
Markisa dan Zac keluar dari rumah sakit tersebut disusul oleh Milo dan Tapasya, kini tujuan mereka adalah rumah Tuan Ryzam dan Nyonya Bay
"Mas, Mas janji kan? Ga bakal marah sama Mama dan Papa?" tanya Markisa sekali lagi kepada Zac.
Zac menatap Markisa sekilas kemudian mengelus rambut istrinya itu dan tersenyum dihadapannya. "Mas Janji,"
Markisa bukannya takut atau bagaimana melibatkan Zac, namun dia paham betul dengan watak dari suaminya yang gampang emosi dan kadang meledak-ledak.
Zac menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah kedua orangnya sehingga ia memakan cukup waktu untuk sampai kesana, Zac sudah menyiapkan susunan kalimat untuk mempertanyakan hal ini kepada kedua orang tuanya dan saat ini dia akan benar-benar mendapatkan kebenaran dari apa yang dia dengar tadi.
Sementara itu di aula pernikahan Dove dan Tango yang melihat kepergian Zac dan Markisa hanya saling bertatapan dengan wajah sinis mereka.
"Menurutmu, kemana mereka? Apa Markisa hamil?" tanya Dove pada Tango.
"Aku tidak tahu, tapi kalau Markisa hamil, aku tidak akan rela, seharusnya aku menikahinya bukan dirimu," jawab Tango menatap sinis Dove.
__ADS_1
Dove melipat kedua tangannya dan menarik kerah kemeja Tango. "Kau tahu, aku pernah membuatnya hancur dan aku masih belum mendapatkan maaf, kalau kau macam-macam kepadanya, aku tidak akan diam, Pak Dokter,"
Tango melepaskan tangan Dove dari kemejanya dan mengekang kedua tangan Dove sehingga Dove sedikit meringis. "Dengarkan aku, kau yang menggodaku sehingga aku mengkhianatinya dan semua ini rencanamu, aku tidak pernah sudi menjadi suami dari perempuan munafik sepertimu,"
Dove tersungging miring dan melepaskan tangan Tango darinya, Dove kemudian mengelus wajah Tango dan mendorong pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu menjauh darinya.
"Semua orang berhak merubah hidupnya, dan im not antagonist, now!" kecam Dove menodong Tango kemudian berjalan meninggalkan Tango disana.
Dove berjalan menuju aula pernikahan dimana banyak tamu undangan disana, sementara itu Tango hanya mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Kau sudah cacat! Apa yang bisa kau lakukan!" teriak Tango dihadapan Dairy.
"Aku memang cacat, namun otakku masih berfungsi sampai detik ini, tertarik bekerja sama denganku? Jika kau tidak bisa mendapatkan Markisa maka orang lain juga tidak akan bisa," jawab Dairy tersenyum sinis.
Walaupun dalam keadaan begini, sorot dendam dari sorot matanya masih berkobar menandakan bahwa dia benar-benar belum puas membuat Markisa menderita.
__ADS_1
"Apa rencanamu?" tanya Tango yang membuat Dairy menarik tangan dokter itu dan membisikkan sesuatu.
"KAU GILA! ZAC BISA MEMBUNUHKU!" tolak Tango dengan mata membulat sempurna.
"Kadang kita harus berpikiran Gila untuk mendapatkan apa yang kita inginkan," jawab Diary.
Sementara itu Dove yang tidak sepenuhnya pergi mendengar obrolan mereka dan membuat wajah sinisnya bangkit. "Kalian ingin memainkan ular tangga sedangkan Markisa adalah pemain yang hebat, fakta lainnya aku adalah Tim Markisa,"
Dove berjalan pergi dari tempat tersebut, benar -benar berhenti mendengarkan percakapan antara adik dan suaminya, Dove yang masih berjuang mendapatkan maaf Markisa, tidak akan membiarkan adiknya itu kembali terluka.
"Aku pernah menghancurkannya dan tidak akan kubiarkan dia hancur kembali disaat dia mulai kembali baik," monolog Dove yang membuat janji pada dirinya sendiri.
Selanjutnya Dove kembali menemui tamu undangan dan menyapa mereka semua, Dove benar-benar sudah merubah diri nya menjadi lebih baik, namun kelicikan akan dia tanamkan dalam melakukan kebenaran.
•
__ADS_1
TBC