Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 90 | Pertanyaan Satu Juta Dollar


__ADS_3

Aran tengah sibuk dengan laptopnya, tampak deretan notifikasi pesan dari grup kelasnya menanyakan bagaimana praktek kerja Aran yang Aran sendiri serasa enggan melakukannya, harusnya ini sudah selesai namun karena orang yang akan Aran dapati Milo, benar-benar membuat Aran kesal.


Bagaimana tidak, dia bertingkah sembarangan dihadapan Aran, bahkan Aran sendiri serasa sudah dilecehkan padahal yang direbut hanya ciuman pertamanya.


Ting!


Suara bel dari pintu kamar hotel tempat Aran menginap selama di Odense, Denmark, membuat Aran bangkit untuk membuka pintu bagi seseorang yang menekan bel itu, Aran menutup laptopnya dan berdiri dengan langkah gontai menuju pintu hotel tersebut.


"Siapa ... Tante?"


Aran memicingkan mata saat mengetahui bahwa yang menekan bel-nya adalah sosok dari Tapasya. Kini Tapasya menatap Aran datar, bukan lagi wajah Tapasya yang ramah dan hangat dipandang, melainkan Tapasya yang seolah menyimpan segudang kebencian.


"Kamu siapanya Milo?" tanya Tapasya meraih tangan Aran dan mencengkramnya kuat.


Aran tersentak, ia merasakan cengkraman ditangannya sedikit membuat tangannya memanas, bagaimana tidak Tapasya mencengkram seolah dia tidak mengenggam tangan manusia.


Aran memberontak pelan, dia melepaskan tangannya dari Tapasya sehingga berhasil dan terlihat jelas bahwa ada tanda merah ditangan Aran.


"Maksud Tante apa sih? Datang-datang, nanyain aku sama Om Milo ada apa mana kasar gini lagi," protes Aran yang mengelus tangannya pelan.

__ADS_1


"Gausah sok polos kamu, kamu kan yang udah buat Milo berubah," bantah Tapasya yang membuat Aran menautkan kedua alisnya tidak habis pikir.


"Hah? Kami aja baru ketemu hari ini, bagaimana bisa, aku aja gak tahu loh nama Tante siapa, dan ada hubunga apa dengan Om Milo, tapi aku tahu kalau hubungan Tante gak baik-baik saja. Itu berarti ada yang salah dengan diri Tante, kenapa gak coba instrospeksi sebelum mengajukan kesalahan kepada orang lain?" jelas Aran yang membuat Tapasya menatapnya tajam.


Tapasya menarik napas panjang kemudian membuang muka, enggan menatap wajah Aran yang kali ini menatapnya tajam.


"Tidak biasanya Milo seperti ini, dan tadi suang, dia betemu denganmu dan terlihat mesra, pasti kalian ada hubungan kan?" ujar Tapasya yang membuat Aran melipat kedua tangannya kesal.


"Tante gak waras sih," ujar Aran dengan nada penuh penekanan yang membuat Tapasya memusatkan atensi pada Aran.


"Apa maksud kamu!?" tanya Tapasya kesal.


Tapasya menarik kembali tangan Aran namun kali ini Aran segera menepisnya dan mendorong Tapasya menjauh darinya.


"Dasar kau perusak hubungan orang, pasti orang tuamu tidak pernah mendidikmu!" sinis Tapasya yang meluapkan kekesalannya kepada Aran.


Aran yang geram langsung menarik kerah Tapasya dan menyudutkannya ditembok, Tapasya terkejut atas reaksi Aran kepadanya, Aran menatap Tapasya dengan wajah malas dan kesal.


Kini mata Tapasya dan Aran saling bertemu pandang, sebenarnya Aran malas dengan segala permainan seperti ini, sudah dia jelaskan dalam-dalam bahwa dirinya tidak.ikut campur dalam urusan percintaan Milo dan Tapasya, tapi tampaknya Tapasya ingin memulai genderang perang jadi jangan salahkan Aran jika dia menyambut genderang itu.

__ADS_1


"Dengerin ini, pertama apapun kesalahan aku, apapun tingkah laku aku, apapun keburukan aku, itu adalah diriku, orang tua aku udah ngajarin aku tata Krama, jadi kalau aku buruk dimata Tante berarti ada yang salah dengan otak Tante, atau meskipun kalau aku seburuk itu, jangan pernah bawa-bawa orang tuaku, Bunda dan Papa udah ngajarin aku cara jadi orang, dan stigma negatif dari Tante ini udah gak bisa aku tolerir dan yang terakhir aku bukan perusak hubungan orang!" kesal Aran yang membuat Tapasya terdiam.


"Oh aku tahu! Tante takut Om Milo mencari pengganti Tante, aku kasian, segitu cintanya kah? Sampai di perjuangin pun gak, Tante cinta gak selamanya indah Tante," lanjut Aran melepas kerah Tapasya.


Aran berdiri menatap sangar Tapasya, tampaknya Tapasya sudah salah memilih lawan, dia membangunkan sosok singa yang tertidur, apalagi Aran adalah representasi sosok Nanas ibunya yang tidak gampang tertindas.


"Bagaimana? Masih mau bermain?" tanya Aran melipat kedua tangannya.


Aran kemudian melangkahkan kaki masuk kedalam kamarnya meninggalkan Tapasya dikoridor itu kemudian membanting pintu keras yang membuat Tapasya tersentak.


Aran menghembuskan napas panjang saat berada didalam kamarnya, dia harus menyiapkan mental dan taktik dari sekarang karena Tapasya tidak begitu saja menyerah dan Aran bisa membaca itu dari raut wajahnya.





TBC

__ADS_1


__ADS_2