
Markisa, Dove, Zac, Tango serta Nyonya Cimory langsung mengangkat kepala mereka menatap kepada Tapasya yang sedang berdiri tidak jauh dari posisi mereka, Tapasya mengenakan baju serba hitam dengan masker hitam yang ia turunkan sebatas dagu.
Tapasya berjalan ke arah mereka, seiring nada langkah kaki-nya yang terdengar mengguncang, siapa sangka Tapasya memilih datang setelah penolakan batin dan ego yang saling berdebar harus memilih yang mana.
"M-Maaf, aku sadar, harusnya aku tidak boleh egois disini, aku sadar aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku mencintai Milo dan tidak sanggup kehilangannya," ujar Tapasya membantu Markisa berdiri.
Tapasya tersenyum pelan kemudian berjalan ke arah pintu ruangan rawat Milo, yang dikunci dari dalam, ia menatap beberapa petugas medis yang sedang menyiapkan proses pencabutan alat bantu bertahan untuk Milo.
Seketika mimik wajah Tapasya berubah risau tidak karuan, dia menatap dengan rumit karena memang dia tidak bisa masuk kesana, Tuan Mourt sendiri yang ada didalam hanya menulikan dirinya sendiri seolah tidak mendengar semua panggilan kekesalan yang berasal dari luar ruangan itu memanggil untuk memberikan satu kesempatan seorang insan Tuhan memberikan kekuatan bagi pasangannya.
"Tuan Mourt! Saya mohon buka pintunya!" teriak Tapasya menggedor pintu tersebut.
Namun sekali lagi, ibarat menulikan diri sendiri, Tuan Mourt bahkan sudah tidak memperdulikan kehadiran Tapasya yang mulai menangis, Tuhan sudah menyerah!
"Tidak! Tuhan bahkan belum membuatku menyerah, kenapa Tuhan bisa menyerah lebih dulu?" batin Tapasya menangis dipintu tersebut.
Ia dapat melihat dengan jelas dari jendela kaca yang ada di pintu itu, bahwa kekasihnya benar-benar akan meninggalkannya, ibarat melati yang ia semai gugur sebelum menjadi tunas, dia sudah sampai pada titik terendah dalam hidupnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Milo, Maafkan aku, mungkin Tuhan sudah menatap iba padaku sedang dia belum juga memberikan titik menyerah disaat aku benar-benar berada di titik terendah, Maafkan aku," lirih Tapasya. "MILO!"
Deg!
Sesaat setelah teriakan Tapasya yang terakhir, petugas medis dan Tuan Mourt dikagetkan degam terbukanya mata Milo yang membuat mereka semua terkejut bukan main, bagaimana bisa sebuah teriakan penyesalan bisa membangkitkan seseorang dari segala mimpi tidurnya.
Tapasya, Dove dan Markisa yang melihat dari balik jendela kaca, terkejut pula, namun disela keterkejutan itu, seutas senyum teruntai di wajah ketiganya, Tuhan benar-benar belum membuat mereka menyerah sehingga Tuhan menurunkan mujizat-nya.
Milo yang sudah membuka matanya merasakan linglung dan bangkit berdiri, rasa sakit di kepala nya masih terasa membekas penuh saat terakhir dia mengingat dimana dia berada.
Seorang suster berjalan membuka pintu ruangan tersebut yang membuat Tapasya segera berlari memeluk Milo yang masih kebingungan, Tapasya memeluk Milo pelan dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Milo mengeluarkan unek-unek dan semua kekesalan yang ada dari dalam dirinya.
"Sekuat itukah kekuatan cinta? Aku belajar satu hal. Ternyata Markisa memang bukan jodohku, dan aku harus belajar membuka hati untuk istriku," batin Tango yang terharu menatap ikatan cinta antara dua orang ini.
Dove yang menangis terharu langsung ditarik oleh Tango ke pelukan nya, ia mengelus kepala Dove seiring rasa haru diantara mereka semua tercipta.
"A-Aku kenapa?" tanya Milo.
__ADS_1
Markisa dan yang lainnya tersenyum pelan dibalik isakan tangis haru itu, kalimat pertama dari Milo setelah tiga bulan suara bariton bernada beratnya tidak terdengar lagi.
Tapasya mengangkat kepalanya dan menangkup kedua pipi Milo dengan tangannya, ia menatap wajah kekasih nya itu dan menggeleng sekilas.
"Kau bodoh! Kau hampir saja meninggalkanku dan membuat aku menyerah untuk yang ke sekian kalinya, kau tidak adil, kenapa tidak janjian dulu," jelas Tapasya mendekatkan dahi-nya sehingga dahi mereka bertemu yang membuat jarak wajah diantara mereka semakin dekat. "Untung Tuhan belum membuatku menyerah,"
"Maafkan aku," jawab Milo menarik Tapasya ke pelukannya melepas rindu disana. "Tapi aku butuh penjelasan,"
"Satu-satunya penjelasan yang harus kau dengar hari ini adalah, Kau tidak boleh meninggalkanku, dan kalau sampai itu terjadi, aku benar-benar akan menyesali sisa-sisa kehidupanku," jelas Tapasya. "Kau ingat?"
Tapasya memperlihatkan jari manisnya dengan cincin yang hendak diberikan Milo beberapa tahun yang lalu, Milo bingung karena seingatnya dia sudah memberikan cincin itu kepada Tapasya dan kenapa Tapasya seolah baru mendapatkannya, Milo hanya belum tahu saja bahwa Tapasya yang selama ini bersamanya adalah Tapasya yang palsu.
"Sekali lagi, jangan coba-coba meninggalkanku, kalau itu terjadi, aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana," ujar Tapasya kembali memeluk Milo.
"Aku berjanji," jawab Milo mengelus wajah Tapasya.
•
__ADS_1
TBC