
Hai Kakak, Jangan Lupa Tinggalkan Like dan Komentarnya yah, Agar Author semakin semangat Update :)
•
Zac berjalan ke arah Markisa dan Tango, ia kemudian mulai mengayungkan tongkat baseball yang dia ambil tadi tepat diwajah Tango yang membuat darah mengalir dari hidungnya.
Setelahnya Zac berjalan ke arah Tango yang sudah tersungkur dan mengangkat tubuh Tango pelan dengan cara menarik kerah kemejanya, kini jas putih yang dipakai Tango penuh dengan bercak darah.
"Dengarkan aku, Sialan! Jangan pernah menyentuh istriku dengan tangan busukmu itu, karena sampai kapanpun aku tidak akan sudi jika kau menyentuhnya," teriak Zac mengancam.
Tango meringis, ia masih sempat tersenyum geram kemudian menatap Zac dengan tatapan tajam. "Kau pikir aku akan menyerah begitu saja, dia milikku yang kau rebut!"
Bugh!
Zac mengayunkan bogeman mentah kepada Tango beberapa kali yang membuat Markisa segera menghentikan aksi suaminya.
"Mas! Sudah! Banyak orang disini," ujar Markisa menggenggam lengan Zac.
Zac membuang muka, ia mengatur napas sejenak, kemudian melepaskan tangannya dari cengkraman untuk Tango.
Zac berjongkok dihadapan Tango yang tersungkur ke tanah, dan menatapnya dengan tatapan elang.
"Dengarkan ini baik-baik, ini terakhir kali nya kau menyentuh istriku, kalau sampai aku melihatmu menyentuhnya lagi, kau akan ku pasti kan berjalan tanpa kaki," bisik Zac bangkit kemudian menarik tangan Markisa masuk kedalam rumah sakit.
Sementara itu Tango yang masih tersungkur berusaha bangkit namun gagal karena sedikit kehabisan tenaganya.
"Kau sudah puas?" Dove berjalan menghampiri Tango dan memapahnya untuk berdiri.
Tango melepas tangan Dove dari dirinya yang membuat ia kembali terjatuh ketanah. "Aku tidak perlu bantuanmu!"
"Okey, baiklah," jawab Dove melipat kedua tangannya.
__ADS_1
Tango kembali berdiri namun tetap saja gagal yang membuat Dove benar-benar tidak habis pikir betapa keras pola pikir manusia satu ini.
"Ini sudah sepuluh menit dan kau masih belum mampu, turunkan ego mu biarkan aku yang membantumu, dasar," Dove membantu Tango berdiri kemudian membawanya masuk kedalam mobil nya sendiri yang tidak jauh dari sana.
Setelah membantu Tango masuk ke kursi penumpang, Dove juga ikut masuk kedalam sana, ia menatap wajah Tango yang masih penuh darah dan napasnya tersengal-sengal.
"Berhentilah, ikatan cinta mereka sangat kuat, kau tidak mungkin memisahkan mereka, kenapa kau tidak mengerti juga?" ujar Dove mengambil tisu dan memgelap wajah Tango.
"Aku tidak peduli!" sentak Tango mengambil botol air minum dan menengguk habis air tersebZ
"Cobalah, berpikir sejenak, ada aku yang siap menerimamu, kenapa kau masih berharap kepada yang lain?" Dove menatap Tango dalam yang membuat Tango balas menatapnya.
Dove mengelus wajah pria yang sebenarnya sangat perkasa itu lembut, memancarkan sorot ketenangan dari dalam matanya untuk Tango.
"Berhentilah bermimpi, Nona!" teriak Tango melepaskan tangan Dove.
"Bisakah kau belajar mencintaiku, sejenak saja, seperti aku belajar mencintaimu, apa yang tidak kau pahami? Aku berharap lebih padamu, aku sekarang hanya seorang istri yang berstatus disaat suaminya masih mengharapkan wanita lain," jelas Dove dengan wajah yang penuh ketulusan.
Tango kemudian berjalan keluar dari mobil dengan keadaan bertatih-tatih sedangkan Dove hanya menatapnya penuh keyakinan. "One day, aku akan menulis kisah pernikahan kita sendiri,"
Sedangkan Zac yang sudah tiba diruangan Markisa bersama dengan Markisa segera mengatur napasnya yang masih tersulut emosi.
"Kau berhenti saja bekerja, cukup aku, kau tidak perlu menjadi dokter lagi," ujar Zac pada Markisa.
"Tidak bisa Mas," jawab Markisa yang membuat Zac menautkan wajahnya.
"Kenapa? Apakah uang belum cukup dalam kehidupan kita?" tanya Zac pada istrinya itu.
Markisa tersenyum ia kemudian mengambil air minum dan memberikannya kepada Zac yang membuat Zac mengambil air tersebut dan menungguknya habis.
"Kau masih belum berubah Mas, uang bukan satu-satunya hal didunia ini, pekerjaanku berbicara tentang dedikasi, seorang dokter memiliki kebanggaan tersendiri, bukan dengan berapa pendapatannya, bayangkan jika semua dokter memilih uang? Tidak akan ada tenaga medis yang tulus lagi didunia ini," jelas Markisa yang membuat Zac terdiam.
__ADS_1
"Tapi aku takut, kalau Tango mengganggumu lagi," ujar Zac yang membuat Markisa mengelus wajah suaminya.
"Bagaimana bisa dia mengangguku, sedangkan ada pria perkasa yang menjagaku,"
Zac tersenyum dan mencium istrinya itu, sebekyam suara dering ponsel mengagetkannya.
"Kak Milo," ujar Zac saat Markisa memberi nya tatapan pertanyaan.
•
Milo sedang berada diruangannya ia kembali fokus bekerja sebelum mengingat bahwa ada kerjasama penting dengan Zac.
"Berbicara soal uang dua Milyar untuk perusahaan Zac itu sangat kecil, bagaimana kalau kunaikkan tujuh puluh milyar, apakah Zac masih tertarik?" kelakar Milo dalam hati yang akan menjalin kerjasama dengan adik iparnya itu.
Milo kemudian berdiri dari kursinya dan menelepon Zac guna menginfokan pertemuan mereka yang bisa saja diinfokan oleh sekretaris masing-masing.
Bugh!
Belum sempat Milo terhubung kepada Zac, ia sudah jatuh tersungkur karena pukulan seseorang yang membuatnya tidak sadarkan diri karena mengalami luka yang cukup serius.
"Kita lihat bagaimana pro player Markisa bisa mengungkap kejadian ini, jika aku memanipulasi keadaannya," ujar sosok misterius tersebut mengeluarkan sapu tangan untuk menghilangkan sidik jari nya kemudian berjalan meninggalkan ruangan Milo.
•
TBC
Kasian yah Dove
__ADS_1