
Hening kecuali suara isakan tangis dari mereka semua menemani sesi tangis dan kesedihan ini, Markisa kini terbaring kaku tak bernyawa.
Zac menguatkan batinnya sendiri menerima kenyataan bahwa istrinya sudah tiada, dia kini harus merawat bayinya sendirian nanti, semuanya masih di posisi yang sama, Zac masih di posisinya sekarang.
Dia tersenyum. "Tenang aku tidak menangis sayang, aku sudah berjanji kuat, tapi kumohon bangunlah."
Semua orang yang ada diruangan itu menatap miris dalam pilu kalimat Zac. Seorang suami yang dipatahkan oleh takdir dan dikhianati keadaan serta dipaksa menerima kenyataan.
Aku dan kau tak dapat bersama ... Bagai syair lagu tak berirama ...
Potongan lirik tersebut mungkin bisa mewakili situasi dan kondisi yang dialami Zac sekarang, dia dipaksa menerima kenyataan dan tetap tersenyum meski dirinya sedang terluka.
"Kau tahu sayang? Sebelum bertemu denganmu aku merasa adalah orang yang paling berdosa, aku tidak pernah tahu bahwa ada orang lain dan selalu memikirkan hal egois tentang diriku sendiri, kau kemudian hadir dan mengatakan bahwa aku tidak boleh egois karena yang hidup di bumi bukan hanya diriku, tapi kenapa kau yang egois sekarang, meninggalkanku?" tanya Zac miris.
Zac membungkukkan kepalanya memeluk Markisa, dia sudah tidak berkata-kata lagi, segala kalimat bernarasi pilu serta bernada perih dengan rajutan diorasi patah hati sudah dia ucapkan.
Kini hening kecuali isakan tangis kembali terjadi sebelum Zac merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuh Markisa.
Deg!
Zac bangkit dan membulatkan mata sempurna saat tangan Markisa bergerak-gerak, dan perlahan mebuka matanya.
Semua orang yang ada disana terkejut bukan main, terutama Zac yang langsung menangkup wajah Markisa yang kini membuka matanya.
"Sayang?" tanya Zac ragu.
"Mas Zac?" jawab Markisa dengan suara tertahan.
"Kau membuatku frustrasi!" teriak Zac mendekap kepala Markisa kedalam pelukannya.
__ADS_1
Dokter Softexia dengan dibantu beberapa suster segera membantu Markisa dan mengecek keadaannya sungguh diluar sebuah ekspestasi, ini memang tidak seindah skenario biasa namun skenario Tuhan jauh lebih baik rupanya.
"Mujizat! Markisa sehat kembali," ujar Dokter Softexia yang membuat rasa duka itu berubah bahagia.
Zac memeluk Markisa kedalam pelukannya, ia mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali melepas segala rasa risau dalam hatinya.
"Kau ingin mrmbunuhku yah?" tanya Zac yang membuat Markisa menatapnya dalam. "Kau hampir membuatku gila karena kau ingin meninggalkanku."
"Maaf, bagaimana bisa aku melepas suamiku didunia sendirian," jawab Markisa yang membuat Zac semakin mempererat pelukannya.
Markisa dan Zac saling berpelukan dalam nasib mereka, kini keadaan sudah lebih baik, perasaan duka itu kini telah berakhir suka dan bahagia, Tuhan sedang mempermainkan mereka untuk membuat mereka lebih bahagia lagi.
"Jangan pernah ninggalin Mas!" ancam Zac mencubit pipi Markisa.
"Tidak akan,"
•
"Eh Papa dan Mamanya ada disini rupanya, ayok ke Papa dan Mama aja, Uncle udah capek," ujar Milo menyerahkan Baby Z kepada Markisa.
Zac dan Markisa tersenyum, wajah bayi mereka begitu cantik benar-benar mewarisi gen Ayah dan Ibunya.
"Kalian ingin beri nama siapa?" tanya Dove pada Markisa dan Zac.
Markisa dan Zac saling melempar pandangan dan tersenyum sebelum menjelaskan.
"Moureen Agatha Ryzam, sosok wanita kuat dan tangguh sama seperti ibunya nanti," jawab Zac tersenyum.
"Nama yang bagus," jawab Milo dan Dove.
__ADS_1
Zac kemudian mengambil Baby Z ke gendongannya dan mencium pipinya.
Markisa menatap langit-langit rumah sakit dan menghela napas panjang.
Kini beban hidupnya telah selesai, dia sudah melepas semua kisah pelik yang terjadi dalam hidupnya, siapa sangka sosok Markisa sang Dokter Kandungan yang awalnya dikhianati Kakak dan Kekasihnya sekarang dikelilingi oleh banyak orang berharga, Markisa tidak pernah tahu bagaimana ini bisa terjadi.
Begitu banyak cerita yang terjadi dalam hidupnya dan begitu banyak lembaran cerita yang sudah dia singkap, Markisa hanya bisa berharap satu hal, Tuhan bisa memberikan kebahagiaan untuknya, suaminya, anaknya dan kakak-kakaknya.
"Kisah hidupku awalnya memang buruk tapi aku bersyukur kini berakhir bahagia, aku tahu kebahagiaan itu datangnya dari Tuhan dan di kelola oleh kita, aku tidak ingin berpangk tangan dan inilah caraku bahagia, mungkin hanya sampai disini kisah ku, terima kasih Tuhan." monolog Markisa.
•
Jangan lupakan sosok Aran dan Milo yang belum selesai sampai disini, Aran menghela napas, sudah hampir lima bulan lamanya dia di Denmark dan kini semua tugasnya sudah selesai.
Aran berdiri ditepi koridor kantor tersebut dengan menatap jauh kedepan. "Melbourne aku pulang,"
•
•
•
END (TAMAT)
Alhamdulillah Novel Markisa dan Zac akhirnya Tamat, terima kasih kepada semua pembaca, Author menulis Novel ini juga butuh perjuangan ditengah-tengah ujian sekolah dan akhirnya bisa menyelesaikannya dengan baik.
Sampai jumpa di Novel Author yang lain.
MAMPIR KE GENIUS BRIDE DUDA DEPRESI NOVEL AUTHOR YANG LAIN hehehehe
__ADS_1