Pengantin Pengganti Duda Diktator

Pengantin Pengganti Duda Diktator
BAB 89 | Pilihan Markisa


__ADS_3

Setelah mendengar kalimat dan penjelasan dari Dokter Softexia, batin Zac serasa terguncang, apa yang sedang dihadapi istrinya benar-benar hal yang bukan main lagi.


Dokter Softexia berjalan meninggalkan Zac dan membiarkan Zac menemui Markisa yang sudah menunggu nya di dalam, Markisa sendiri sudah tahu apa yang terjadi padanya, namun Zac, apakah dia bisa menerima semua kenyataan ini.


Zac berjalan masuk kedalam ruangan tempat Markisa di periksa, dia berjalan dengan langkah rapuh, seolah semua diagnosa itu akan menjadi kenyataan, apakah ini yang dinamakan overthinking?


"Sayang?" panggil Zac yang membuat Markisa menatap ke arahnya.


Ekspresi wajah Markisa tidak tertebak seolah dia menyimpan sebuah kegundahan batin saat batin dan pikirannya bersatu padu dan membuat dirinya gontai dalam ringkuhan angin.


"Mas? Maafin aku," ujar Markisa memeluk Zac yang kini tengah berdiri di tepi ranjang.


Wajah Zac mendatar, sorot matanya memancarkan kekuatan, namun hatinya tidak bisa berbohong bahwa kini hati dan pikirannya dipenuhi pemikiran negatif.


"Jangan menangis sayang," ujar Zac bersimpuh dihadapan Markisa sehingga posisi mereka kini saling sejejer.

__ADS_1


"T-tapi,"


Zac menutup bibir Markisa dengan telunjuknya menatap Markisa dalam seolah memberikan dia kekuatan bahwa semuanya sedang baik-baik saja, munafikkah Zac? Dia mencoba memberikan kesan baik-baik saja sedang hatinya sendiri gunda memikirkan semua ini.


"Apapun yang terjadi, kamu kuat, aku ada untuk kamu," jelas Zac menghapus air mata dikedua sudut mata Markisa.


Wajah tegar Markisa memudar, si wanita tangguh kini patah hati. Jika kali ini kehamilannya gagal. Maka dia tidak akan memiliki anak lagi, karena rahimnya yang bermasalah.


"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi sayang, ini hanya diagnosa, belum tentu akan terjadi, jangan memikirkan apa yang terjadi, tapi pikirkan apa yang sekarang ada, kamu kuat dan anak kita kuat," jelas Zac mengenggam erat tangan Markisa.


Benar-benar sebuah antisipasi rasa kuat dari suami untuk istrinya, Zac benar-benar tidak ingin istrinya merasa tertekan, untuk saat ini.


"Kau yang bilang kan? Seorang wanita jika sudah menjadi istri itu hebatnya bukan main, apalah arti seorang suami, yang kerja dari pagi sampai malam, sedangkan seorang istri dari dia membuka mata sampai menutup mata lagi dan kembali membuka mata, pekerjaannya gak selesai-selesai, dan hebatnya semua istri bisa melakukan itu, jadi berikan aku satu alasan kenapa kau menyerah begini?" tanya Zac yang membuat Markisa tertampar sendiri.


Zac tahu apa isi hati istrinya, gundah, gelisah, overthinking, takut, dan kecewa pada dirinya sendiri, membuat semua perasaan pesimis menghinggapi hatinya, namun sudah tugas Zac sebagai suami mengingatkan istrinya bahwa dia hebat, memberikan semangat bahwa semua yang istrinya lakukan itu terbaik dan memberikan keyakinan bahwa semua nya hanya diagnosa dan tidak akan terjadi.

__ADS_1


Markisa mengambil napas panjang kemudian menghelanya pelan, dia menatap langit-langit rumah sakit, kalimat Zac semuanya benar, dia Adalah wanita kuat. Lantas apa alasan nya ingin menyerah pada takdir, semuanya hanya perkiraan dan Markisa kini meyakinkan dirinya bahwa semua perkiraan itu akan meleset.


"Tapi Mas, aku punya satu permintaan," ujar Markisa yang membuat Zac menatap wajahnya.


"Apa?"


"Kalau memang semua diagnosa itu terjadi, aku mohon jika Mas dihadapkan dua pilihan, selamatkan bayi kita,"


Deg!


Zac tersentak.



__ADS_1



TBC


__ADS_2