
Beberapa hari semenjak kembalinya kesadaran Milo. Markisa dan yang lainnya akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Milo.
Milo yang mengetahui bahwa banyak hal berlalu tanpa kehadirannya tidak menyangka dirinya akan ditipu oleh Tapasya palsu, namun dibalik semua itu Milo merasa bersyukur karena dirinya pada akhirnya bisa bertemu kembali dengan Tapasya yang asli.
Setelah kejadian tersebutpun Milo dan Tapasya segera merencanakan pernikahan mereka berdua yang akan diadakan besok pagi-nya sehingga pihak keluarga Milo dan Tapasya sedang sibuk menyiapkan acara pernikahan tersebut.
"Bagaimana?" tanya Milo pada Tapasya yang tengah berdiri diatas sebuah jembatan yang menjadi saksi perpisahan mereka beberapa tahun yang lalu.
Tapasya tersenyum, ia membalikkan badannya menatap Milo. Angin sore itu berhembus pelan menyapa wajah Tapasya dan Milo.
"Atas dasar apa kau bertanya lagi?" tanya Tapasya berjalan ke arah Milo dan mengalungkan tangan dileher Milo.
"Jika aku melamarmu sekarang, apakah kau akan menikah dengan orang lain?" tanya Milo menaikkan alisnya yang membuat Tapasya terkekeh.
Tapasya kemudian melepaskan tangannya dari leher Milo kemudian berjalan ke arah Zac dan Markisa yang kebetulan ada disana.
Tapasya menarik tangan Zac yang membuat Milo menautkan kedua alisnya bingung. "Why?"
"Aku akan memilih menikah dengan Tuan Zac terhormat," kelakar Tapasya yang membuat Markisa segera menarik tangan Zac.
"Tidak bisa kakak ipar, karena sekarang Tuan Diktator ini suamiku," jawab Markisa yang membuat Milo, Tapasya dan Zac tersenyum.
Mereka berempat sebenarnya baru selesai meninjau gedung pernikahan, Namun karena ingin sedikit bernostalgia, akhirnya Tapasya meminta kepada Milo untuk berhenti di jembatan terakhir mereka bertemu.
Tapasya kemudian kembali berjalan ke arah Milo dan memeluk erat pria yang sangat dicintai nya itu, dia tidak tahu lagi harus bagaimana mengungkapkan segala perasaan terdalamnya bagi Milo, yang jelas dia sudah lega akhirnya semua selesai.
"Kalian adalah pasangan yang serasi," ujar Zac. "Maafkan aku telah memisahkan kalian dulu,"
__ADS_1
Tapasya dan Milo tersenyum kemudian saling melempar tatapan yang membuat Zac dan Markisa menatap keduanya bingung.
"Kalau kami tidak mau memaafkanmu, bagaimana?" tanya Milo yang membuat Zac melipat kedua tangannya.
"Kalian terkadang menyebalkan, kutarik kalimatku," kesal Zac yang membuat lainnya tertawa. "Kalian masih ingin berlama-lama disini kan?"
Milo dan Tapasya mengangguk.
"Kalau begitu kami ingin pulang duluan, iya kan sayang?" jawab Zac berujung pertanyaan kepada Markisa.
Markisa mengangguk, Milo dan Tapasya kemudian mempersilahkan mereka pulang duluan, Zac dan Markisa pun berjalan dan masuk kedalam mobil mereka dan meninggalkan Milo serta Tapasya ditempat itu.
"Kita mau kemana?" tanya Markisa pada Zac yang sedang menyalakan mesin mobilnya.
"Kemana saja, asal bersamamu," jawab Zac yang membuat Markisa menyandarkan kepalanya di bahu Zac yang sedang menyetir.
"Apa?"
"Kau pernah berkata bahwa kau dendam kepadaku dulu, dan berencana akan meninggalkanku saat aku jatuh cinta kepadamu, jika kau melakukan dendammu sekarang dan meninggalkanku, kurasa kau berhasil, aku akan sangat jatuh karena tidak bisa hidup tanpamu," jelas Zac mengambil fokus menyetir mobilnya.
Hening.
Tidak ada kalimat balasan dari Markisa, kecuali suara hening selain deru halus mobil, suara napas yang membantu ritme kehidupan dan berbagai klontingan suara partikel lain.
"Hahaha!"
Markisa tertawa mendengar penjelasan Zac yang membuat Zac mengerutkan kening dan menghentikan mobilnya menatap Markisa bingung.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa?" Zac menempelkan tangan di kening Markisa. "Tidak panas,"
Markisa menghentikan tawanya kemudian menangkup pipi Zac, membiarkan kedua telapak tangannya menyentuh pipi halus dan brewok tipis yang menggelitik itu.
"Sepertinya terbalik, pada awalnya memang begitu, namun jika Mas tanya aku, kalau Mas sampai meninggalkanku, aku akan bingung menghadapi kehidupanku kedepannya," jawab Markisa mendorong Zac sehingga tersudut.
"Kenapa?" tanya Zac pada Markisa.
"Karena aku sedang mengandung dan tunjangan janda di negara ini tidak seberapa, jadi aku masih membutuhkan suamiku," jelas Markisa yang membuat Zac berekspresi datar.
Markisa terkekeh melihat ekspresi suaminya, ia kemudian mengambil wajah Zac dan memaksa suaminya itu menatapnya. "Jangan cemberut begitu, aku hanya bercanda Mas,"
"Alasannya adalah karena aku mencintaimu," lanjut Markisa mencium pipi Zac yang membuat Zac tersenyum malu dibuat istrinya.
•
Dairy menatap wajahnya dicermin disaat semua anggota keluarganya sibuk mempersiapkan pernikahan Milo.
Semuanya sudah tampak bahagia bahkan Tango sendiri sudah tidak ingin bekerjasama dengannya, dia sendirian dalam kamar itu dan menjalani sisa kehidupannya dengan kursi roda.
Prang!
Suara kaca dari meja rias yang dipecahkan Dairy terdengar nyaring, semua dendamnya sudah terkumpul, dia tidak rela melihat orang lain bahagia, disaat dirinya terluka dan hancur dalam keterpurukan.
"Lihat saja! Akan aku hancurkan hari bahagia ini," ancam Daity melempar semua benda dimeja rias-nya.
•
__ADS_1
TBC