Milo datang dari arah berlawanan dan melepas kacamata hitamnya dihadapan Zac dan Markisa.


Markisa dan Zac memandang Milo atas ucapannya, Milo kemudian berjalan mendekati Zac dan Markisa kemudian mengambil tangan Markisa dan menggenggamnya erat.


"Setelah kakak pikir-pikir, ucapan mu ada benarnya, semua tidak baik jika selalu berasaskan dendam, kembalilah kepada Zac, mungkin kami masih belum mencintainya, tapi Zac sudah belajar untuk itu, dan kau juga harus belajar untuknya,' ujar Milo kemudian mengambil tangan Zac juga.


"Kalian berdua memang ditakdirkan untuk berjodoh, tidak ada yang tahu skenario Tuhan, dan maaf Markisa kakak sudah memanfaatkanmu dalam misi balas dendam pribadi," lanjut Milo menyatukan tangan Markisa dan Zac.


Markisa mengerutkan keningnya dan menatap Milo dalam, dia tidak mengerti maksud dari ucapan Milo tentang balas dendam pribadi. "Balas dendam pribadi?"


Milo tersenyum dan mengangguk pelan. "Harusnya kakak katakan ini padamu sejak awal, kakak memiliki dendam kepada Zac atas tragedi hubungan asmara, kau tidak perlu tahu apa itu, hanya satu yang ingin kakak katakan, bahwa kakak ada dimalam kau dihancurkan, tapi kakak hanya diam saja karena ingin menjadikanmu bagian dari balas dendam."


Markisa terdiam menatap Milo yang sudah mengungkapkan kejujurannya, bukannya marah, Markisa malah memeluk kakaknya itu yang membuat Milo tertegun mengelus puncak kepala adiknya.


"Apapun itu aku tidak akan pernah bisa marah terhadap kakak, apapun kesalahan kakak, aku justru senang, karena Kak Milo aku bisa menjadi wanita yang kuat, Kak Milo adalah pria paling licik yang pernah aku kenal," ujar Markisa saat melepas pelukannya.


"Dan kau adalah wanita paling cerdas yang berhasil kakak bimbing," jawab Milo mengacak rambut Markisa..


Zac yang melihat itu segera berdehem membuat Markisa dan Milo menatap kearahnya, Zac memandang mereka berdua dengan tatapan miring.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Mau memulai dari awal?" tanya Zac pada Markisa.


Markisa menunduk tidak menjawab yang membuat Zac sedikit sedih dan pasrah. "Kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu,"


Setelah mengucapkan kalimatnya sebuah kecupan dari Markisa mendarat di pipi Zac yang membuat Zac terdiam seketika.


"Apa ini artinya?" Zac menaikkan alisnya menatap Markisa penuh pertanyaan.


"Aku mau memulainya dari awal, Tuan," jawab Markisa yang membuat Zac senang bukan main.


Zac kemudian menggendong Markisa dan memeluknya erat, Markisa mengalungkan tangannya dileher Zac dan menikmati euphoria yang sedang dirasakan Zac.


Zac kemudian menurunkan Markisa dan berteriak kencang. "I LOVE YOU, BU DOKTER!"


Markisa tersenyum atas aksi Zac yang berakhir dengan pelukan mesra diantara keduanya, Milo yang melihat itu hanya tersenyum dan membiarkan Zac dan Markisa menikmati waktu mereka.



TBC

__ADS_1



__ADS_2