
Setelah kepergian Tapasya dan Vixal dari sana, Aran segera mengambil tasnya kemudian mengeluarkan sebuah Flashdisk dari sana, itu adalah salinan asli dari materi yang sedang dikerjakan Aran.
"Om, ini materinya, Aran mau pulang dulu," ujar Aran menjejalkan flashdisk tersebut kepada Milo.
Aran melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Milo sebelum Milo menarik tangan Aran dan menahannya.
"Om antar pulang," ujar Milo yangh membuat Aran menggeleng.
"Gausah Om, lagian aku juga bisa pulang sendiri, Terima Kasih," jawab Aran melepaskan tangan Milo.
"Tapi-"
Ucapan Milo tertahan saat Aran menatapnya dalam yang membuat Milo terdiam.
"Gausah Om," jawab Aran yang membuat Milo kembali menarik tangan Aran dan kali menggenggam kedua bahu Aran.
"Kalau Om bilang Om suka sama Aran, menurut Aran gimana?" tanya Milo yang membuat Aran menatap Milo tajam.
"Maksud Om?" tanya Aran balik.
Milo menghela napas kemudian melepaskan bahu Aran, suasana hening diruangan itu menjadi saksi diantara mereka berdua, tidak ada siapapun lagi di gedung ini kecuali mereka berdua.
"Tidak ada apa-apa," jawab Milo menghela napas seolah tidak bisa mengungkapkan kalimatnya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pulang," lanjut Milo kembali kemudian berjalan meninggalkan Aran.
"Aku tahu maksud Om apa, aku cuma mau bilang apapun perasaan Om aku gak bakal nerima itu, aku gak mau memiliki hubungan apa-apa sama Om, kita sebatas boss dan karyawan. Terlepas dari kejadian tadi," ujar Aran yang membuat langkah Milo terhenti.
"Kenapa kamu manggil saya 'sayang' kalau gitu?" tanya Milo masih membelakangi Aran.
"Itu bukan berarti aku suka sama Om, aku dan Om gabisa bersama, kita itu ibarat langit dan bumi, Om gak cinta sama aku, Om cuma mendapatkan sebuah harapan ketika Om terpuruk akan cinta pertama Om," jawab Aran yang membuat Milo membalikkan badannya menatap Aran.
"Maksud kamu?" tanya Milo yang membuat Aran berjalan ke arah Milo.
"Sebelum Om berjuang buat ngedapatin cintaku, aku cuma mau bilang kalau aku gak bakal balik perjuangin Om, jadi Om harus lupain perasaan Om, kita baru aja ketemu loh," jawab Aran yang membuat Milo tersenyum.
"Okey kalau begitu, mungkin Om cuma nyaman aja sama kamu setelah Om putus cinta," Milo tersenyum kecut dan menekan nada bicaranya.
Deg!
Hati Milo hancur seketika, disaat dia berharap mendapatkan titik terang, Aran malah menolaknya sebelum berjuang, ibarat bunga dia sudah gugur sebelum berkembang.
Aran berjalan keluar dari ruangan Milo, meninggalkan Milo yang tersenyum melepaskan Aran menghilang dari pandangannya, mungkin Aran benar, dia harus berjuang jika benar di perjuangkan, jika sudah ditolak sebelum berjuang, itu sama saja bunuh diri.
Apakah ini kutukan cinta bagi Milo tidak bisa mendapatkan cinta sejatinya? Lantas siapa jodoh yang disiapkan Tuhan untuknya.
Milo menghela napas panjang. Mungkin dia hanya baper dengan kalimat Aran yang membuatnya nyaman padahal tidak maksud apa-apa dari Aran.
__ADS_1
Milo berjalan keluar dia dilanda rasa depresi, dilema dan setres sekarang, rasanya dia sedang dipermainkan oleh Tuhan, dan entah sampai kapan Tuhan membuatnya begini.
Milo kemudian memilih berjalan ke ruangan nya sendiri dengan langkah frustrasi, dia benar-benar seperti terkena kutukan cinta dari Tuhan, ruangan kantor sudah sepi, hanya ada Milo disana.
Krtt!
Milo membuka pintu ruangannya dan masuk kedalam dia melangkahkan kakinya dengan langkah berat frustrasi.
Brak!
Milo menggebrak meja saking frustrasinya, seberapa bising pun suasana yang dia ciptakan itu hanya akan sebatas bergema didalam ruangan ini, tidak akan mempengaruhi apapun karena kini dia tengah sendiri dikantor sepi bertemankan hembusan angin malam serta langit malam yang berawan.
Bintang bahkan bulan tidak nampak seolah suasana malam itu sangat mewakili hati Milo yang hancur, sekeping rasa yang hilang dan hanya Tuhan yang tahu.
•
•
•
TBC
Poor Milo.
__ADS_1