
Halo Kak Jangan Lupa Tinggalkan Like dan Komen Agar Author Semakin Semangat Update :)
•
Zac segera mengangkat telepon dari Milo, namun saat sambungan tersebut terhubung, Zac tidak mendengarkan suara apapun disana melainkan hanya hening semata.
"Kak? Kak Milo?"
Berulang kali Zac menyebut nama Milo, namun bukannya jawaban melainkan hanya sebuah hening yang membuat Zac menautkan kedua alisnya.
"Kenapa Mas?" tanya Markisa pada Zac.
Zac mengangkat bahunya tidak tahu, ia kemudian segera memperbaiki posisi jas-nya dan memutuskan sambungan telepon tersebut. "Aku akan ke kantor Kak Milo sekarang,"
Markisa yang mengetahui bahwa ada yang tidak benar merasakan ada sesuatu buruk yang akan terjadi nantinya, sehingga ia menggenggam erat lengan Zac dan melarangnya kesana.
"Jangan, Mas, bisa saja kak Milo tidak sengaja memencet telepon tadi," ujar Markisa menahan kepergian Zac.
Zac tersenyum kemudian melepaskan tangan Markisa dari dirinya. "Gak mungkin sayang, aku dan Kak Milo ada sebuah kerjasama, mungkin tadi hanya gangguan sinyal, aku akan kesana sekarang,"
Markisa menatap ragu yang membuat Zac mengelus wajah istrinya kemudian turun mencium perut yang berisi calon anaknya.
"Daddy, berangkat dulu yah sayang, kamu jangan bandel sama Mommy-mu," bisik Zac seolah berbicara dengan bayinya. "Aku berangkat yah, sayang, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku,"
Zac mengecup puncak kepala Markisa kemudian berjalan keluar dari ruangan kerja Markisa, Markisa sendiri hanya melepas kepergian Zac dengan tatapan ragu dan khawatir.
Zac berjalan melewati koridor rumah sakit dengan langkah kakinya yang berdetak setiap kali sepatu vantoufel itu menjejakkan kaki di lantai koridor rumah sakit, sampai akhirnya Zac melewati pintu keluar dan melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobil.
Pit!
Suara autoclock yang ditekan oleh Zac yang tombolnya ada pada kunci mobil, menandakan bahwa mobil tersebut sudah bisa dibuka beriringan dengan menyalanya lampu penanda pada pojok kiri depan.
__ADS_1
Zac membuka pintu mobilnya dan memperbaiki posisi duduknya, ia memakai sabuk pengaman sebelum kedua jemari tangannya meremas pelan setir mobil yang berbalut kulit coklat.
Duk!
Suara pintu mobil yang tertutup menjadi penanda Zac menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pelan gas dibagian bawah, Zac memundurkan mobilnya guna keluar dari area parkiran sebelum memutar balik menuju area gerbang rumah sakit.
"Jam berapa ini?" lirih Zac melirik arloji di lengan kirinya. "Astaga sudah jam dua belas siang,"
Zac memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi melewati jalanan-jalanan disekitaran rumah sakit tersebut sampai akhirnya mobil yang dia kendarai memasuki jalan raya yang besar.
"Aku sudah terlambat untuk rapat penting bersama Kak Milo," panik Zac memasang hp-nya di stand dashboard bagian depan mobilnya kemudian membuka aplikasi chatting miliknya.
Disana banyak sekali panggilan dan pesan dari sekretarisnya yang membuat Zac semakin yakin kalau dia benar-benar terlambat.
Drtt!
Zac mengerem mendadak saat mobil didepannya berhenti karena lampu merah, jika saja telat, Zac sudah menabrak mobil didepannya karena panik.
Zac lirih sejenak melihat sosok Tapasya bersama dengan sosok wanita lainnya yang berpakaian serba hitam, Zac merasa pernah melihat wanita yang bersama Tapasya, namun belum sempat dia berpikir, suara klakson dari mobil dibelakangnya memaksanya untuk kembali menjalankan kendaraannya dikarenakan kondisi lampu lalu lintas yang sudah berwarna hijau.
Tidak lama didalam perjalanan sebelum mobil Zac belok ke sebuah halaman perkantoran milik Milo, Zac memarkirkan mobilnya kemudian masuk ke area kantor tersebut.
"Selamat pagi Tuan Rich," ujar seorang satpam yang membuat Zac mengangguk dan tersenyum.
Dikalangan perbisnis dan areanya menyebut nama seseorang dengan nama belakangnya merupakan hal yang biasa, begitupun dengan Zac yang memiliki nama asli Alzacrich.
"Tuan Milo ada diruangannya?" tanya Zac pada resepsionis yang bertugas dibagian depan.
"Tuan Milo ada diruangannya sejak jam sepuluh pagi tadi," jawab resepsionis tersebut.
"Okey terimakasih," Zac melangkahkan kakinya masuk kedalam salah satu lift.
__ADS_1
Di gedung berlantai lima ini, ruangan Milo berada dilantai tiga yang membuat Zac menekan tombol tiga ditombol lift tersebut dan sesaat setelah nya terdengar bunyi "bit" yang menjadi pertanda bahwa lift tersebut tengah bergerak naik.
Ting!
Lift tersebut terbuka dikoridor lantai tiga yang lebih tepatnya merupakan lantai dengan ruangan para staf utama, sehingga tidak heran jika ruangan tersebut cenderung sepi dan hanya dilalui beberapa cleaning service.
Zac berjalan masuk Kedepan pintu ruangan Milo, ia mengetuk pintu tersebut beberapa kali namun tidak mendapatkan jawaban yang membuat Zac tidak sengaja mendorong pintu tersebut.
"Tidak biasanya Milo tidak mengunci ruangannya," ujar Zac yang paham betul bahwa ruangan Milo sudah memakai smartdoor yang mengharuskan orang memakai accescard untuk masuk kedalamnya.
Zac berjalan pelan masuk kedalam ruangan tersebut dengan memanggil nama Milo dan betapa terkejutnya dia mendapati Milo sudah terbaring dengan luka dikepalanya.
"Kak Milo!" panik Zac kemudian berjongkok menghampiri Milo.
Ia bingung dan melihat sekeliling namun tidak menemukan apapun, Zac segera mengecek nadi dan detak jantung Milo yang masih berfungsi.
"Seharusnya pukulan dikepala tidak akan membuat seseorang pingsan, jika Kak Milo pingsan ini berarti dia mengalami luka yang serius," lirih Zac.
Baru saja Zac ingin meminta bantuan, Tapasya sudah berada diambang pintu dengan suara keras membuat Zac menatap ke arahnya.
"Zac! Apa yang kau lakukan!" teriak Tapasya yang membuat Zac berdiri.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Tapi tunggu bagaimana bisa kau ada disini, bukannya tadi kau ada di Cafe bersama seseorang?" ujar Zac menjelaskan.
"Jangan mengalihkan perhatian! Aku akan menelepon pihak kepolisian," teriak Tapasya mengambil ponselnya dan menelepon kepolisian.
•
TBC
visual Milo ganti yah kak
__ADS_1