
"Hari ini ada jadwal pemeriksaan kondisi kesehatanmu sayang," ujar Zac memberikan susu ibu hamil kepada Markisa.
Kondisi Markisa beberapa akhir ini sedang drop sehingga dia hanya bisa berdiam diri dengan wajah pucat dan lelah, Markisa mengambil susu tersebut kemudian meminumnya pelan.
Zac menatap iba istrinya itu, dia tampak kehilangan semangat hidupnya setelah mengetahui apa yang dia derita, dia masih berusaha meyakinkan Markisa bahwa semuanya baik-baik saja.
"Mas?" panggil Markisa yang membuat Zac duduk disamping istrinya itu.
"Ada apa sayang?" tanya Zac menatap Markisa lembut.
"Kalau sampai diagnosa itu terjadi dan Mas harus memilih, selamatkan bayi kita yah," jawab Markisa pelan namun penuh makna.
Entah ini sudah ucapan keberapa bahkan Zac sudah muak dengan kalimat itu sehingga kini Zac memilih untuk tidak diam saja.
"Kamu ngomong apa sih? Kamu dan anak kita bakal selamat, kalaupun harus memilih Mas bakal milih kamu!" kesal Zac yang membuat Markisa menatapnya dalam.
__ADS_1
"Kalau kita kehilangan anak ini, aku gak bakal bisa berikan keturunan lagi buat Mas, setidaknya akan ada aku dalam diri ini anak, aku mohon," ujar Markisa yang membuat Zac memijat keningnya pelan.
Markisa benar-benar kehilangan pondasi hidupnya, Markisa yang kuat, dan tegar sudah tidak ada, kini hanya ada Markisa yang selalu overthinking dan berprasangka buruk tentang keadaannya.
Zac segera bersimpuh dihadapan istrinya, Markisa nampak menangis setelah tadi matanya memerah menahan tangis, Zac meraih kedua tangan istrinya kemudian mengecupnya pelan.
Ia kemudian menangkup wajah Markisa dan menghapus air mata istrinya dengan kedua jarinya.
Suasana pagi itu berubah bimbang dan haru, Markisa dengan sikap over thinkingnya dan Zac tidak mau munafik dia juga sebenarnya takut kalau diagnosa itu terjadi, siapa yang sanggup dalam posisi harus memilih istri atau anak.
Suami dan ayah mana yang sanggup dihadapkan dengan sebuah kenyataan pahit dan lebur seperti ini? Tuhan mungkin tampaknya hanya menatap iba kepada dua pasangan ini.
Kandungan Markisa memang masih trimester pertama namun bagaimana nantinya penyakitnya akan berpengaruh bagi diri dan bayi dalam kandungan nya, Dokter menyarankan menguburkan anak tersebut namun Markisa tetap kekeuh untuk bertahan.
Banyak aspek yang Markisa pikirkan, jika dia kehilangan anak ini, belum tentu kedepannya dia akan hamil lagi dengan penyakit kanker darah dan gangguan pada rahimnya.
__ADS_1
Itulah alasan sebenar Markisa menjadi seorang dokter kandungan, dia ingin membantu ibu hamil lain walaupun dia tidak bisa membantu dirinya sendiri.
"Aku mohon," ujar Markisa pelan.
Zac membuang muka, Markisa membuatnya dalam posisi yang sulit, sedang Tuhan sudah menyulitkannya lebih dulu, Markisa menatap Zac dengan tatapan bersinar penuh harapan.
"Mas gak bakal bisa milih sayang, Mas hanya berharap kalian berdua sehat dan selamat, jangan menempatkan Mas dalam posisi yang sulit begini," jawab Zac dengan raut dan sorot mata memudar.
"Yakin! Kamu pernah ngehadapain hal yang lebih berat dari ini, kenapa kau harus menyerah sekarang? Semangat sayang!" lanjut Zac yang membuat Markisa mengangkat kepalanya.
Zac berdiri kemudian menarik Markisa kedalam pelukannya, kini kepala Markisa bersandar di dada Zac membiarkan Markisa menumpahkan segala kekesalan dalam dirinya sendiri, dan semua keluh kesahnya.
•
•
__ADS_1
•
TBC