
Zac merapikan berkas-berkas dihadapannya selepas dia selesai menghubungi sekretarisnya yang langsung pergi menghubungi pihak toko buah yang dimaksud Zac.
Zac berjalan keluar dari ruangan kerjanya dengan langkah tegas membuat suara sepatu miliknya berderap seirama langkah kakinya.
"Tuan Rich? Alphard anda belum selesai diperbaiki, ingin naik apa untuk ke rumah sakit?" tanya Asistennya yang membuat Zac berpikir sejenak.
Ia melepaskan kancing jas berwarna hijau tua senada dengan celananya yang berwarna serupa membuat kemeja putihnya jelas terekspos yang dua kancing kemeja atasnya terbuka.
"Brio? Aston? Hmm aku tidak ingin naik kendaraan darat, siapkan VIPLIONAIRE sekarang," jawab Zac mengusap rambutnya berwarna coklat.
"Tuan serius?" tanya Asistennya kembali.
"Apakah wajahku terlihat berbohong?" tanya Zac memperlihatkan ekspresi serius dibalik wajah maskulin berbalut brewok rapi itu.
Pria yang memiliki darah spanyol ini, kembali berjalan membuat sepatu kulit berwarna coklat miliknya berdetak senada berirama langkah pasti keluar dari area kantornya.
"Tuan Alzacrich, semua buah-buahan yang anda minta sudah dikirimkan ke rumah sakit, yakin sebanyak itu?" tanya seseorang yang datang menghampiri Zac dan menyerah tagihannya.
Zac tidak menjawab dia mengambil kertas tagihan tersebut dan melihat total yang harus dia bayarkan, dia merogoh saku kemeja mengambil ponsel miliknya dan membuka aplikasi E-Money miliknya.
"Sudah ku transfer," ujar Zac memperlihatkan monitor layar ponselnya kepada pria tersebut.
Zac kemudian berjalan keluar dari kantornya menuju halaman kantor tersebut dimana VIPLIONAIRE miliknya sudah menunggu, yaitu sebuah Mini Pesawat pribadi yang bisa di naiki oleh dua orang.
Sungguh aneh, dia ingin ke Rumah Sakit mengendarai kendaraan ini, Asisten Zac yang sudah menunggu menghampiri Zac dan membuka pintu mini Pesawat tersebut untuk Zac.
"Urus keadaan kantor selagi saya pergi," jelas Zac menutup pintu mini pesawat tersebut dan mulai nengendarainya.
Perlahan mesin pesawat menyala membuat besi berbentuk kendaraan yang biasa disebut burung besi tersebut terangkat naik, seiring Zac mengudara keatas.
Zac ingin segera menemui Markisa istrinya, menyapa Baby Z dan juga mengecup puncak kepala Markisa, jangan tanyakan kenapa dia merasa candu begini kepada istrinya sedang dia merasakan bahwa Markisa telah mengubah sebagian dari hidupnya lewat prinsipnya.
__ADS_1
Zac memakai kacamata hitam-nya, menambah karisma si pria berbadan tegap dengan pahatan tubuh sempurna ini, rambut coklat, bola mata coklat, bibir ranum yang tak bisa dipetik membuat siapapun akan tergoda dan jatuh cinta padanya, namun jika kau tanya Zac dia akan menjawab. Bahwa tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Markisa baginya.
"Aku datang sayang," ujar Zac menatap monitor layar maps yang masih terpampang jelas didepannya.
Sementara itu Markisa yang tengah menikmati waktu istirahatnya, sibuk menggeser layar ponsel membalas beberapa chat yang masuk ke aplikasi chatting nya sebelum Suster Rinso datang dengan keadaan tergesa-gesa ke hadapannya.
"Ada apa Suster?" tanya Markisa menaruh ponselnya dan menatap Suster Rinso sejenak.
Suster Rinso mengatur nspasnya hendak menjelaskan sesuatu kepada Markisa namun tidak bisa karena dia berlari dari luar menuju ruangan Markisa sudah sangat menyita tenaganya.
Markisa terdiam dan berdiri menanti Suster Rinso selesai dengan ritme bernapas yang bisa mempertahankan hidupnya itu, setelah selesai Suster Rinso kemudian mulai berbicara kepada Markisa.
"Dokter diluar ada Empat Kontainer yang mengantar buah-buahan dari Richman dikota ini, Tuan Alzacrich untuk istrinya yaitu Dokter Markisa," jelas Suster Rinso yang membuat Markisa menautkan alisnya.
"Untuk aku?" tanya Markisa. "Kenapa Empat kontainer? Kau tidak salah kan Sus?"
Suster Rinso menggeleng. "Lebih baik kita lihat di depan Dokter,"
Markisa berjalan mengikuti Suster Rinso yang terlebih dahulu dengan langkah tergesa, Markisa kali ini tidak memakai sepatu hells karena itu dapat berpengaruh ke tumit yang bisa membuat perutnya kram dalam hamil muda begini, sehingga kini Markisa bisa bebas berjalan dengan langkah cepat.
Sungguh sangat menghambat tugas medis dan membuat Markisa frustrasi, Markisa keluar dari rumah sakit dengan rahang terbuka lebar, tidak ia sangka akan sebanyak ini, ia meremas jas putih dokternya saking frustrasi dan bingungnya atas apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya Markisa berusaha menghentikan aksi beberapa orang itu.
Salah satu dari mereka mendatangi Markisa yang sudah hampir mati dan nyaris setres dibuat tingkah Zac hari ini.
"Maaf Nyonya Alzacrich, ini permintaan Tuan Alzacrich sendiri," ujar pria tersebut kepada Markisa.
Markisa pasrah, kesal, frustrasi dan menjadi bahan tontonan banyak orang, terlebih disaat suara mesin pesawat di serta angin semilir membuat mereka menengok ke arah suara itu.
"Mas Zac?" ujar Markisa menghadap ke arah sebuah mini pesawat milik Zac yang terparkir dihalaman rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Zac turun dari mini pesawatnya dan memakai kembali jas hijau tua-nya yang tadi dia lepas, ia kemudian mengancing dua kancing kemeja atasnya sembari berjalan ke arah Markisa membuat detak sepatu coklat di kakinya bernada dengan semen halaman rumah sakit.
"Hai Sayang, bagaimana buah-buahannya apakah Baby Z menyukainya?" tanya Zac yang telah berdiri dihadapan Markisa dan mencium puncak kepala Markisa.
Markisa ingin sekali meledakkan kekesalan dan mengoceh panjang kali lebar dihadapan Zac yang berhasil membuat geger hari ini sebelum suaminya itu dengan laknatnya membekap mulut nya kemudian berjongkok dihadapan perutnya.
"Jangan bicara! Simpan dulu kekesalanmu, setelah ini kau bisa misuh-misuh sesuka hatimu kepadaku," ujar Zac mencium perut Markisa. "Hai Baby Z? Apa kabar sayang, kau suka dengan apa yang Daddy bawakan untukmu? Mommymu tidak tahu saja bahwa Daddynya ini ajaib,"
Setelahnya Zac berdiri dan melepas bekapan mulutnya kepada Markisa. "Ayo aku siapa mendengar omelanmu,"
Markisa diam, mengambil napas untuk ancang-ancang. "Mas apa-apaan sih! Aku cuma minta jeruk dikasih semua buah-buahan segala tektek bengek yang bikin aku frustrasi, maksud Mas apa?"
Zac tersenyum kemudian menarik Markisa kedalam pelukannya. "Karena aku mencintaimu, sayang,"
Markisa mengatur napas, dia tidak tahu lagi harus berbicara apa dihadapan Zac, ia sudah kehabisan kata-kata dan suaminya itu masih bertingkah santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku tahu kalau ku bawakan jeruk saja, kau akan meminta yang lain lagi, sekalian saja kubawakan satu toko, kau suka?"
Markisa tidak menjawab dia sibuk menarik ujung bibirnya kebawah membuat ekspresi kelar berbalut cemberut itu benar-benar membuat Zac gemas. "Always Loving U sayang,'
"Siapa yang akan menghabiskannya?" tanya Markisa.
Zac berjalan ke tengah halaman dan berteriak. "Semuanya! Kalian bisa ambil buah-buahan ini, gratis!"
Zac kemudian berjakan kembali ke arah Markisa dan menunjuk beberapa orang yang mengambil buah-buahan.
"Masalah terselesaikan," ujar Zac pada Markisa.
•
TBC
__ADS_1
Horang Kaya Mah Bebash!