
Zac berjalan keluar dari ruangan tempat Markisa di periksa, mendengar kabar seperti membuat hatinya hancur lebur seketika.
Zac berjalan dengan langkah gontai dan mata memerah menuju toilet rumah sakit, bahkan langkah kakinya sudah sangat berat seiring hancurnya keping hati yang lapuk
Hening suasana rumah sakit menjadi backsound dari segala hancur nya hati yang terluka, bahkan Tuhan mungkin hanya menatap iba kepada Zac saat ini.
Sesampainya didepan toilet, Zac segera masuk kedalam sana, matanya menrawang masuk yang membuat dia memilih toilet yang terletak paling ujung, lokasi yabg strategis untuk menumpahkan segala kekesalannya.
Brak!
Zac membanting pintu toilet itu saat nenutupnys menimbulkan suara nyaring yang mungkin saja memekatkan batin, Zac menatap wajahnya pada cermin yang terletak didalam toilet.
Wajah Zac yang biasanya berseri perlahan memudar dibalik rona kesedihan, guratan wajah tersenyum kini menurun dibalik lekatnya sendu gulana, bahkan mata yang selalu berbinar itu perlahan menghitam ditengah jatuhnya air mata.
"Argh!"
Teriakan kencang dari Zac, terdengar memantul didalam ruangan toilet kecil tersebut membuat suara tersebut bergema menghantam kembali dirinya, Zac frustrasi.
__ADS_1
Zac membasahi wajahnya dengan keran air membiarkan air tersebut memudarkan dan menyamarkan rentetan air matanya, setelah dia memilih duduk bersandar pada toilet tersebut dan menangkup wajahnya sendiri yang berurai air mata, Tuhan begitu pahit padanya.
Kenapa di saat dirinya merasakan kebahagiaan, Tuhan harus menempatkannya pada dua pilihan yang sulit, apa dosa Zac sebenarnya sehingga Tuhan mengujinya seperti ini.
"Kenapa harus aku! Kenapa!" teriak Zac tak karuan.
Sementara itu Markisa yang menyusul Zac terdiam dengan menutup mulutnya dibalik toilet mendengarkan semua keluh kesah Zac dalam diam, sefrutrasi itukah suaminya sekarang?
Hati Markisa hancur melihat suaminya sendiri dalam posisi yang sulit, batinnya terguncang, mereka berdua benar-benar diuji oleh Tuhan, dan entah kenapa Tuhan selalu menempatkan mereka dalam posisi yang sulit.
Zac kembali terdiam dalam tangis pelan, setelah teriakan nya yang menggema, dia mengusap air matanya, menundukkan kepalanya, terbelenggu perasaan frustrasi.
"Ini aku Kisa," jawab Markisa dengan suara pelan.
Zac bangkit mengetahui bahwa istrinya yang mengetuk pintu, dia menghela napas panjang sejenak mempersiapkan diri bertemu istrinya, Zac menatap wajahnya di cermin mengusap air matanya sehingga Markisa tidak khawatir tentang apa yang dia lakukan di toilet.
Setelahnya Zac merapihkan kemejanya dan berdeham sedikit sebelum kembali menghela napas, mempersiapkan diri dan langsung menggenggam gagang pintu toilet tersebut da membukanya sehingga kini ia bisa berhadapan langsung dengan Markisa.
__ADS_1
"Mas kenapa?" tanya Markisa berusaha bertanya kepada Zac tentang kondisi Zac.
"Tidak apa-apa sayang, kau sudah selesai? Kenapa kau berjalan kesini? Kalau kau jatuh bagaimana?" jawab Zac segera menarik Markisa kedalam gendongannya.
Markisa tahu Zac berbohong, dari mata merah, suara serak sudah jelas Zac habis menangis bahkan teriakan Zac sudah terdengar oleh Markisa.
"Mas yakin gapapa?" tanya Markisa yang membuat Zac tersenyum.
"Yakin, sayang, kita pulang yah," jawab Zac berusaha tersenyum tegar.
Markisa tahu, Zac dalam fase terluka mendalam, kini ada satu lagi hati suami yang patah dibalik wajah duka yang tersenyum, dan Markisa benar-benar merasa kasian kepada suami nya itu.
•
•
•
__ADS_1
TBC