
Markisa berjalan dengan langkah gontai dirumah sakit, hari ini adalah hari terakhirnya menjadi seorang dokter setelah ia mengetahui seberapa parah penyakitnya, dengan didampingi Zac, Markisa berjalan dengan langkah berat, gontai penuh keputus-asaan dikoridor tersebut.
Deru angin, hening, klentingan, derap langkah, bahkan napas yang menjadi standar struktur dari kehidupan manusia, terdengar latah di koridor itu.
"Ada apa?"
Markisa terkejut, saat ia ingin masuk ke ruangan nya di dalam ruangan tersebut sudah ada beberapa dokter, suster bahkan staff rumah sakit yang berdiri dengan bunga ditangannya.
Raut wajah mereka semua sedih, mereka akan kehilangan sosok Markisa yang humble, kuat dan selalu positif, mereka semua kemudian menaruh bunga itu di depan Markisa kemudian membungkukkan badan perlahan seakan memberi hormat.
Sang Dokter Kandungan yang berdedikasi akan gantung jas kedokteran, berhenti bukanlah kemauannya namun bertahan juga bukanlah pilihan.
"Terima kasih, Dokter Markisa," ujar mereka serempak.
Markisa menatap mereka dengan tatapan sendu menahan tangis, berat meninggalkan pekerjaannya, sebuah pekerjaan yang mulia menurutnya.
"Dokter Markisa, selalu mengajarkan kepada kami untuk menjadi nara kesehatan yang berdedikasi, karena kalau bukan kita yang mulai, maka tidak akan ada yang akan jujur dalam dunia ini, Dokter Markisa juga selalu mengingatkan kami, untuk selalu berpikiran positif, karena pemikiran negatif hanya ada untuk mereka yang selalu mengeluh," ujar Suster Rinso asisten Markisa.
Suster Rinso berjalan ke arah Markisa, dia memeluk Markisa seolah tidak ingin melepasnya, Markisa adalah orang yang sangat baik baginya, disaat dirinya terpuruk, butuh sesuatu bahkan berada dalam titik terendahnya, Markisa selalu ada untuk dirinya, sehingga ketika Markisa memilih berhenti, Suster Rinsolah yang merasa terpukul.
"Dokter adalah Dokter terbaik, sehat-sehat yah Bu Dokter, jangan sakit, soalnya susah nyari partner kayak Bu Dokter," ujar Suster Rinso menangis saat ia mengucapkan kalimatnya.
Markisa ikut menangis, batinnya terguncang, begitu banyak orang baik yang dia miliki, namun begitu sulit pula meninggalkan mereka semua, lima tahun dalam karirnya dia merasa sudah seperti menemukan keluarga baru, namun perpisahan menjadi suatu skandal dari segala penataan hidup Markisa.
Zac yang melihat itu membuang muka, dia tidak tega melihat kesedihan istrinya. Dia paham, Markisa selalu berkata bahwa membantu seorang wanita yang merupakan tahta tertinggi dalam lahirnya peradaban adalah sesuatu yang mulia.
"Jangan menangis suster, aku janji, ketika aku sehat kembali, aku akan kembali ke rumah sakit ini," jawab Markisa yang kembali mendapat pelukan dari suster Rinso.
Yang lainnya juga segera menghampiri Markisa, mereka memeluk Markisa satu persatu, memberikan Markisa semangat, karena dari hasil diagnosa laboratorium ternyata Markisa menderita Kanker Darah.
Depresi, setres, trauma dan ketakutan bercampur gundah gulana menghantam batin dab pemikiran Markisa, namun Markisa bersyukur dia memiliki sosok Zac disampingnya.
"Anda yang terbaik! Semangat Dokter!" teriak salah satu dari tenaga medis itu.
"SEMANGAT DOKTER MARKISA!" teriak yang lainnya yang membuat Markisa tersenyum.
Markisa kemudian melepas jas putih kedokterannya kemudian berjalan ke arah gantungan jas yang biasa dia pakai, kalau biasanya Markisa langsung menggantung nya. Namun tidak kali ini, Markisa merasa begitu berat karena besok sudah pasti dia tidak akan kembali lagi dirumah sakit ini.
__ADS_1
Markisa mencium jas putihnya, mengucapkan salam perpisahan kemudian berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil name tag miliknya, dan membalikkan nya.
Resmi!
Dokter Markisa Adena Mourt, kini sudah gantung dokter, Markisa memejamkan matanya, merasakan hangat angin beserta dingin nya takdir padanya, Zac merangkul Markisa yang membuat Markisa menatap Zac sejenak.
Zac mengode Markisa untuk segera pergi, Markisa tersenyum kemudian berjalan bersama Zac meninggalkan ruangan kerjanya, menutup mata dengan fakta dan kejadian yang ada.
Dan untuk kali ini, Markisa berjalan dengan kepala tegak dan penuh keyakinan bahwa dia akan kembali ke rumah sakit ini dalam keadaan sehat, seiring dengan ingatannya yang kembali berputar saat dia pertama kali bekerja disini.
"Tuhan tidak akan menguji hambanya begitu berat dan akan aku pastikan, aku akan kembali," batin Markisa tersenyum tegar.
•
•
•
"Hei! Kamu anak baru kan? Di kantor ini ada sistem Junior dan Senior dan sebagai Junior kamu harus nurutin apa perintah aku sebagai senior," ujar seorang wanita dengan nama Vixal di namatag-nya.
Trtt!
Vixal membalikkan kursi Aran yang memiliki roda di kaki nya sehingga kini Aran menatap ke arah Vixal.
"Kamu dengerin aku gak?"
"Emang jabatan Tante apa?" tanya Aran sinis kemudian kembali fokus kepada laptopnya.
"Berani yah kamu nanyain jabatan sama aku? Aku senior kamu! Kerjain laporan ini sekarang, aku mau hari ini selesai," ujar Vixal melemparkan map kepada Aran yang tidak digubris Aran.
"Vixal Aurelia, nama yang bagus, sesuai dengan sifatnya, PEMBERSIH KLOSET, aku curiga Tante lahirnya di kamar mandi," jawab Aran melempar map milik Vixal ke tempat lain.
Vixal yang geram dengan sikap Aran padanya langsung menutup laptop Aran dan membuat Aran kesal karena laporan itu tidak sempet dia selesaikan.
Brak!
Aran menggebrak meja, membuat seisi divisi menatap ke arah Aran dan Vixal. Aran kemudian mengambil map Vixal dan menjejalkannya ke dada Vixal dengan keras.
__ADS_1
"Dengar Tante! Aku tidak peduli senior atau apapun Tante disini, selagi Tante bukan boss-nya tidak akan ada yang bisa menyuruh dan memerintahku, sampai sini paham?" ujar Aran dengan nada menohok. "Sekarang menjauh dari hadapanku. Atau aku akan memastikan Tante dipecat dari kantor ini,"
"Siapa kau?" ujar Vixal.
Aran mengangkat alisnya sebelah kemudian mengambil ponselnya, ia kemudian menelpon nomor Milo yang langsung diangkat oleh Milo.
"Halo Aran? Ada apa?" tanya Milo saat telepon tersebut tersambung.
"Halo, SAYANG! Ada tikus dimeja kerjaku Om," jawab Aran sengaja menggunakan kata 'Sayang' yang membuat Milo kikuk.
"B-baik, nanti Om bakal suruh Cleaning Service kesana," jawab Milo gugup.
"Terima kasih, Om," jawab Aran mematikan telepon tersebut.
Vixal berdiri gugup, siapa sangka Aran memiliki akses dengan Boss Besar, Aran tersenyum kemudian menarik leher Vixal mendekat ke arahnya.
"Bagaimana Tante? Masih ingin bermain?" tanya Aran dengan nada berbisik.
Vixal tidak menjawab dia langsung pergi dari sana meninggalkan Aran yang tersenyum penuh kemenangan, Vixal yang merasa malu berjalan menuju pantry sampai seorang wanita memegang pundaknya.
"Kau siapa?"
"Tapasya, aku melihatmu memiliki masalah dengan gadis yang baru bekerja itu, bagaimana kalau aku menawarimu sebuah pekerjaan,"
"Apa?"
Disaat keduanya sedang mengobrol mereka tidak sadar bahwa Aran mengikuti Vixal tadi karena melihat Tapasya yang menyusul Vixal ke Pantry.
"Oh rupanya dua bedebah ini ingin bermain permainan monopoli? Okey kita lihat siapa yang akan menang," gumam Aran yakin.
•
•
•
TBC
__ADS_1