Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 61 | Sangat Memalukan


__ADS_3

"Bagaimana Dokter Tan? Dia mengandung anakmu, " ujar Markisa berjalan ke arah Tango yang masih berdiri diruangan itu.


Tango menatap Markisa dalam dan memberinya tatapan penuh makna, dia mengambil tangan Markisa yang langsung disentak oleh Markisa, detak jam diruangan itu berdesir seiring terlewatnya detik demi detik saat itu.


"Tapi, aku mencintaimu!" ujar Tango pada Markisa.


Markisa melipat kedua tangannya, kalimat bulshitt apalagi yang sedang diucapkan pria ini padanya, masih bisa dia mengatakan cinta setelah dia tahu bahwa sekarang wanita yang menjabat sebagai istrinya tengah mengandung anaknya.


"Kau mengaku cinta, tapi kau hanya bernafsu, harusnya kau sadar diri atas apa yang kau ucapkan, kau tidak sadar? Kau benar-benar pria paling menjijikkan," ujar Markisa yang membuat Tango terdiam. "Kak Dove sudah berusaha menjadi istri yang baik, sedangkan dirimu? Kau tidak tahu malu,"


"Bahkan memandang wajahmu saja sudah sangat menjijikkan bagiku, keluar dari ruanganku, aku tidak ingin melihat seorang suami yang tidak bertanggung jawab." Markisa mendorong dada Tango yang membuat Tango sedikit terdorong kebelakang.


Tango menatap Markisa dengan tatapan penuh arti diantara perdebatan batin yang terjadi antar pikirannya, entah kenapa Tango merasa sedikit menyesali ucapannya namun mau bagaimanapun dia tidak akan mau menerima bayi itu sebagai anaknya.


"Dengarkan ini, suatu saat kau akan menyesal, dia yang tulus dan selalu ada untukmu pergi meninggalkanmu bersama hal yang kau tidak tahu akan merubah hidupmu menjadi lebih baik," lanjut Markisa. "Andaikan kau tahu bagaimana hebatnya seorang istri, mungkin mulut sampahmu tidak akan sanggup menyakitinya,"


Tango terdiam, sebuah ucapan yang benar-benar mengagetkan Tango, sebuah titik kesadaran mulai hadir namun Tango tetaplah Tango baginya Dove hanya wanita sialan yang merepotkan hidupnya saja.


Markisa berjalan duduk kekursi kerjanya sedangkan Tango yang sudah mendapat tamparan keras melalui kalimat itu berjalan pelan keluar dari ruangan itu.


"Aku tidak tahu akan ada apa kedepannya, tapi jangan sampai kau menyesal dan menjilat ludah sendiri," ujar Markisa yang masih bisa didengar oleh Tango.


"Dan akan ku pasti kan aku tidak akan menyesal," jawab Tango yang membuat Markisa tersenyum kecut.


"Begitulah dirimu, masih sangat sialan," ujar Markisa melepas kepergian Tango yang menghilang dari hadapannya.


Sementara itu Dove berjalan dengan langkah gontai menyusuri koridor rumah sakit tersebut, setegas-tegasnya dia, dia hanya perempuan biasa, ia menangis memegangi perutnya yang terdapat sebuah janin.


Entah bagaimana lagi dia sudah berada dibatas sakit hati nya, kakinya melangkah kaku menyusuri koridor demi koridor rumah sakit tersebut, seiring derap langkahnya yang mulai keliru tanpa arah.


Ia menutup mukanya dengan masker dan kacamata menyembunyikan lelehan tangis yang mungkin akan membuat orang yang lalu lalang di koridor itu merasa heran, namun isaknya tetap saja terdengar.


"Anak haram!"

__ADS_1


Kalimat yang masih terngiang, ayah dari anaknya sendiri mengatakan anaknya adalah anak haram dan dia masih sempat menyuruhnya mengugurkan kandungan ini, Dove sudah bertekad mau bagaimanapun keadaannya, tanpa atau adanya suami dia akan membesarkan anaknya sendirian.


Dove berjalan dengan langkah yang kembali berderap tanpa arah dan berusaha keluar dari rumah sakit tersebut sampai tubuhnya tidak sengaja menabrak sosok pria berjas putih yang membuat dirinya hampir terjungkal kebelakang.


Untung saja pria tersebut langsung menarik tangan Dove dan menangkap Dove ke pelukan nya, Dove membulatkan mata sempurna, dia mengingat dan mengenali wajah pria itu.


"Oki?" tanya Dove berdiri dan tanpa sengaja membuat kacamatanya terjatuh.


Pria yang bernama Toppoki Adams itu segera memperbaiki posisi berdiri dan menatap Dove dengan jas putihnya. "Dove? Hai apa kabar!"


Dove berusaha mencari kacamatanya sebelum Toppoki mengambil kacamata tersebut dan menyerahkannya ke Dove. "Ini milikmu,"


"Terima kasih," Dove ingin mengambil kacamata tersebut namun ditahan oleh Toppoki.


"Tunggu! Kau menangis?" tanya Toppoki


Dove berusaha memalingkan wajahnya demi menyembunyikan wajah sembabnya dihadapan sahabat lamanya itu sembari menggeleng pelan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Toppoki. "Kau tahu aku menghabiskan beberapa waktu demi bekerja dikota ini, hanya untuk menemuimu, oh tunggu aku masih menyimpan ini,"


Toppoki mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah foto masa kecil mereka berdua yang merupakan sahabat lama, Toppoki memperlihatkan foto tersebut kepada Dove.


"Kau masih menyimpannya?"


"Tentu, saat kita SMA kau menolak cintaku, sekarang aku sudah menjadi dokter dan belum mencintai wanita lain selain dirimu, aku berusaha bekerja disini untukmu, dan suatu saat nanti aku akan melamarmu," ujar Toppoki yang membuat Dove berdegup.


"Ada yang perlu kau tahu," jawab Dove dengan ekspresi bingung ingin menjelaskan sesuatu kepada Toppoki.


"Apa?" tanya Toppoki yang menatap Dove dalam.


"Aku sudah menikah dan sedang hamil, maaf aku menolak cintamu dulu dan membuatmu menunggu untuk lulus demi melamarku kembali, aku harap kau menemukan wanita lain," jawab Dove yang membuat ekspresi Toppoki berubah seketika.


Toppoki ikut berdiri dan menundukkan kepalanya merasa pahit sedih atas segala penantiannya, masih teringat dirinya menjadikan Dove cinta pertama, berjanji bahwa dia akan kembali melamar Dove setelah sukses menjadi dokter.

__ADS_1


Dove sendiri yang tidak tahu akan bertemu lagi dengan Toppoki yang masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu hanya bisa terdiam saat itu juga saat Toppoki menatapnya dalam sangat dalam sampai menusuk netra Dove yang memaksanya memalingkan wajahnya.


"Begitu yah?" Toppoki berusaha tersenyum tegar dibalik guratan kesedihan diwajah tampannya. "Setidaknya kita masih bersahabat,"


Dove membalikkan muka menatap Toppoki yang masih sedikit santai namun tidak dapat membohongi segala perasaan kalutnya.


"Kau tidak marah?" tanya Dove pada Toppoki.


Toppoki terkekeh dia mengacak rambut Dove, sungguh pelakuan yang manis yang tidak pernah didapat oleh Dove selama menjadi istri Tango.


"Wanita semanis dirimu, siapa yang bisa marah?" tanya Toppoki yang membuat Dove tersenyum manis.


"Terima kasih!" ujar Dove memeluk sahabatnya itu.


Toppoki menerima pelukan Dove dalam diam, ia sembari mengusap rambut Dove setidaknya mereka bisa saling melepas kerinduan atas masalah yang terjadi.


Walaupun kini sukar bersama setidaknya mereka bersahabat, Tango yang berjalan disekitar situ tanpa sengaja melihat adegan tersebut yang membuat dia naik pitam.


"Dasar wanita sialan! Dia benar-benar wanita penggoda, dia bahkan bersama pria lain sekarang!" geram Tango berjalan dengan langkah kesal menuju Dove dan Toppoki.


"Dove!" teriak Tango yang membuat Dove Menatap Tango.


Tango langsung mencengkram tangan Dove hendak membawanya sebelum Toppoki menahannya. "Siapa kau!"


"Aku suaminya!" jawab Tango menarik tangan Dove yang pasrah meninggalkan Toppoki disana.



TBC


Toppoki


__ADS_1


__ADS_2