
Sesampainya di rumah sakit, Milo dan Markisa kembali memapah tubuh Zac keluar dari mobil, Markisa berteriak pada semua dokter yang ada disana, hal itu membuat beberapa tenaga medis datang dengan membawa brangkar untuk Zac.
Milo menidurkan Zac dibangker tersebut yang langsung dibawa oleh beberapa tenaga medis tersebut ke sebuah ruangan, Markisa dan Milo menyusul namun mereka tidak bisa masuk, Markisa dan Milo duduk diruang tunggu.
Markisa masih saja menangis sedangkan Milo hanya menatapnya serius, setelah sedikit tenang, Milo kemudian segera memulai pembicaraannya dengan Markisa.
"Kenapa kau begitu sedih? Bukankah ini yang kau mau? Kau lupa rencana kita? Membuat Zac menderita, Apakah kau cinta padanya?" tanya Milo yang membuat Markisa menatapnya tajam.
"Bisa gak kak, gausah bahas itu dulu, menghancurkannya memang keinginanku, tapi bukan begini caranya, Tuan Zac mempertaruhkan nyawanya demi aku, dan apakah harus aku tersenyum untuk itu," jawab Markisa dengan nada yang cukup tinggi.
"Sudah kuduga kamu akan jatuh cinta padanya, setelah semua yang kita lakukan," sinis Milo yang membuat Markisa berdiri.
"Kenapa kalau aku jatuh cinta pada suamiku sendiri, apakah aku salah?" ujar Markisa menunjuk Milo.
"Iya salah! Dia yang menghancurkan hidupmu jadi ini sudah sepadan! Kenapa kau harus menangisinya, harusnya kita tidak selamatkan dia," teriak Milo ikut berdiri.
Markisa menatap Milo dalam, air wajahnya menyiratkan sebuah kekesalan yang mendalam terhadap kakaknya, walaupun mereka terikat perjanjian tapi bukan begini caranya, Markisa meraih pundak Milo dan tersenyum getir dihadapannya.
"Tidak kusangka, hati kakak sebusuk itu, kakak ingin aku meninggalkan Zac? Okey aku akan meninggalkannya, sudahi perjanjian kita, tidak perlu menunggunya jauh lebih cinta padaku, akan aku tinggalkan sekarang," lirih Markisa yang membuat Milo terdiam.
Markisa kemudian melepaskan Milo dan berjalan kembali ke tempat duduknya sampai seorang dokter keluar dari sana.
__ADS_1
"Keluarga Pasien?" tanya Dokter tersebut pada Markisa.
"Aku Istrinya," jawab Markisa pada Dokter yang dia kenal itu.
"Markisa? Jadi Tuan Zac suamimu? Begini Kis, keadaan suamimu baik-baik saja, hanya suhu tubuhnya sedikit menurun, mungkin akan tidak sadarkan diri dalam beberapa waktu,"
Markisa menghembuskan napas lega dia menatap Dokter yang juga sahabatnya itu. "Terimakasih Sof, apakah aku bisa melihatnya?"
Dokter yang memiliki nama lengkap Softexia Villea itu mengangguk yang membuat Markisa berjalan masuk kedalam ruangan rawat Zac disusul oleh Milo.
Zac masih tidak sadarkan diri, Markisa berjalan ke arah Zac dan memeluk tubuh suaminya itu erat, dia menggenggam erat tangan Zac dan membisikkan sesuatu di telinga nya.
"Kau bodoh Tuan! Aku membencimu! Kenapa kau melakukan ini untukku!" bisik Markisa. "Kau terlalu baik untuk aku sakiti, aku harap kau mendengar ini, bahwa aku mencintaimu, maafkan aku harus pergi, semoga kau mendapatkan sosok yang lebih baik dariku, kau memang menghancurkan hidupku, namun kau tidak pantas untuk sehancur ini,"
"Jadi sekarang bagaimana keputusanmu?" tanya Milo pada Markisa
Markisa berpikir sejenak, karena hatinya kembali Dilema atas pertanyaan itu. "Aku ingin pergi dari kota ini,"
Milo menatap dalam adiknya itu, ia mengangkat alisnya sejenak kemudian tersenyum simpul. "Kau yakin?
"Bukankah ini yang kakak inginkan? Aku tidak ingin menghancurkannya lebih dalam lagi," ujar Markisa melirik Zac yang belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Dan pernikahanmu?"
"Aku akan mengajukan gugatan perceraian, kembali menata hati dan melupakan dendamku," jawab Markisa agak ragu.
Milo menatap Markisa serius, kemudian mengangkat bahunya atas jawaban Markisa, ia masih tidak habis pikir kenapa Markisa menyerah untuk menghancurkan Zac, padahal dari awal ketika mereka berhasil menghancurkan Dove, Tango dan Dairy, Zac adalah target terakhir dan yang utama.
"Pikirkanlah lagi, balas dendam mu akan selesai, Dove dan Tango sudah menerima ganjaran, sedangkan Dairy mungkin sudah menemui tuhan sekarang," jelas Milo berusaha membujuk Markisa.
"Aku bingung dengan pola pikir kakak, tidak semuanya harus berasaskan dendam, dan aku belajar itu beberapa menit yang lalu," jawab Markisa menolak Milo.
"Kau siap meninggalkan suamimu? Menata hati tidak semudah itu Kisa," ujar Milo memegang pundak Markisa.
"Tapi akan semakin sulit jika hati yang akan ku tata melihat orang yang sudah menyelamatkan nyawaku hancur," jawab Markisa melepaskan tangan Milo.
"Katakan padanya, aku mulai mencintainya," lanjut Markisa berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Zac dan Milo disana.
Lebih baik meninggalkan Zac sekarang setidaknya Zac akan move on dan belum terlalu jatuh mencintainya, daripada meninggalkannya nanti yang akan membuat dia patah hati.
Markisa benar-benar sudah merevisi semua keinginannya.
•
__ADS_1
TBC