
Zac yang sedang membawa Markisa ke rumah sakit disusul oleh Milo dan Tapasya yang mengikuti Zac, Markisa memegangi perutnya didalam mobil, sedikit keram yang membuat dirinya sendiri bingung.
"Mas? Sakit," Markisa lirih menatap Zac.
Zac menatap Markisa balik dan mengelus kepala istrinya itu, Zac mempercepat laju kendaraannya menuju rumah sakit terdekat dengan keadaan panik.
"Tenang! Kita akan segera sampai," jawab Zac berusaha menguatkan Markisa.
Zac menyesali keegoisannya membuat Markisa terjatuh seperti ini, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Markisa, yang terpenting kini dia harus segera membawa Markisa ke rumah sakit.
Sementara itu dibelakang sana Milo dan Tapasya yang mengikuti Zac hanya bertanya-tanya akan kondisi Markisa sebenarnya.
"Apa Markisa hamil?" tanya Tapasya pada Milo.
"Pernikahan mereka baru berumur satu minggu, bagaimana bisa?" jawab Milo pada Tapasya.
"Gaada yang gak mungkin, bisa aja kak Tuhan ngasih mujizat ke Markisa, aku yakin dia hamil, soalnya gejala yang dia alami seperti orang hamil," Tapasya yang kekeuh dengan pendiriannya.
"Kalaupun hamil, kapan? Sedang Markisa pertama kali melakukan begituan hanya dengan Zac sehari sebelum pernikahan mereka," jawab Milo. "Lebih baik kita menyusul mereka saja daripada berspekulasi seperti ini,"
Tapasya yang mendengar ucapan Milo hanya diam dan membiarkan Milo berkendara dengan tenang menyusul Zac yang berada didepannya.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Zac memasuki halaman rumah sakit, Zac segera memarkirkan mobilnya acak dan keluar dari mobil membopong tubuh Markisa.
__ADS_1
"Dokter!" teriak Zac saat berada dilobby rumah sakit tersebut.
Seorang dokter keluar dan melihat wajah panik Zac, segera menginstruksikan Zac untuk membawa Markisa masuk kedalam ruangan periksa, Zac menggendong Markisa mengikuti sang dokter masuk kedalam ruangan periksa.
"Bisa taruh disini, Pak," ujar dokter tersebut yang membuat Zac meletakkan tubuh Markisa diranjang periksa.
Milo dan Tapasya yang menyusul segera masuk kedalam ruangan periksa tersebut dan menemui Zac yang sedang berdiri panik didalam sana.
"Bagaimana keadaan Markisa?" tanya Milo yang membuat Zac menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu," jawab Zac menatap dokter tersebut memeriksa Markisa.
Markisa yang tadi merasakan nyeri diperutnya mulai berangsur menghilang yang membuat Markisa berhenti meringis, dokter tersebut kemudian sudah selesai memeriksakan kondisi Markisa dan mengajak Zac dan Markisa untuk berbicara di meja kerjanya.
"Maksudnya?" tanya Zac bingung.
"Istri bapak tengah mengandung dan masih berumur tiga hari, awalnya saya ragu menyimpulkan mengingat usia untuk memastikannya paling tidak dua minggu, tapi dari semua hasil pemeriksaan istri bapak tengah mengandung, kandungannya cukup lemah jadi harus diperhatikan," jawab dokter tersebut.
"Jadi benar Markisa hamil!?" tanya Milo terkejut.
Zac membinarkan matanya, dia menggenggam pundak Markisa dan memeluk istrinya itu, Markisa yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar hanya terdiam tanpa suara saat Zac memeluknya.
"Kau hamil sayang! Kau berhasil! Kau membuatku jadi pria yang paling beruntung hari ini," ujar Zac mencium puncak kepala Markisa.
__ADS_1
Markisa yang masih belum mengeluarkan ekspresi apapun hanya terdiam dengan bibir bergetar. "A-Aku Hamil?"
"Iya Ibu, Ibu tengah mengandung," jawab dokter tersebut.
Markisa terdiam dan mengulas senyuman seiring netranya mengeluarkan air mata, dia tidak menyangka bahwa dirinya akan hamil dalam waktu yang begitu singkat mengingat penyakit yang dideritanya saat ini.
Zac berdiri dan membawa Markisa kedalam pelukannya dan tidak berhenti menciumi istrinya itu. "Zac Junior!"
"Kau Dokter Kandungan yang menyebalkan, kau hamil dan kau tidak tahu?" kesal Milo melipat kedua tangannya yang membuat Tapasya menyenggolnya.
Markisa hanya terdiam, dia sulit mendeskripsikan bagaimana rasa bahagianya hari ini, jika dia ditanya seberapa bahagia dia saat ini, dia akan menjawab bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan yang tengah dia rasakan kali ini.
"Sekarang kita harus Meminta penjelasan kepada Mama dan Papa, kabar kehamilanmu, takkan menghentikan aku," ujar Zac merapikan jas-nya yang menbuat Markisa menggenggam tangan Zac.
"Apapun fakta yang akan Mas dapatkan kedepannya, aku mohon jangan marah, mereka adalah orang tua kandung Mas, walaupun nanti aja ada kebenaran lainnya," pinta Markisa yang membuat Zac mengangguk.
Setelahnya Zac dan Markisa berterima kasih kepada dokter tersebut dan berjalan keluar ruangan disusul Milo dan Tapasya, kini tujuan mereka adalah Tuan Ryzam dan Nyonya Bay, meminta penjelasan dari segala pertanyaan.
•
TBC
__ADS_1