
Semua mata tertuju pada asal suara tersebut, janji suci yang akan terucap seketika batal keluar dari dalam diri, Milo menatap Tapasya sedang Tapasya kebingungan sendiri melihat bahwa yang datang adalah kedua orang tuanya.
"Pernikahan ini harus dibatalkan!" teriak Tuan Downy ayah dari Tapasya.
Wajahnya mengeras menatap nanar putrinya yang berada dialtar pernikahan, Tuan Mourt dan Nyonya Cimory sendiri hanya bisa terdiam melihat hal-hal buruk yang kembali terjadi, kenapa tidak pernah satupun pernikahan berjalan baik dalam keluarga Mourt.
Desas-desus suara tamu undangan yang berbisik membuat wajah Tuan Mourt memerah pasalnya mereka semua sudah mempersiapkan pernikahan ini dengan mata.
Sekilas cerita, Tapasya memang tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk menikah dengan Milo, Milo dan Keluarga Mourt tidak tahu bahwa tidak ada restu dari Keluarga Tapasya, pasalnya saat Keluarga Mourt ingin bertemu Keluarga Downy, Tapasya berdalih bahwa kedua orang tuanya sedang diluar negri, sehingga mereka mengizinkan pernikahan ini terjadi tanpa mereka.
"Tapasya? Ada yang harus kau jelaskan?" tanya Milo mengenggam erat bahu Tapasya.
"Kalian semua benar-benar tidak punya malu, aku tidak akan pernah mengizinkan putriku menjadi menantu di keluarga ini, terlebih keluarga Mourt!" teriak Tuan Downy yang seolah menodong dendam kesumat kepada Tuan Mourt.
"Jawab Tapasya! Jawab!" ujar Milo yang membuat Tapasya menunduk.
"M-maafkan aku," jawab Tapasya yang membuat Milo tidak habis pikir dengan semua kisah cintanya.
Tuhan seakan tidak pernah adil padanya, pernikahan yang sempat tertunda kini kembali berakhir kecewa, Milo mundur beberapa langkah, rasa traumatik membuat area belakang kepalanya sedikit ngilu dan berdengung menerima fakta yang membuat nama baiknya tercoreng jelas dihadapan para tamu undangan.
"Aku kecewa padamu," ujar Milo meraih tangan Tapasya dan melepas cincin pertunangan mereka. "Kita, selesai,"
Milo berjalan turun melewati anak tangga Altar pernikahan nya, Air mata Tapasya jatuh, gaun pengantin miliknya menjadi saksi betapa bisu dan sakitnya hari membahagiakan ini.
Banyak pasang mata diruangan itu menatap iba namun tidak sedikit pula yang menatap sinis, Markisa, Dove, Dairy, Zac, Toppoki dan Tango hanya terdiam atas kejadian itu, Milo orang baik namun kenapa Tuhan mengujinya begitu berat, sesulit itukah mendapatkan cintanya sampai Tuhan kini membuatnya menyerah?
__ADS_1
"Ayo kita pergi!" teriak Tuan Downy menarik tangan Tapasya kasar.
Nyonya Molto ikut membantu suaminya Tuan Downy untuk membawa Tapasya pergi dari sana, Tapasya memberontak saat tangannya diseret, sedang Milo sudah lelah berjuang, dia lebih memilih menulikan diri saat Tapasya meneriakinya kencang.
"Sampai kapanpun, Keluarga Mourt dan Downy tidak akan bersatu, ingat itu," kecam Tuan Downy sebelum ia keluar dari aula pernikahan itu.
Sedang Tapasya dan Milo tampaknya ikatan cinta mereka kembali diuji, seberapa kuatkah mereka menerima kenyataan ini, kini Altar pernikahan tersebut kosong, membuat tamu undangan bertanya-tanya apa fungsi mereka disini.
Tuan Mourt yang tersudut dan tidak tahu harus bagaimana lagi mengode semua anaknya untuk berbincang diruang tamu sejenak.
Markisa, Dove, Dairy dan Milo saling melempar tatapan. Sedang Zac, Tango dan Toppoki memilih menghandle para tamu untuk memberi kesan tenang.
Dengan cara memapah, Dove dan Markisa membawa Dairy juga beserta Milo yang sudah lebih dulu ikut bersama Tuan Mourt dan Nyonya Cimory untuk berbincang diruang tamu.
•
•
•
Tuan Mourt berjalan mondar-mandir didepan ketiga putri dan putranya, berpikir sejenak bagaimana meng alternatif kan kejadian ini, harga dirinya sudah hancur lebur karena kejadian memalukan ini, keluarga mereka seolah tidak punya atitude dalam melangsungkan pernikahan, Milo, Dove, Dairy dan Markisa menunduk.
Mereka tidak tahu harus bagaimana juga, semuanya sudah terlanjur menjadi bubur, sedang Nyonya Cimory hanya menatap sayu keadaan yang menimpa keluarganya.
"Bisakah saya membantu?" tanya seseorang yang ternyata adalah Toppoki.
__ADS_1
Semua mata menuju pada Toppoki, Toppoki berjalan masuk ke dalam ruangan ruang tamu tersebut dengan langkah tegas dan senyum menawannya, dia berjalan ke arah Dairy, mengulurkan tangannya dan mengapit Dairy kedalam gendongannya.
"Izinkan saya dan Dairy yang menggantikan posisi Milo dan Tapasya dalam acara pernikahan ini," jelas Toppoki yang membuat semuanya tersentak.
"M-Maksudmu?" tanya Tuan Mourt pada Toppoki.
"Seperti menjadi pasangan pengantin pengganti, izinkan saya dan Dairy yang akan menikah hari ini," jawab Toppoki.
Dairy tersentak, secepat itukah bahkan dia masih belum memberikan keputusan, Tuan Mourt menatap Dairy, nampak dari tatapan mata Ayahnya, itu adalah keputusan yang lumayan baik demi mengurangi rasa malu yang didapati keluarganya.
Dairy bimbang dan ragu, namun dia sudah berjanji menjadi orang baik, mungkin dengan menerima ini, bisa menjadi pengalihan isu dari masalah yang terjadi.
"Iya, aku mau."
Keluarga Mourt akhirnya memilih opsi tersebut karena di nilai tidak ada keputusan lain untuk menyelamatkan nama.mereka kecuali mencari pasangan pengganti bagi pernikahan yang harusnya di isi oleh Milo, memang cenderung tidak sopan namun inilah sebuah keharusan.
Milo berjalan keluar menuju dapur karena saking setresnya dengan kenyataan ini, sedangkan Dairy dibantu Dove dan Markisa segera mempersiapkan diri memakai baju pengantin yang di siap kan secara mendadak sedangkan Toppoki hanya perlu memakai jas.
Setelah semuanya siap, Markisa dan Dairy segera membawa Dairy keluar menemui Toppoki yang sudah siap juga, selanjutnya adalah Toppoki mengangkat tubuh Dove yang lumpuh menuju aula pernikahan, kini mereka semua menjadi bahan pandangan yang entah apa tanggapan tamu undangan.
•
•
•
__ADS_1
TBC