Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 88 | Haruskah Memilih?


__ADS_3

"Mas? Mas Zac," panggil Markisa yang membuat Zac berjalan ke arah istrinya itu.


Markisa memegang perutnya sedikit, dia merasakan keram disana yang membuat Zac mendatangi Markisa dengan keadaan panik.


"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Zac yang melihat Markisa merasakan keram diperutnya.


"Kita ke rumah sakit yah," Zac mengangkat Markisa dan menggendongnya keluar dari mobil.


Kring!


Suara ponsel Markisa berdering, yang membuat Zac segera mengambil ponsel tersebut dan mengangkatnya yang ternyata dari Dove.


"Halo? Kau Zac? Dimana Markisa?" tanya Dove saat dia mendengar suara Zac yang menyapanya terlebih dahulu.


"Markisa mengalami keram diperutnya, dia akan aku bawa ke rumah sakit," jawab Zac mengapit ponsel diantara telinga dan bahunya.


"Astaga, kenapa bisa? Aku dan Tango akan menyusul kesana," ujar Dove.


Zac mengangguk walaupun tidak bsa dilihat oleh Dove kemudian mematikan panggilan telepon tersebut sekilas, selanjutnya dia membuka pintu mobilnya dan memasukkan Markisa kedalam mobil sebelum dirinya ikut masuk kedalam kursi penumpang.


Sedangkan Dove yang sudah memutuskan panggilan telepon tersebut berdiri khawatir akan kondisi adiknya itu.


"Ada apa sayang?" tanya Tango membawakan segelas susu ibu hamil untuk Dove.


"Markisa masuk rumah sakit," jawab Dove menerima susu tersebut kemudian meminumnya.


"Bagaimana bisa?" tanya Tango menunggu Dove menghabiskan susunya.

__ADS_1


Dove tidak langsung menjawab ia menghabiskan susunya dulu sebelum memberikan gelas kosongnya kepada Tango, Tango menerima susu itu dan menaruhnya dimeja.


"Aku tidak tahu, ayo kita ke rumah sakit," jawab Dove.


Tango bisa membaca pancaran kekhawatiran dari istrinya yang membuat Tango mengangguk, Tango berjalan masuk kedalam kamar mengambil kemeja karena saat ini ia tengah bertelanjang dada, setelah selesai ia mengambil kunci mobil kemudian bersama dengan Dove keluar dari rumah menuju mobil mereka.





"Bagaimana bisa? Kau memilih gadis bawang seperti dia?" tanya Tapasya yang membuat Milo menatapnya getir.


"Sudah kubilang, hubungan kita sudah selesai, lebih baik begini bukan? Aku tidak ini terbelenggu antara takdir dan perasaanku sendiri dan kurasa kita sudah selesai," jawab Milo yang membuat Tapasya tersentak.


"Aku tidak bisa menggantungkan harapan ku terus, kalau kau terus berpangku tangan, lantas kau pikir apa yang bisa aku lakukan?" ujar Milo. "Aku pergi,"


Milo menarik tangan Aran pergi dari sana, Aran yang kebingungan dengan semua drama ini hanya menatap polos mengikuti Milo sampai mereka tiba di parkiran.


"Lepasin!" berontak Aran yang membuat Milo melepaskan tangan Aran. "Maksud Om apa sih? Sampai nyium aku ditempat tadi? Om pikir aku cewek kayak apa?"


"M-maaf, Om cuma mau membuktikan kalau Om sudah menemukan pengganti dia," jawab Milo tertunduk.


"Dengan asal nyosor begitu? Om bahkan ngerebut ciuman pertama ku loh, Om pikir semua wanita gitu? Dijadikan pelampiasan saat dia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri sendiri, aku kesel sama Om," ujar Aran berjalan meninggalkan Milo.


"Aran, Tunggu!"

__ADS_1


Milo memanggil Aran guna meluruskan kesalahpahaman ini, namun Aran terus berjalan meninggalkan Milo seolah menulikan dirinya sendiri, Milo yang bingung harus berbuat apalagi hanya berdiri pusing, harusnya dia tidak melakukan itu, dan kini Aran malah merasa dilecehkan.





Zac tengah berjalan mondar-mandir dikoridor rumah sakit saat Dokter Softexia memeriksa keadaan Markisa, dia takut akan terjadi apa-apa pada Markisa karena Zac tahu Markisa memiliki masalah pada kandungannya sebelum dia hamil.


Tak lama kemudian Dokter Softexia keluar dari ruangan tempat Markisa diperiksa, dia mengajak Zac mendekat guna membicarakan sesuatu.


"Tuan Zac, sepertinya ini sedikit berat, menyangkut penyakit lama Markisa yang memiliki komplikasi dengan rahimnya sebelum mengandung, apakah Tuan tahu ini?" ujar Dokter Softexia yang membuat Zac mengangguk. "Jadi begini, untuk sekarang mungkin hanya keram biasa namun jika kandungan Dokter Markisa dilanjutkan sampai melahirkan, ini bisa berpengaruh bagi Dokter Markisa sendiri, dan yang paling buruk dari itu adalah,".


Kalimat Dokter Softexia terhenti saat melihat ekspresi wajah Zac yang khawatir dan panik, Dokter Softexia merasa ragu untuk mengatakan ini namun dia mengumpulkan tenaga untuk memberi tahu Zac.


"Kenapa?"


"Yang terburuk dari itu, mungkin bisa saja Tuan Zac akan dihadapkan sebuah pilihan antara Nyawa Dokter Markisa atau Bayinya, tapi ini baru diagnosa dan saya berharap ini tidak akan terjadi," jelas Dokter Softexia yang membuat Zac terhentak.





TBC

__ADS_1


__ADS_2