Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 82 | Batalkan Pernikahan Ini


__ADS_3

Malam ini adalah malam pernikahan Milo dan Tapasya, mereka akan saling menukar janji suci diatas altar pernikahan dan bersaksi atas nama Tuhan dan menjadikan keduanya sah sebagai suami istri.


Markisa dan Zac kini duduk di kursi keluarga, mereka berdua tampak mesra menanti acara penukaran janji suci untuk Milo dan Tapasya, sedang Tango dan Dove baru saja datang dan langsung duduk di samping Markisa dan Zac.


"Kak Dove," bisik Markisa yang membuat Dove membalikkan kepalanya menghadap kepada Markisa.


Dove memberikan tatapan berarti pertanyaan kepada Markisa yang sedang cengar-cengir mengode Dove sembari melirik Tango yang tampak berbincang dengan Zac.


"Kalian sudah mesra? Koreksi kalau aku salah," tanya Markisa yang membuat pipi Dove memerah. "Jangan dijawab! Pipimu sudah merah, berarti semua ucapan ku benar adanya,"


"Kau menggodaku yah! Dia datang kesini karena kami sepasang suami istri," jawab Dove mendorong hidung adiknya itu sehingga wajah Markisa sedikit terjungkal kebelakang.


"Sepasang suami istri? Yang mencintai bukan?" tanya Markisa lagi menggoda kakaknya.


Dove tidak menjawab. Memang jika dengan Markisa dia tidak akan menang dalam urusan debat-debatan sehingga payah bagi Dove untuk membalas segala ucapan Markisa.


"Kau selalu menang, aku kalah," pasrah Dove yang membuat Markia menyenggol bahunya.


"Ah, kakak, aku kan hanya bertanya, kalaupun kalian benar sudah romantis pasti akan sangat bahagia, kapan kalian go publik?" ujar Markisa yang membuat Dove tertunduk dalam.


"Hari minggu, kalau gak hujan," jawab Dove yang membuat Markisa terkekeh.


Sementara itu Tango yang duduk disamping Zac. Tampak sungkan dan malu, mengingat riwayat pertemuan mereka yang buruk, membuat Tango belum terlalu banyak bicara apalagi Zac mungkin masih marah padanya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Zac pada Tango.


Hening diantara mereka buyar, sementara hiruk pikuk keramaian tercipta, Zac dan Tango hanya larut dalam hening masing-masing.

__ADS_1


Tango mengangkat kepalanya, dia masih sungkan dan segan untuk memandang wajah Zac. "B-Baik."


"Kalau orang bicara itu, dilihat dong," protes Zac yang membuat Tango menatap Zac perlahan. "Nah kalau gini kan bagus."


"Jangan segan begitu, aku sudah tidak marah tentang kejadian itu, mau bagaimanapun kau adalah suami dari Dove, kakak iparku, bagaimana kalau kita memulai dari awal, lupakan masalah yang terjadi diantara kita," jelas Zac yang membuat Tango terdiam. "Aku minta maaf kalau aku pernah berbuat kasar padamu,"


Zac merangkul bahu Tango, membuat Tango dapat membaca sinar ketulusan dari wajah Zac dari guratan di wajahnya.


"Maafkan aku, sungguh aku minta maaf," jawab Tango yang membuat Zac meninju dada Tango pelan.


"Aku sudah memaafkanmu, ayo lupakan semuanya dan kita mulai hal yang baru, bagaimana pernikahan mu?" tanya Zac yang membuat Tango terdiam sejenak.


"Baik-baik saja, aku mulai belajar mencintai Dove dan melupakan semua masa lalu ku," jawab Tango.


"Baguslah, Dove itu wanita yang baik, cuma dia pernah khilaf, namun kesalahan itu bukan berarti tidak ada kebaikan darinya, berikan dia surga maka kau akan mendapatkan malaikat darinya," saran Zac.


Disaat mereka semua sibuk mengobrol, semua mata dibuat terkejut bahkan Tuan Mourt dan Nyonya Cimory sendiri terkejut.


Tampak Toppoki yang menggendong Dairy masuk ke aula pernikahan itu dengan langkah tegas, membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian semua orang, terutama Markisa, Dove, Tango dan Zac.


Mereka berdua tampak kompak dengan balutan serba putih, pipi Dairy memerah mana kala terdengar pujian manis dari beberapa orang disana. Toppoki berjalan ke arah Markisa dan Dove, mendudukkan Dairy disamping mereka kemudian bersimpuh dihadapan Dairy.


"Kau tunggu disini yah? Aku ingin ketoilet sebentar." ujar Toppoki yang membuat Dairy mengangguk.


Toppoki berdiri dari posisinya kemudian memperbaiki posisi jasnya. "Aku titip wanitaku yah,"


Markisa dan Dove hanya memberikan jempol, setelah kepergian Toppoki, Dairy hanya bisa canggung diapit oleh kedua kakaknya itu, sementara tadi siang mereka masih bertengkar.

__ADS_1


"Bidadari, mau minuman?" tawar Markisa.


"Kurasa dia mau kue," timpal Dove.


Dairy mengangkat kepala yang membuat Markisa dan Dove saling mrlempar tatapan, dan tanpa aba-aba mereka berdua kemudian memeluk Dairy secara bersamaan.


"Jangan berubah Dairy, tetaplah seperti ini," bisik Markisa bahagia atas perubahan Dairy.


"Jangan jahat, jangan Jahat, kamu cantik, kamu kuat, kami selalu ada buat kamu," timpal Dove.


Dairy perlahan menangis yang membuat Markisa dan Dove mengusap air mata Dairy, ini pertama kalinya Dairy mendapatkan sebuah kehangatan dari saudaranya, sehingga Dairy memilih membalas pelukan itu.


"Terima kasih,"


Acara berlanjut, kini Milo dan Tapasya sudah berdiri dialtar pernikahan siap melepas masa lajang, Milo berdiri gemetar, mana kala wajah Tapasya tersenyum manis kepadanya, inilah impian yang sempat tertunda pada dirinya.


Disaat mereka ingin menukar janji suci, tampak seorang ibu dan bapak yang seusia dengan Tuan Mourt dan Nyonya Cimory masuk ke aula pernikahan tersebut dengan teriakan kencang.


"BATALKAN PERNIKAHAN INI!"





TBC

__ADS_1


__ADS_2