Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 22 | Kau Ingin Menghukumku, Hah?


__ADS_3

Happy Reading!



Setelah berhasil mengunci Zac dan Markisa didalam ruangan tersebut, Dairy berjalan keluar dari tempat itu untuk menemui Milo, Vanish dan Soklin.


"Hai Sialan! Sudahi akting kalian! Aku sudah tahu semua kerjasama kalian, kalian pikir kalian nisa menipuku?" teriak Dairy yang membuat Milo, Soklin dan Vanish menatapnya.


"Rupanya tikus kecil ini, pintar juga, sekarang kau akan mendekam didalam penjara bedebah," jawab Milo berjalan mendekati Dairy bersama Soklin dan Vanish.


Dairy yang melihat itu segera berlari pergi dari sana yang membuat Milo, Vanish dan Soklin mengejarnya, Milo tidak mau Dairy lolos lagi dan melakukan kejahatan terhadap Markisa lebih parah lagi, sehingga Milo, Soklin dan Vanish memilih mengejarnya.


Sementara itu didalam ruangan tadi, Zac berusaha membuka pintu nya namun hasilnya nihil, karena pintu menggunakan sistem yang hanya bisa dibuka dengan pin, Markisa yang tadi mendapat pin dari Vanish juga tidak dapat membukanya, karena pin tersebut sudah diganti oleh Dairy.


Sedangkan suhu ruangan tersebut mulai turun dan mendingin, Zac dan Markisa mulai merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuh mereka, Zac yang melihat Markisa kedinginan segera melepas jas yang dia pakai dan menyelimuti Markisa.


"Tapi Tuan, kau akan kedinginan," ujar Markisa pada Zac.


"Kau ingin menghukumku, Hah?" jawab Zac meraih tubuh Markisa dan meringkuhnya hangat. "Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jika terjadi apa-apa denganmu,"


Suara Zac mulai terdengar hilang timbul karena pengaruh suhu ruangan itu, tungkainya melemas yang membuat Zac jatuh terduduk sembari tetap memeluk Markisa.

__ADS_1


"Tuan? Kau tidak apa-apa?" tanya Markisa pada Zac yang wajahnya sudah pucat pasi. "Sudah kubilang, kau akan kedinginan,"


Markisa hendak melepas jas yang diberikan Zac tadi namun segera ditahan oleh Zac yang membuat Markisa menatap Zac pelan. "Jangan lakukan itu, aku hanya butuh pelukanmu,"


"Disaat seperti ini, kau memikirkan hal itu? Kalau Tuan kenapa-napa aku lebih tidak memaafkan diriku, jangan egois!" teriak Markisa pada Zac yang sorot wajahnya.


Zac tersenyum dengan wajah pucatnya. "Itu adalah kalimat romantis darimu setelah kau berulang kali menolak usahaku mencintaimu,"


Markisa meraih kedua pipi Zac dan menangkupnya lembut, ia menatap wajah pria yang berstatus suaminya itu dan mencoba memberinya kehangatan. "Kau bodoh, kau payah, kau menghancurkan dan kau melakukan ini untukku!"


"Karena aku," Zac memberi jeda. "Karena aku sadar aku mulai mencintaimu,"


Zac kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Markisa dan memeluk nya erat, Markisa membulatkan mata sempurna atas ucapan Zac.


"Tuan? Aku juga mencintaimu," jawab Markisa yang membuat mata Zac yang tertutup kembali terbuka.


"Apakah itu kalimat perpisahan sebelum aku menemui Tuhan?" tanya Zac yang membuat Markisa kesal.


"Bicara apa kau! Kita akan selamat, aku pastikan itu, ayo kau kan Tuan Diktator apa yang kau inginkan harus kau dapatkan, jadi cobalah menginginkan untuk bertahan, setidaknya demi-"


"Demi apa?" tanya Zac pada kalimat terpotong Markisa.

__ADS_1


Markisa terdiam, dia bingung apakah dia harus mengucapkan kalimat terakhirnya, tapi jika ini bisa membuat Zac bertahan dia akan mengucapkannya.


"Demi aku, Tuan," lanjut Markisa membuat Zac tersenyum disela wajah pucatnya.


"Dasar kau wanita sialan, kau menghiburku yah!" ujar Zac mempererat pelukan nya pada Markisa dan mengambil posisi nyaman di pundak Markisa.


Zac memangku wajahnya diatas pundak Markisa, Markisa yang kembali menahan air mata nya terus berdoa semoga akan ada titik terang dalam kondisi ini.


Perlahan sudah terdengar lagi suara dari Zac yang membuat Markisa khawatir, Markisa kemudian mengambil kepala Zac, menangkupnya dan mendapati Zac sudah tidak sadarkan diri.


Mendapati itu, Markisa langsung panik dan dan memeluk Zac dalam dadanya, air matanya luruh, pernikahannya baru empat hari, dan Zac baru mengatakan cinta kemarin, sedangkan Markisa masih berusaha menolaknya, namun kenapa hati Markisa sakit melihat Zac seperti ini.


"Aku mohon! Jangan pergi! Kau belum mengatakan sesuatu! Aku belum meninggalkanmu! Kau curang! Harusnya aku yang meninggalkanmu! Bukan kau yang meninggalkanku, bangun Tuan!" teriak Markisa menempelkan pipinya ke wajah Zac.


Seketika semua janji Markisa pada Milo untuk balas dendam kepada Zac karena Zac menghancurkan hidupnya pudar, Markisa yang awalnya ingin membuat Zac jatuh cinta kemudian meninggalkannya merasa akan merevisi semua keinginannya.


Jika Tuhan memberikan Zac kesadaran kembali, dia akan berjanji akan belajar mencintai Zac sama seperti Zac belajar mencintainya.


"Kau curang, Tuan!" lirih Markisa memeluk erat Zac.


__ADS_1


TBC


maaf yah belum sempet Crazy Up insya allah besok


__ADS_2