
Markisa menatap surat lab yang dipegang Zac, hatinya seketika gusar, ia ingin mengambil surat tersebut dari tangan Zac namun ditahan oleh Zac yang langsung membaca isi hasil lab itu.
Markisa menunduk pasrah saat Zac mulai membaca isi dari hasil lab Markisa, Zac menautkan kedua alisnya dan menatap Markisa dalam.
"Kenapa tidak bilang?" tanya Zac menatap Markisa yang menundukkan kepalanya.
Zac menatap getir, netranya membulat manakala membaca bahwa Markisa di diagnosa sulit hamil karena masalah pada rahimnya, Markisa semakin menundukkan kepalanya, setetes air mata jatuh di kedua pelupuk matanya yang membuat Zac membuang muka.
Zac kemudian mengangkat dagu Markisa, membiarkan wajah istrinya itu menatapnya, air mata menetes dari kedua sudut matanya, membuat Zac mengusap air mata itu menggunakan jempolnya.
"Jangan menangis, sayang," ujar Zac meraih Markisa kedalam pelukannya. "Tidak ada yang perlu kau tangisi, kau sudah berjanji untuk tidak menangis lagi kau ingat?"
Markisa membenamkan wajahnya di dada Zac dan terisak disana, Zac mengusap puncak kepala Markisa dan mengecupnya perlahan.
"Aku tadi akan marah dengan keadaanmu, kita lalui semuanya bersama, jangan takut, ada aku disini, kamu tidak sendiri, apapun keadaanmu, semuanya akan baik-baik saja,"
Zac mengambil kepala Markisa dan menangkup kedua pipinya sementara jempol nya mengusap air mata istrinya itu.
"M-Maafkan aku, aku tidak bisa memberikanmu keturunan," jawab Markisa frustrasi.
"Ini baru diagnosa bukan keputusan bahwa kau tidak bisa hamil, kemungkinan itu masih ada, sekecil apapun kemungkinannya tidak akan menutup kemungkinan yang ada, promise?" ujar Zac menjulurkan kelingking kepada Markisa.
Markisa tersenyum dan menautkan kelingkingnya pada kelingking Zac, sesaat kemudian Zac menarik Markisa kedalam gendongannya dan mendudukkan di kursi.
Markisa mengikuti semua mau Zac, Zac mengambil sendok dan membuka kotak makanan yang dia bawa dan mulai menyuapi Markisa, Markisa hendak menyuapi Zac balik namun Zac menolak.
__ADS_1
"Kenapa? Tuan tidak lapar?" tanya Markisa mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Aku lapar, tapi aku hanya ingin kamu," Zac menarik wajah Markisa dan mengecup bibir istrinya itu singkat.
Selanjutnya Zac kembali menyuapi Markisa, mereka menghabiskan waktu makan siang dengan makan bersama, sesekali Markisa mendapat ciuman dari Zac, setelah selesai Zac segera pamit pada Markisa karena dia akan kembali ke kantornya.
"Jam lima sore aku jemput, semangat kerjanya sayang," ujar Zac mengecup puncak kepala Markisa kemudian mengambil jas yang dia tadi lepas.
"Baik," jawab Markisa membenarkan posisi dasi Zac.
Zac berjalan keluar dari ruangan Markisa, Markisa hanya menatap kepergian Zac yang menghilang dari pandangannya kemudian kembali memikirkan sosok Tapasya, Markisa berjalan mondar-mandir memikirkan sosok Tapasya itu, sampai tidak sengaja dia menginjak selembar foto yang dia tidak tahu milik siapa.
"Kak Milo? Tapasya?" lirih Markisa melihat sosok difoto tersebut.
Markisa menautkan kedua alisnya bingung tentang hubungan Tapasya, Milo, Zac dan Mertuanya. Markisa kembali menatap foto tersebut dan duduk di kursi nya, bagaimana bisa foto tersebut ada disini. "Apa mungkin ini punya Tapasya,"
"Ternyata kau tidak bisa hamil?" ujar Nyonya Bay pada Markisa. "Aku sudah mendengar percakapan kalian, dasar menantu tidak tahu diuntung, kau sudah menyusahkan dan mencuci otak Zac,"
"Dan kau mertua yang tidak bermoral, kau sudah tua dan tak kunjung mati," sinis Markisa melipat kedua tangannya.
Sebenarnya Markisa tidak ingin berdebat lagi dengan mertuanya, hari ini saja dia sudah tiga kali terlibat masalah dengan mertuanya itu.
"Jaga ucapanmu," ujar Nyonya Bay.
"Apakah anda perlu cermin, Nyonya?" Markisa berjalan ke arah Nyonya Bay dengan senyum sinisnya. "Anda layaknya seperti binatang seperti ini, anda ingin dihormati? Sepertinya anda harus kembali ke bangku sekolah dasar,"
__ADS_1
"Bukankah pelajaran tata krama diajarkan dari sana?" lanjut Markisa.
Nyonya Bay hendak membalas namun segera ditahan oleh Markisa yang menempelkan jari ke bibirnya. "Hust! Hust! Jangan bicara lagi, aku ada urusan penting dari pada berdebat dengan mertuaku,"
Markisa berjalan melewati Nyonya Bay dan dengan sengaja menyenggol pundak Nyonya Bay. "Ups! Sistem senggol menantu bukannya sudah anda terapkan? Bagaimana kalau ku buat sistem senggol mertua?"
Markisa tersenyum sini kemudian meninggalkan Nyonya Bay disana, kini tujuan Markisa adalah mencari Tapasya, pasti Tapasya sedang mencari fotonya, dan benar saja Tapasya ada di koridor seperti seseorang yang kehilangan barang.
"Kau mencari ini?" tanya Markisa menyodorkan foto Tapasya dan Milo.
Tapasya yang melihat itu segera mengambil foto tersebut dari Markisa dan tersenyum sumringah, Tapasya tampak senang sekali dan berterima kasih kepada Markisa.
"Ini satu-satunya foto kenangan ku bersama Kekasihku, kami sudah berjanji bahwa tidak akan pernah menikah dengan orang lain, namun aku mengkhianati janji kami, aku tidak tahu bagaimana kabarnya, semoga dia belum melupakanku," ujar Tapasya menaruh foto tersebut ditasnya.
"Pria itu Kekasihmu?" tanya Markisa dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Iya, kenapa?" tanya Tapasya pada Markisa.
"Dia kakakku," jawab Markisa yang membuat Tapasya membulatkan netranya lebar.
•
TBC
Crazy up gak nih?
__ADS_1