Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 68 | Apakah Aku Terlambat?


__ADS_3

Dove membuka matanya perlahan saat cahaya matahari memendar masuk melewati sela-sela jendela kamarnya, matanya menerawang sekitar mana kala dia sadar ada lengan kokoh yang melingkar dipinggang-nya.


Dove memutar pandangannya ke si pemilik tangan kokoh tersebut dan menatapnya dalam, bagaimana bisa yang tidur diaampingnya adalah Tango, sepanjang pernikahan mereka Tango tidak pernah sekalipun tidur satu kamar dengannya, dan seingat Dove, semalam dia tertidur diruang tamu bukan dikamar.


Dove hendak melepaskan tangan kokoh nan perkasa milik suaminya itu, namun bukannya lepas Tango malah mempererat pelukannya yang membuat getaran berbeda dirasakan Dove.


Apakah ini arti suamiku sudah membuka hati? Dan aku tidak perlu mengugatnya untuk sebatas kalimat perceraian? Batin Dove ragu.


Dove menatap jam alarm di nakas samping ranjangnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, entah berapa lama mereka tertidur dalam posisi ini, Dove benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu.


"Hummm," Tango menggeliat pelan yang membuat dia tanpa sengaja menarik Tango kepelukannya lebih dalam lagi sehingga membuat bibir Dove tidak sengaja menempel ke bibir Tango.


Tango yang tersadar akan keanehan itu segera membuka matanya dan melepaskan pelukannya pada Tango.


"M-Maafkan aku," ujar Tango berusaha memberikan klarifikasi lanjutan atas apa yang dia lakukan tadi


Dove terdiam sebelum mengeluarkan kalimat bernada pertanyaan yang harusnya dijawab cepat oleh Tango. "Sedang apa kau di kamar ku?"


"Kau ketiduran diruang tamu, dan harusnya kau berterima kasih kepadaku, jangan berpikiran macam-macam," jawab Tango yang membuat Dove menyembunyikan wajahnya yang tersenyum.


"Kau hanya mengantar ku sampai ketiduran dan memelukku, aku merasa sangat tersanjung," Dobe berjalan ke arah ranjang dan merapihkan tempat tidur tersebut.


Tango yang sudah berdiri hanya menepuk kepala beberapa kali karena saking kesalnya, bagaimana tidak, dia kelupaan untuk keluar dari kamar itu semalam dan kebablasan.

__ADS_1


"Apakah istrimu sudah menarik?"


Aku membaca komentar salah satu pembaca semalam, bahwa kalau istri orang lain jauh lebih menarik dari istriku sendiri, itu berarti istriku lebih menarik dimata pria lain, sampai sini aku sudah paham, batin Tango melipat kedua tangannya.


"Jangan bermimpi," ujar Tango berjalan keluar dari kamar tersebut.


Dove hanya menatap maklum sebelum suara telepon miliknya berdering, ia berjalan keluar ke ruang tamu mengambil ponselnya yang dia tinggalkan diruang tamu semalam.


"APA ALAT BANTU KAK MILO AKAN DILEPAS SEKARANG?" pekik Dove mendengar penjelasan dari Markisa yang meneleponnya.


Seketika Dove lunglai mendengar hal itu, walaupun dia tidak akrab dengan Milo namun Milo tetep lah kakaknya, Tango yang mendengar pekikan Dove segera berjalan mendekatinya dan bertanya ada apa yang terjadi.


Dove kemudian menjelaskan semuanya dengan keadaan menangis pelan, sampai Tango tanpa sadar menarik Dove ke pelukannya guna menenangkannya.



Duk! Duk!


Markisa menggebrak pintu ruangan rawat Milo yang di kunci dari dalam, didalam sana ada beberapa tenang medis dan Tuan Mourt sedangkan Nyonya Cimory menunggu diluar karena tidak tega melihat Milo yang akan menemui ajal-nya


Pintu ruangan tersebut sengaja dikunci karena Tuan Mourt tahu, Markisa dan Dove akan menghalanginya melakukan hal ini.


"Ayah Egois! Markisa benci sama Ayah!"

__ADS_1


Markisa duduk dilantai wajahnya sudah penuh dengan air mata perpisahan karena kenyataanya kamu apa yang dia takutkan akan terjadi dan air mata kekesalan saat dia sadar bahwa dirinya telah gagal menepati janjinya mempertahankan Milo.


Zac yang melihat Markisa berusaha menenangkan istrinya itu karena Markisa tengah hamil muda, Markisa tidak menggubris Zac, dia hanya dia menangis tanpa suara dengan segala isakan menyiksa batin yang mendengarkan.


Seorang adik yang kehilangan kakaknya dimana kakaknya lah orang pertama dan paling berjasa dalam hidup nya, dia tidak akan bisa lagi melihat guratan senyum diwajah Milo untuknya.


Nyonya Cimory sendiri hanya diam menatap dengan sakit hati yang lebih dalam lagi, Milo ada ka anak laki-laki yang paling dinantikan keluarga Mourt dulu.


"Markisa!" Dove datang dengan deraian air mata juga, dia terduduk dilantai memeluk Markisa yang sangat terpukul. "Kakak paham perasaan kamu dek, maafkan kakak gak bisa bantu kamu pertahanin kak Milo, tapi kamu harus ingat kamu lagi hamil, ada Zac juga, kasian calon anak dan suami kamu,"


Tango sendiri yang datang bersama Dove hanya terdiam, tidak dia sangka istrinya memiliki sisi kedewasaan yang seperti ini.


Markisa tidak menjawab, dia hanya menangis dengan bersandar pada pelukan Dove, hatinya remuk, semua personal hidupnya harus berantakan karena kehilangan master nya.


Disaat mereka semua larut dalam kesedihan, Tapasya datang secara tiba-tiba dengan wajah pastinya.


"Apakah aku terlambat?"



TBC


Halo kak Author ada Novel baru

__ADS_1



__ADS_2