Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 36 | Fakta Baru


__ADS_3

Sesampainya dirumah mereka, Zac dan Markisa segera keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam rumah, Zac berjalan beriringan dengan Markisa dan sesampainya di ruang tamu, ia langsung menerkam istrinya itu.


"Tuan?" lirih Markisa mencoba menghindar dari ciuman Zac kepadanya.


"Mas! Panggil aku Mas!" bisik Zac mengigit kecil telinga Markisa.


"Bukankah panggilan Mas itu sangat jarang di denmark? Aku sudah terbiasa memanggilmu Tuan." jawab Markisa mengalungkan tangannya dileher Zac.


"Yasudah terserah padamu, babe!" Zac kemudian mengangkat tubuh Markisa dan memangkunya dalam keadaan saling berhadapan.


Markisa mengambil alih posisi, dia membuka kancing kemeja Zac dengan bibir yang masih berciuman dengan Zac, Zac membiarkan Markisa melakukan hal itu dan menikmati segala sentuhan yang diberikan istrinya.


"Enghhh!" lenguh Zac menahan napas atas rangsangan yang diberikan Markisa.


"Apakah ini tanda lahir?" tanya Markisa pada Zac


Zac mengangguk kemudian menciumi Markisa yang masih fokus melihat tanda lahir dileher Zac.


Zac kemudian mengangkat tubuh Markisa tanpa mengubah posisi mereka, Zac membawa Markisa masuk kedalam kamar dan menidurkannya di ranjang, Zac membuka kemeja dan celananya, sehingga menyisakan pakaian dalam yang terpasang menutupi area selangkangaan nya.


Zac kemudian merangkak diatas ranjang, menarik tubuh Markisa dan kembali menciumi istrinya itu sembari melepaskan pakaian yang di pakai istrinya.


Setelah selesai, Markisa bangkit dan meraih pakaian dalam yang menutupi selangkangaan Zac kemudian menurunkan pakaian dalam tersebut sehingga memperlihatkan rudal Zac yang sudah menegang, Markisa meraih tidak suaminya dan mengocoknya pelan, sembari menjilat kecil kepala rudal tersebut, Zac tersenyum puas dan kembali menindih Markisa.


Zac mengangkat Markisa dan mendudukkannya di meja rias yang biasa dipakai Markisa, Zac kemudian mengarahkan rudalnya ke lubang milik Markisa dan bersiap menjeblosnya.


Plop!


"Ah!" desaah Markisa tertahan saat rudal milik suaminya menjeblos masuk kedalam lubang miliknya.


Zac tidak langsung menggoyangkan pinggulnya melainkan menciumi dulu kedua gunung kembar istrinya yang terlihat menantang dihadapan Zac.


Markisa mengacak rambut Zac, menahan kenikmatan yang sedang diberikan kepadanya, setelah puas Zac menggoyangkan pinggulnya perlahan, dengan ritme pelan, membuat Markisa hanya bisa terdiam mengigit bibir nya menahan rangsangan dari Zac untuknya.


"Ah! Kau menikmatinya sayang?" tanya Zac menggoyangkan pinggulnya.


Markisa hanya bisa memejamkan matanya menahan kenikmatan akibat sodokan dari Zac kepadanya yang bertempo lembat menuju cepat.

__ADS_1


"Buka matamu? Tatap aku!" pinta Zac menambah ritmenya.


Zac kemudian kembali mengangkat tubuh Markisa dengan rudal yang masih tertanam dia menidurkan Markisa diranjang lalu melanjutkan genjotaan-nya dengan tempo yang lebih cepat.


"Ah! Tuan!" bisik Markisa menggaruk punggung Zac berusaha mencari pegangan karena rasa nikmat yang tak tertahankan.


"Crtt! Ah!" Zac menembakkan cairannya kedalam rahim Markisa, lalu menciumi kembali istrinya itu.


Zac kemudian tumbang didalam pelukan Markisa dengan keadaan rudal yang masih tertancap, Markisa yang masih terngeh-engah menahan tubuh Zac dan memindahkannya kesamping.


"Aku mencintaimu, Tuan!" bisik Markisa pada Zac.


"Aku juga mencintaimu, lima belas menit lagi kita akan lanjut ronde kedua sayang," jawab Zac mengecup mesra pipi Markisa dan kembali mengatur napasnya.



Kring! Kring! Kring!


Suara ponsel dari Markisa yang berdering, membuat Markisa terbangun dari tidurnya setelah pergumulan semalam, Markisa melirik jam weker yang masih menunjukkan pukul enam pagi.


Markisa meraih ponselnya yang ada dinakas dan melihat nama pemanggil yang ternyata adalah Milo Mourt.


Markisa mengangkat telepon tersebut dan mulai berbicara pada Milo yang berada di seberang sana.


[Markisa? Hari ini adalah Pernikahan Dove dan Tango, aku tidak memikirkan mereka berdua, tapi bagaimana rencanamu mengungkap kejahatan Nyonya Bay, karena Tapasya tidak selamanya bersembunyi dalam identitas palsu, dia harus kembali kepada kehidupannya]


Markisa berpikir sejenak, ini adalah hari pernikahan Dove dan Tango, mungkin dia bisa menggunakan kesempatan itu untuk melakukan sebuah kegilaan baru.


[Keluarga Ryzam akan ada disana?]


[Keluarga Donez-pun yang merupakan keluarga Tapasya akan hadir sebagai tamu VIP]


Markisa tersenyum mendengar ucapan Milo, walaupun Milo tidak bisa melihat senyuman dari Markisa.


[Kita akan merealisasikan rencana kita hari ini, tanpa mengacaukan pernikahan Dove tentunya, tahukan apa maksudku? Tanpa mengotori tangan kita]


Milo yang mendengar ucapan Markisa tersenyum licik diseberang sana, Nada bicara adiknya tidak pernah berubah dan masih sama.

__ADS_1


[Kau masih licik rupanya, tapi aku menemukan sebuah Fakta Baru, Kau tahu Keluarga Hervas? Mereka kehilangan anak berusia empat tahun, dua puluh lima tahun yang lalu, dan tanggal lahir anak tersebut mirip dengan Zac, apakah kau memikirkan apa yang aku pikirkan?]


Markisa menautkan kedua alisnya, dan berpikir panjang. [Apa ciri-ciri dari anak itu?]


[Dia memiliki tanda lahir di lehernya]


Deg!


Markisa mengingat kejadian semalam, namun dia tidak ingin berspekulasi terlalu jauh tentang itu sehingga dia berusaha menepis semua hal tentang itu.


[Kakak punya File dari Tuan Ryzam dan Nyonya Bay]


[Ada]


Markisa berdiri dan berjalan ke nakas lain mengambil laptopnya. [Kirimkan padaku]


Milo kemudian mengirimkan file keluarga Ryzam kepada Markisa yang sudah ada di laptop Markisa, Markisa mengapit ponselnya diantara telinga dan bahu dengan kepala dimiringkan, sementara tangannya mengutak-atik file itu.


[Ada apa?]


Markisa yang sedang fokus membaca tidak mendengarkan pertanyaan Milo dan terkejut dengan apa yang dia temukan.


[Tuan Ryzam memiliki penyakit mandul sedangkan Nyonya Bay adalah mantan pasien rumah sakit jiwa yang memiliki kelainan mental, mereka berdua adalah keluarga-]


[Diktator! Ryzam adalah King-Queen Diktator yang pernah viral beberapa tahun lalu, aku membaca artikel itu, mereka berdua sudah ada jauh sebelum kita lahir, namun entah mengapa mereka berdua pergi tanpa jejak]


Potong Milo yang membuat Markisa tersentak.


Deg!


Mendengar itu Markisa menautkan alisnya dan kembali berpikir keras, sementara tangannya masih sibuk mengutak-atik laptopnya.


[Jadi?]


[Ardan Alzacrich Hervas, Putra dari Richman Ardan Hervas Fernando, yang menghilang itu adalah suamimu] Lanjut Milo pada sambungan telepon.


Deg!

__ADS_1



TBC


__ADS_2